Selamat Mengarungi Ketidakterbatasan Misteri, Anto Arief …

antoand70s Sebagian besar dari kita mungkin tidak asing dengan Mas-mas berkumis yang sering beredar ini. Namanya Anto Arief alias Antruefunk. Selain sebagai musisi, ia pun dikenal dengan drawing-drawingnya yang khas.

Setelah “Groovin’ Mixtape”-nya di Common Room beberapa tahun silam, pada tanggal 27-29 April 2012 lalu ia kembali menggelar pameran di Bandung, tepatnya di Loubelle Shop, Jalan Setiabudi 56. Judulnya “Antara Cinta, Benda Terbang Aneh, & Psikedelia” yang juga merupakan peluncuran EP 70’S Orgasm Club, “Supersonicloveisticated”.

Seperti sebelumnya, pameran Anto masih menggabungkan musik dan drawing serta dikemas dalam konsep yang tidak biasa. Mari kita ikuti obrolan yang mengalir random-random enggak ini … 




Anto, cerita dong tentang konsep pameran lo ini …
Kenal Dimas Local Drug Store, nggak? Nah. Nggak sengaja dia ngasih liat foto UFO dia. Dari pertama gua langsung jatuh cinta dan pengen ngejadiin foto itu cover gitu. Serunya lagi, selain gambarnya, Si Dimas ini sering liat UFO di langit, sering motret nggak sengaja, sampai dia suka freak out sendiri, “Kalau gua diculik gimana? Musti lapor ke siapa?”

Sambil jalan, gua mikir. Kalau fotonya Dimas cuma gua jadiin cover, kan biasa banget. Akhirnya gua jadi kepikiran kenapa nggak gua bikin karya aja? Gua merespon satu gambar itu dengan teknik segala macem (Anto meng-cover foto Dimas dalam sepuluh teknik. Kesepuluh jenis cover itu dipamerkan dan menjadi cover EP 70’s Orgasm Club). Gua sempet ngobrol juga sama Agung Djenong (kurator Selasar Sunaryo), terus Djenong nyuruh gua ngembangin lagi hubungan UFO dengan musik gua. Gua gali-gali lagi, terus gua nemuin kalo “cinta, benda terbang aneh, dan psikedelia” adalah ketiga obyek yang bisa jadi benang merah UFO sama musik gua.

Hmmm … jadi gimana tuh hubungannya?
Si UFO jadi pop culture di taun 70an. Terus ketiganya itu kan berhubungan erat sama psikologi seseorang. Sama pikiran. Dan sampe saat sekarang, itu masih jadi misteri. Gua sempet baca Jung. Dia juga ngebahas UFO dari sisi psikologi. UFO yang diliat orang berhubungan erat sama memori yang dia punya sebelumnya. Kayak paling heboh kan UFO itu pas taun 50an, abis perang dunia ke-2.

Kalo cinta dan psikedelia?
Kalo cinta dan psikedelia emang refrensi dari gua. Gua sendiri kan terpengaruh sama lagu soul. Psikedelia yang pasti mabok. Warna-warni. Kalo liat cover band pop-rock psikedelik taun 60-70an itu kan warna-warni. Sesuatu yang nggak pasti. Manusia mungkin memang seneng ngerayain misteri. Nah. Gua ngambil semangatnya. Kayak lagu “Love Bus” kan gua bikin karena gua sebel berita tv jelek-jelek semua. Lirik lagu gua kan “Love Bus … I’ll take you higher”. Jadi gua bikin pengandaian, kita pergi ke tempat yang tinggi, naik bus cinta, ninggalin semua. Love busnya kebaikan, gitu …

Ooooh … begitu. Btw, kenapa cuma tiga hari pamerannya?
Pertama-tama karena tempat. Loubelle kan toko. Tapi kenapa gua tetep milih Loubelle? Karena Loubelle itu tempat alternatif. Karya yang gue bikin itu lebih kayak … urban art kali, ya, makanya gua nyari tempat yang agak netral. Kalau di galeri-galeri kayak Selasar misalnya nggak begitu cocok. Terus untuk musiknya, gua nggak pake panggung dan alat band gua lebih kayak instalasi. Intinya, panggung itu merespon kan. Jadi karya gua nggak cuma lukisan tok berenti di situ. Gua pengen karyanya dipamerin, dan gua pengen manggung dengan merespon karya gua. Gua juga ngundang 4 band, dan gua minta semuanya ngerespon 70’s Orgasm Club. Caranya bisa dengan ngebawain lagunya 70’s Orgasm, 70an, ato lagu mereka sendiri yang ada hubungannya sama taun 70an. Musisi yang gua undang semuanya favorit gua. Ada Nada Fiksi, The Triangle, Tulus, & Hightime Rebellion

Ngomong-ngomong, konser lo kemaren katanya juga konser terakhir 70’s Orgasm Club, ya?
Iya, kemaren sesudah manggung terakhir sama Endy dan Rio, kok malah jadi sentimentil gitu. Mungkin karena dua bulan latiannya intens banget. Senin-Kamis latian terus. Kemaren tuh manggung paling enak yang pernah gue rasain. Gua jadi nggak kebayang besok-besok kalo gua nggak bareng mereka kayak apa, ya.

Kenapa harus konser terakhir atuh kalo begitu?
Kan 70’s Orgasm itu dari taun 2004, tapi nggak punya tujuan yang jelas dan tim manajerial yang bagus. Emang karena kitanya juga, sih. Kadang udah ada yang mau bantuin, malah kitanya yang nggak jelas dan nggak punya arah. Kita bisa tiba-tiba rekaman, terus manager kita nggak kita kasih tau. Dulu yang mau managerin kita Vira, managernya Mocca.

Iya? Hahaha … impulsif banget yak kalian?
Ya gitu. Terus ada satu titik gua resign dari kerjaan gua. Tapi pas gua mutusin untuk fokus, anak-anak nggak bisa ngikutin karena mereka udah punya keluarga, udah punya kesibukan yang lain. Terus gua juga main musik untuk hidup, sementara mereka sendiri bukan orang yang nggak bisa hidup tanpa main musik. Gua juga tau gua nggak bisa memaksa anak-anak untuk sefokus gua. Terus ada temen yang punya channel ke i-Tunes dan baik banget mau ngebayarin kita rekaman buat EP dan full album. Dan sebenernya yang gua lakuin sekarang, gue pengen nerusin perjuangan anak-anak karena gua masih ngebawa nama 70’s dengan materi mereka. Dan untuk 70’s, gua masih mau ngeluarin album penuh sampe gua bisa pastiin nggak ada album ke dua.

Ke depannya kalo lu sendiri berencana gimana?
Gua nggak akan pake nama 70’s Orgasm Club lagi karena 70’s itu gua, Endy, dan Rio. Lagian sekarang gua sendiri lagi penasaran sama lirik Indonesia, sama lagu yang lebih mature. Gua juga mau bikin lagu yang lebih nyanyi. Yang bisa dibawain solo, yang lebih nge-funk. Gua antusias dengan apa yang akan terjadi nanti.

To, lo pengen liat UFO nggak?
Enggak. Gua nggak pengen diculik.

Lah kenapa? Liat aja kan lucu. Kayak lo liat helikopter lewat, gitu.
Nggak mau. Misalnya lo suka film horor kan nggak berarti lo kepengen juga liat setannya. Eh, tapi gua pernah liat bola santet. Ada bola api, De, bola api gitu terbang di belakang kampus gue.

Seriusan? Jangan-jangan itu UFO, lho …
Bukan. Katanya sih itu ada orang ngirim santet. Kalo UFO sih gua belom pernah liat …

Hahaha. Baiklah. Kayaknya ini pertanyaan terakhir, nih. Salamatahari edisi ini kan temanya “Menatap Langit”. Apa yang ada di bayangan lo kalo denger judul itu?
Tidak ada batas, tapi sejuk. Awan biru bikin jadi tenang untuk mencapai apapun di sana. Langit biru itu jauh, tapi bukan sesuatu yang menakutkan. Awan biru itu bikin yang tanpa batas itu jadi meneduhkan.

Jadi lo optimis ya ngadepin apapun yang nanti akan terjadi ke depan?
Banget.

Baiklah. Makasih, ya, To. Eh … ini tadi kerekam nggak ya sebenernya?
Itu di-hold, lho, sama Dea …

Hah? Waduh …

Untungnya terekam, Teman-teman. Ternyata hal-hal yang terjadi dalam hidup kadang-kadang memang misteri dan keajaiban. Meski alat rekam tersebut tak sengaja di-hold dan mengalami rangkaian salah pencet, ternyata wawancara terekam lancar jaya adanya … hehehe …

Paket EP “Supersonicloveisticated” 70’s Orgasm dan informasi lebih lengkap dapat diintip di sini. Silakan jajan, Teman-teman … =)

Sundea

foto dirampok dari Eros Marnalaman

0 comments: