Obrolan Tarsundea di Sebuah Perjalanan Pendek

Ketika saya masuk ke dalam taksi, sang supir menangkap mata saya melalui spion. 


“Ke mana, Mbak?” tanyanya dengan logat Jawa Tengah yang kental.
“Ke FX, Pak …,” sahut saya.
Sekitar sepuluh menit pertama, kami tidak mengobrol apa-apa. Saya mengamati seisi taksi hingga tatapan saya terhenti di depan tanda pengenal Pak Supir. Tarsun. Namanya lucu.




“Bapak namanya Pak Tarsun, ya?” tanya saya.
“Iya, Mbak.”
“Artinya apa?”
“Tartar itu kan artinya Negeri Cina. Sun … ya Mbak tau sendiri. Jadi Tarsun artinya mencium negeri Cina,” papar Pak Tarsun.
Saya tersenyum sedikit geli.

“Saya ini asalnya dari Kebumen, Mbak. Pernah ke Kebumen?” tanya Pak Tarsun sambil kembali menatap saya dari kaca spion.
Saya membalas tatapannya sambil menggeleng.
“Kebumen itu enak, Mbak. Jalannya gede-gede. Tapi di sana nggak ada kerjaan, makanya saya ke sini.”

Ternyata sudah 16 tahun Pak Tarsun mengadu nasib di ibu kota. Sejak awal, ia langsung menjadi supir taksi. “Saya ini tua di ban, Mbak,” begitu istilah yang dia ungkapkan. Meski punya dua puteri dan seorang isteri, Pak Tarsun tak rutin pulang ke kampung. 


“Lebaran saja saya nggak selalu pulang, kalau uangnya ada aja. Itu juga biasanya saya pulangnya naik motor kalau …”
“Hah? Motor? Berapa jam, tuh?” saya memotong kalimat Pak Tarsun.
“Dua belas jam, Mbak, pakai berenti-berenti, sih, biar nggak capek.”
Kemudian Pak Tarsun melanjutkan kalimatnya yang tadi terpotong oleh saya, “Kalau mau naik motor jauh-jauh, ada tips dari saya.”
“Apa?”
“Jangan pakai celana jeans. Kalau panas, pantatnya bisa kayak kebakar. Saya kira tadinya juga bisa lebih nahan dingin, ternyata enggak. Lebih enak pakai celana bahan,” ujarnya.
Saya mencatat tipsnya.

Pak Tarsun tak ingin memboyong anak-istrinya ke Jakarta. Bukan karena tidak rindu, tapi karena menurutnya pendidikan di desa lebih baik daripada di kota. Kok bisa? 

“Kalau anak-anak saya sekolah di Kebumen, yang jaga banyak. Jadinya aman. Anak saya nggak akan macam-macam atau kenapa-kenapa. Kalau di kota saya lebih khawatir, nggak ada yang jaga kecuali saya sendiri sama isteri,” ia menyampaikan alasannya. 

bantuan sahabat

Beberapa saat sebelum sampai di FX, iseng-iseng saya bertanya. “Pak, kepengen nggak, sih, betul-betul ngesun negeri Tartar?”
“Ah, ya … nggak mungkin … mau dapet duit dari mana?”
“Rejeki kan bisa dari mana aja, Pak, kita nggak pernah tau,” tanggap saya sambil tersenyum.

Kami tak dapat melanjutkan obrolan karena saya harus segera turun dari taksi. Apakah kelak Pak Tarsun akan betul-betul mencium negeri Tartar? Saya tidak tahu. Tetapi yang pasti, di atas ban yang selalu mencium aspal, Pak Tarsun melanjutkan perjalanan usianya. Menjadi “tua di ban”.

Pak Tarsun belum sampai mengesun Tartar, tetapi rotasi yang teratur menjaganya di dalam sebuah tatar …

Sundea

1 comments:

Nia Janiar mengatakan...

Waduh, seru juga arti namanya..