Bukan Iklan Kopi Kapal Api

- Jumat, 09 Maret 2012-

Orang-orang berbondong-bondong turun dari angkot Cicaheum-Ledeng yang saya tumpangi. Kendaraan umum itu menjadi sedikit lega. Pada saat itulah saya baru menyadari uniknya cover yang membungkus jok depan angkot tersebut. Penasaran, saya yang tadinya duduk merapat dengan jendela belakang beringsut-ingsut ke dekat jok depan.


“Pak, bungkusnya keren banget deh. Bikin sendiri?” tanya saya pada Pak Supir.
“Iya, Neng, iseng-iseng aja itu mah,” sahut Pak Supir agak malu-malu.
“Berapa lama bikinnya?”
“Keitungnya mah sebentar. Paling dua hari. Itu juga cuma kalo lagi nggak narik. Kalau narik ya simpen dulu,” papar Pak Supir yang ternyata bernama Pak Munawar itu.

 


Ternyata diam-dian supir angkot yang dikaruniai enam orang anak ini gemar membuat kerajinan dari bungkus-bungkus bekas. “Di rumah ada tas, ada rompi, topi, pokoknya mah macam-macam, Neng. Anak-anak sama istri saya juga suka bikin. Jadi suka bikin barengan,” cerita Pak Munawar. Meski pengrajin barang-barang dari bungkus plastik cukup marak, Pak Munawar dan keluarga tak berminat menjual hasil karya mereka. Berkali-kali ia menegaskan, “Itu mah cuma hobi, Neng …”


Bungkus kopi Kapal Api yang dianyam Pak Munawar diperoleh dari warung kopi langganannya. “Biasanya di sana dikumpulin sampai banyaaaakkk … terus saya tukar (dengan harga) dua ribu juga mau,” ungkap Pak Munawar. Ia memilih bungkus Kapal Api bukan tanpa alasan. “Saya suka warnanya. Kalau bungkus Indomie kan terlalu rame,” begitu katanya.

Sementara Pak Munawar mengemudi, saya memotret-motret cover jok. Saya tersadar bahwa Kopi Kapal Api mempunyai tagline “Secangkir semangat untuk Indonesia”. Dengan menganyam berlembar-lembar bungkus Kopi Kapal Api, Pak Munawar seperti menganyam bercangkir-cangkir semangat. Saat itu, ia pun tengah duduk di atas semangat-semangat yang sudah dianyamnya.


Kapal api selalu berlayar perlahan namun pasti. Tak terburu seperti speed boat atau bergantung pada kekuatan mendayung seperti sampan. Kira-kira seperti itulah cara Pak Munawar mengemudi. Ia tak serakah menjaring penumpang, tapi tak juga bermalas-malasan. Ada semangat yang konsisten dalam perjalanannya melayari rute Cicaheum-Ledeng.

Di dalam hati saya menyanyi-nyanyi sendiri:

Lihatlah sebuah titik jauh di tengah laut
Makin lama makin jelas bentuk rupanya
Itulah kapal api yang sedang berlayar
Asapnya yang putih mengepul di udara …

editimix

Teman-teman, percayalah. Ini sama sekali tidak di-endorse oleh perusahaan Kopi Kapal Api …

Sundea

0 comments: