Tapi Buka Dulu Topengmu*

Kudapat melintas bumi
Kudapat merajai hari
Kudapat melukis langit
Kudapat buatmu berseri
*

Topeng Monyet dapat melakukan apa saja. Ia bisa pergi ke pasar, beribadah, menjadi rock star, bersepeda, bahkan menyembunyikan wajanya di balik kepala boneka manusia. Tetapi Si Monyet tak pernah bebas. Selalu ada rantai besi di lehernya, tertambat di tangan seorang pawang. Pawang memegang kendali. Menarik, mengulur, dan menghentak rantai yang kadang berkarat tersebut kapan pun ia mau. Saya selalu bertanya-tanya, pernahkah Si Monyet tercekik? Tidakkah lehernya lecet tergores rantai? 

Saya lalu jadi tidak menyukai Topeng Monyet, terutama setelah tahu para monyet dicuri dari habitat mereka, kemudian dilatih tanpa belas. Biasanya atraksi Topeng Monyet diiringi alat musik semacam gamelan. Nada-nadanya selalu mengambang secara magis, konstan, dan monoton. Kesan mengerikan menjadi lebih kuat. Maka saya tak pernah mau mampir menonton Topeng Monyet.

Parompong-20121003-00041_1349271351831_n



Hingga pada suatu hari, ketika kebetulan sedang lewat, dari dalam angkot saya melihat monyet dan pawang Topeng Monyet sedang mengaso. Sang Pawang duduk bersila dan Si Monyet duduk di sebelahnya. Tuntutan panggung yang biasanya mengusung mereka kendur. Pawang tak lagi terlihat seperti penguasa, dan Si Monyet tak lagi terlihat seperti yang terjajah. Mereka duduk bersisian berbagi kelelahan. Sesaat kemudian Si Pawang mengeluarkan sepotong roti lalu membelahnya sama besar. Ia dan Si Monyet makan bersama seperti sahabat.

Angkot saya melaju, tetapi saya masih berusaha memperhatikan interaksi Si Monyet dan pawangnya. Tahu-tahu ada perspektif yang sama sekali berbeda di kepala saya. Bagi Si Pawang, monyet itu bahkan tak seperti binatang peliharaan. Saya teringat pada anjing kesayangan saya di rumah, masih ada jarak tuan-majikan yang tegas di antara kami. Sementara Si Monyet dan Si Pawang adalah teman satu tim. Mungkin karena hidup begitu keras bagi mereka, atraksi Topeng Monyet dan segala kontroversinya adalah satu-satunya cara bertahan hidup yang mereka betul-betul kenal …

Saya tidak membawa kamera untuk memotret interaksi itu. Namun kepala saya selamanya merekam dan menyimpannya …

Tapi buka dulu topengmu,
buka dulu topengmu
Biar kulihat warnamu,
kan kulihat warnamu
*

Namanya Topeng Monyet. Topeng selalu menyembunyikan sesuatu, maka kita tak sungguh tahu apa yang tersembunyi di baliknya.

Di antara asumsi dan penghakiman, ada jurang pemisah yang mungkin gagal kita lompati …

Sundea

*dicuplik dari lagu Topeng – Peterpan

0 comments: