Mengintip Rahasia Dapur Wayang Pak Oteng

“Wayang saya bukan wayang yang kering di dengkul,” kata Pak Oteng.
“Kering di dengkul? Maksudnya gimana, Pak …?” tanya Dea sambil tersenyum kecil. 

wayang1

Kita simpan dulu perkara “kering di dengkul” ini. Saya akan jelaskan nanti setelah menceritakan siapa Pak Oteng. Pak Oteng adalah pengrajin wayang golek asal Cileunyi, Bandung. Sejak tahun 1970 ia sudah mulai menggarap wayang. “Dulu ada gurunya, saya belajar dari dia,” cerita Pak Oteng. 

Ia kemudian jatuh cinta pada wayang golek. Hingga saat ini ia terus mengrajin dengan kasih dan kesungguhan. “Kalau sudah kenal pahit manisnya ya begini, Neng,” ungkapnya sambil tersenyum simpul. Manis adalah bertemu dengan pembeli yang menghargai hasil karyanya, sementara pahit adalah ketika wayang golek buatannya jatuh dan pecah. “Perasaan saya juga hancur, soalnya bikinnya kan hati-hati,” ujar Pak Oteng.




pakoteng

Satu wayang dibuat dalam tempo paling cepat satu minggu. “Lama, Neng, soalnya kayu jenjen yang panjang itu dipotong dulu, dikupas, baru dibentuk … didiemin dulu … dicat … ditunggu kering,” Pak Oteng menjelaskan proses pembuatan wayangnya dengan ekspresif. “Wayang saya bukan wayang yang kering di dengkul,” lanjutnya.

Menurut Pak Oteng, wayang yang kering di dengkul adalah wayang yang dibuat terburu-buru hingga abai akan hasil maksimal. Bagi Pak Oteng, kualitas adalah segalanya. Ia bahkan pernah membuat wayang yang sengaja tidak dicat. Entah apa alasannya. 

gadiwarna

“Kalau ini wayang apa, Pak?” tanya Dea ketika melihat boneka-boneka tangan tiga puluh ribu rupiah yang berjajar di meja. Mereka bukan bukan tokoh-tokoh wayang lokal, melainkan lakon kisah-kisah internasional. Di sana saya mendapati tujuh kurcaci sampai Angry Bird. “Ini pesenan orang Belanda,” kata Pak Oteng.

siboneka

Beberapa tahun yang lalu, ketika sedang berjualan wayang di Puncak Pass, seorang dari Belanda tertarik pada wayang Pak Oteng. Ia meminta Pak Oteng memproduksi boneka tangan dengan lakon tokoh dongeng internasional, kemudian menjualkan kerajinan Pak Oteng itu di Belanda.

“Hasilnya lumayan nggak, Pak?” tanya saya.
“Ya … itulah, Neng, pahit manis,” sahutnya sambil tersenyum penuh rahasia. Entah apa maksudnya.

Dari antara seluruh tokoh wayang, favorit Pak Oteng adalah Semar dan Kresna.
“Kenapa, Pak?” tanya saya.
Tiba-tiba Pak Oteng mencubit tangan saya. “Neng sakit kan kalau dicubit? Saya juga. Tapi Semar dan Batara Kresna punya ajian. Jadi nggak sakit …”
“Jadi gara-gara itu aja, Pak? Udah?”
Pak Oteng mengangguk mantap.

Padalarang 2-20120923-00022

Menurut Pak Oteng, agak sulit mencari calon penerusnya. Bahkan darah dagingnya pun enggan belajar membuat wayang golek. “Capek katanya,” Pak Oteng menyampaikan alasannya. Kendati begitu, Pak Oteng tak lantas merasa apa yang ia kerjakan sia-sia. Kasihnya kepada wayang golek membuat wayang-wayang itu tak pernah sekadar tergolek. Ia menitipkan hidupnya sendiri di sana.

Ketika ditanya apa yang paling berharga dari profesinya, Pak Oteng menjawab. Sederhana namun penuh keyakinan.

“Yang paling penting, Bapak udah seneng dan cinta sama wayang golek. Semuanya sudah diatur Tuhan, Bapak hanya ngadakan barangnya …”

Wayang Pak Oteng berjajar di belakang penciptanya. Mereka yang tidak kering di dengkul selalu tegak berdiri karena tak punya dengkul …

Sundea

0 comments: