Fafermoon Fuffet, Liping Room, dan Bubuy Bulan*

Papermoon Puppet bertandang ke Bandung

-Bandung, 18, 19, 22 Maret 2012-
 
Ambilkan bulan, Bu, ambilkan bulan, Bu
yang s’lalu bersinar di langit …

-Ambilkan Bulan, Bu cipt. A.T Mahmud


… dan jika Sang Ibu tidak sanggup mengambil bulan di langit, apa yang harus dilakukan Si Anak? Memaksa Ayah? Terbang sendiri? Atau gigit jari saja karena pada kenyataannya bulan tak mungkin diambil dari angkasa?



“Papermoon Puppet artinya bulan dari kertas,” ujar Maria Tri Sulistiyani (Ria), founder teater boneka Papermoon Puppet. Ketika bulan di langit tak mungkin diraih, kita selalu dapat menciptakan bulan versi kita sendiri dengan bahan yang disediakan ruang. “Bulan kertas kesannya nggak penting. Tapi sesuatu yang kecil dan sederhana bisa menjadi sesuatu yang besar,” lanjut Ria.

Sejak tahun 2006, Ria dan suaminya Iwan Efendi mulai merintis “bulan kertas” mereka. Ketertarikan pada teater boneka membuat keduanya bekerja sama membuat boneka untuk dipentaskan. Bahan-bahannya tidak mahal. Mulai dari koran, kardus, busa, sampai kresek. Meski awalnya meniru gaya teater boneka bunraku dan kuruma ningyo dari Jepang, papermoon puppet akhirnya berkembang dengan gaya mereka sendiri; personal dan tetap “Indonesia”. Konsistensi dan keterampilan merespon ruang mengantar Ria dan Iwan ke segala penjuru dunia. Mereka pun sampai berkesempatan bertemu dengan seniman-seniman boneka terkenal seperti tim Sesame Street. 


Pada tanggal 18 Maret – 15 April 2012 ini, Papermoon Puppet menggelar serangkaian acara di Bandung. Dibuka dengan presentasi dan pementasan kecil di Ruang Depan S14 (18/03), cerita seputar residensi di Galeri Geriliya Raden Patah (19/03), workshop boneka di Ruang Depan S14 (21-22/03), dan pameran “Living Room” beserta video pementasan mereka, “Mwathirika”, yang harus ditonton dari luar kardus. Penasaran kan? 


“Living Room maksudnya ruang yang hidup. Bisa hidup karena ada interaksi,” ungkap Ria mengenai tajuk pameran Papermoon Puppet yang berlangsung hingga 15 April mendatang di Ruangdepan S14. Karya yang mengisi galeri bersifat interaktif. Ada boneka yang tidur di dalam peti kaca namun boleh kita mainkan, serta boneka yang dapat bergerak-gerak jika kita menarik tuas-tuas yang bergelantungan di kurungan rotan. “Nggak semua tuasnya berfungsi, ada juga yang ‘jebakan’,” ujar Iwan sambil tersenyum kecil. Kenapa harus ada jebakan? Menurutmu …?


Ruang selamanya menghadiahi kita kasih sayang. Ketika kita membalas sapaannya, dia memberikan kita segalanya untuk membuat apa saja dan mengantar kita ke mana saja. Jika ingin membuat bulan pun, kita tak perlu terpaku pada langit. Kertas bersedia menjadi bulan di tangan kita dan kita dapat terbang setinggi langit bersamanya.

Kalau sudah begitu, masih perlukah anak-anak meminta ibunya mengambilkan bulan dari langit? 

 
Sundea

*judul hanya ingin bergaya kesundasundaan karena acara ini digelar di Bandung. Tidak terlalu ada hubungannya dengan keseluruhan artikel, jadi jangan dipikirkan terlalu serius =)

3 comments:

cassia vera mengatakan...

suka sekali ini : "Ruang selamanya menghadiahi kita kasih sayang. Ketika kita membalas sapaannya, dia memberikan kita segalanya untuk membuat apa saja dan mengantar kita ke mana saja."

iwan effendi mengatakan...

ruang kadang2 suka menjebak...jadi jangan memaksa ruang...setiap ruang punya sejarah, cerita dan fungsinya sendiri...

Sundea mengatakan...

@Cassia Vera: Terima kasih =)

@Mas Iwan: setuju, jangan maksa ruang. Kompromi aja biar sama-sama nyaman =)