Di Sela Waktu Bersama Pak Ra(mai)Ti(dak)M(asalah)

Ketika sedang berjalan-jalan di Ibu Kota bersama Om Em, sahabat Dea, tiba-tiba perhatian Dea tersangkut pada seorang penjahit keliling yang sedang merapat ke trotoar. 

pakratim1

“Pak ngejaitnya boleh sambil ngobrol-ngobrol, nggak?” tanya Dea tanpa basa-basi.
“Boleh aja,” sahut Pak Penjahit itu santai.
“Namanya siapa, Pak?”
“Ratim.”
“Nama lengkapnya …?”
“Ratim doang … eh … tapi nggak pake doang …”
Dea tergelak.



Pak Ratim berasal dari Krawang. Sudah empat tahun lebih ia bekerja sebagai penjahit keliling di Jakarta. Konon 60 persen pemuda Krawang memang bekerja sebagai penjahit. Di Ibu Kota, mereka saling membantu. “Saya juga belajar sendiri ini ngejait, diajarin temen,” cerita Pak Ratim. Ketika ditanya jahitan apa yang paling ia suka, jawaban Pak Ratim seadanya, “Seneng jait apa aja, pokoknya yang bisa …”

jaitan pak ratim

Penghasilan Pak Ratim per hari tidak menentu. Bisa mencapai seratus ribu rupiah, atau “sekedar buat makan” jika sedang sepi. Ketidakpastian itulah yang membuat Pak Ratim memilih meninggalkan istri dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil di kampung. Kendati begitu, ia rutin menjenguk keluarganya terkasih setiap 25 – 30 hari sekali.

Bukan hanya soal penghasilan, rute keliling Pak Ratim setiap hari pun tidak tetap. “Kadang dari Gg Kancil, sampe Ampera, Gg 70, Gg Jawara, malah sampe Pejaten kalau masih siang,” tuturnya. Dapat berjalan-jalan ke mana-mana adalah salah satu alasan yang membuat Pak Ratim senang menjadi penjahit keliling. “Jadinya nggak jenuh karena nggak di satu tempat doang kayak yang jait di garmen. Kalau kayak saya, jait sebentar, terus bisa pergi lagi.”

Di sela-sela mewawancara, Dea melihat seutas kabel menjulur dari sela-sela kemeja Pak Ratim.

kabel

“Itu kabel apa, Pak? Hands free telpon atau earphone?” tanya Dea.
“Oh, irpon,” sahut Pak Ratim.
“Wow. Suka dengerin lagu apa, Pak, sambil keliling?”
“Nggak dengerin lagu.”
“Jadi yang didengerin apa?”
“Nggak dengerin apa-apa.”
“Nggak dengerin apa-apa?” Dea masih tidak mengerti.
“Iye. Kaga ada yang didengerin. Cuma biar jangan terlalu berisik aja. Jalanan kan bising banget noh. Kalau pulang, capek keliling, sore-sore, masih bising juga kan puyeng. Ada ini di rumah, jadi saya pake aja,” papar Pak Ratim sambil menunjuk ujung earphone yang ternyata tidak dicoloknya ke mana-mana.

gakdicolok

“Hah? Jadi buat nyumpel kuping doang nggak dengerin apa-apa? Lucu banget, sih …”
“Emang ngapa?” Pak Ratim balik bertanya seakan tak ada yang aneh dengan caranya mengatasi kebisingan Jakarta.
Dea tak dapat menahan tawa. Mungkin sesungguhnya Pak Ratim mempunyai nama panjang: Ra(mai) Ti(dak) M(asalah).

pakratim2

Jahitan Pak Ratim rampung. Pak Ratim mengembalikannya kepada Sang Pemesan, sementara Dea menyudahi wawancara dan kembali melanjutkan perjalanan bersama Om Em.

Ketika kami tengah berjalan, tiba-tiba sepeda Pak Ratim melintas peris di sebelah kami, “Masih jalan terus nih padaan?” tanyanya tanpa menghentikan sepeda. Ada earphone di sela-sela telinganya.

Dea memperhatikan Pak Ratim yang mengayuh sepedanya menjauh. Sebelum ia menghilang ditelan jarak, Dea sempat memotretnya. 

pakratimlewat

Entah bagaimana, saat itu Dea seperti dapat melihat sapaannya tersangkut di pepohonan dan jatuh bertebaran di jalan beraspal.

Sundea

2 comments:

BeluBelloBelle mengatakan...

hebatnya cara orang-orang bertahan ya Dea, bikin kaget en gak nahan buat ketawa kadang but that's the way it is - to be or not to be ;)

lalabohang mengatakan...

bapak yang berpikiran simpel saja merasa jkt kebisingan ya ...

selalu suka kalau dea nulis topik begini :)