Pak Raden Bercerita

Di hari ulangtahun Pak Suyadi alias Pak Raden yang ke-79 pada 28 November lalu, teman-teman saya datang bertandang ke rumahnya. Karena satu dan lain hal, hari itu saya tidak bisa datang. Tapi Rizki, teman saya yang baik hati, berinisiatif menghubungkan Pak Raden dan saya via telpon.

“Pak Raden, pohon jambunya masih ada?” tanya saya.
“Hahahaha … ya ndak. Itu kan hanya di cerita,” sahut Pak Raden dengan suaranya yang khas.

pakradentelponan



Setelah saya selesai bertelpon dengan Pak Raden, Rizki mengajak. “Nanti kalau ada waktu kita kemari, yuk.”
“Yuk. Hari ini di sana kayak apa?”
“Ada beberapa kenalan Pak Raden yang dateng. Rumahnya rada sempit jadi ganti-gantian gitu. Dia berbusana lengkap, lho …”
“Oh, ya? Wow.”

drawinparaden Beberapa hari kemudian Rizki dan saya kembali menyambangi Pak Raden. Rumahnya sepi. Pak Suyadi pun hadir tanpa kostum. Namun ternyata ia tetap sosok yang sama dengan semangat dan produktivitas yang sama. Dengan penuh semangat, ia menunjukkan tumpukan drawing yang sedang diselesaikannya untuk rencana pameran tunggalnya tahun mendatang. “Wayang, tapi untuk anak-anak,” ujarnya.
Pak Raden juga sempat bercerita mengenai pengalamannya menggarap Si Unyil. “Saya dipanggil PPFN sekitar tahun 78-79. Waktu itu mereka kepingin bikin cerita anak-anak tapi Pak G.Dwipayana nggak mau kalau pemainnya manusia. Harus kartun. Akhirnya ya tercetus itu, gimana kalau pakai boneka saja. Beliau setuju.”
Perjalanan Si Unyil dan segenap warga desa Sukamaju bertolak dari sana. Pak Suyadi mendesain boneka-boneka yang dimainkan dengan tiga jari serupa wayang potehi. Agar tak terlihat datar, beberapa boneka utama diciptakan dalam beberapa ekspresi. “Tapi ada juga yang satu saja. Misalnya Pak Lurah. Dia nggak pernah sedih nggak pernah senang ya begitu saja,” kata Pak Raden alias Pak Suyadi

theunyils

Tokoh Pak Raden muncul belakangan karena merasa desa Sukamaju terlalu tenang. “Kalau di wayang, cerita Si Unyil nggak ada Kurawanya. Ada yang nggak beres kalau satu desa baik-baik semua,” ujar Pak Suyadi. Maka diciptakanlah tokoh bernama Raden Singomenggolo Jalmowono. “Singomenggolo artinya bagus, singa yang memimpin. Tapi Jalmowono kamu tahu artinya apa? Orangutan.” Saya tergelak.

Pak Raden adalah tokoh yang kikir, pemarah, tidak suka bergotong royong, berpenyakit encok pula. Tapi di lain pihak ia adalah sosok yang menyukai kesenian, pandai melukis, tahu dunia perwayangan, dan suka menyanyi. Tak ada sosok yang lebih cocok memerankan Pak Raden kecuali Pak Suyadi sendiri. Maka, lekatlah sosok Pak Raden dengan Pak Suyadi hingga saat ini. 

paksuyadi

“Pak Raden masih suka mendongeng?”
“Ya masih, cari makannya dari situ.”

Pak Raden bertualang dari satu mall ke mall yang lain, satu sekolah ke sekolah lain. Ia berkostum lengkap, mendongeng sambil menggambar. “Tanggal 9 Desember nanti saya mendongeng tentang korpusi, tapi nggak boleh menggunakan kata ‘korpusi’. Pokoknya bagaimana caranya anak-anak tahu kalau itu tidak baik,” ujarnya.

“Pak, kenapa pohon yang ditanem di rumah Pak Raden musti pohon jambu?”
“Ya itu kan cuma ceritanya …”
kostumpakraden

Lalu bagaimana jika ia adalah cerita itu sendiri? Legenda Pak Raden tak terpisah dari dirinya, berakar kuat pada passion-nya terhadap anak-anak dan ilustrasi. Pohon jambu yang nyata dan fiksi tidak lagi dapat dibedakan. Ia terus menancapkan akar, berbuah, dan tersebar dengan caranya sendiri. Di balik kostumnya, Pak Raden sesungguhnya tidak kikir berbagi apa-apa.

Di Jalan Petamburan III no. 27, Slipi, Jakarta, tertanam sebuah pohon serupa pohon jambu. 

Kini kamu tahu di mana pohon itu. Jangan ragu untuk merawatnya dengan kasih lalu memetik buahnya =)



Sundea

foto-foto: Rizki Ramadhan

2 comments:

Nia Janiar mengatakan...

Seru banget, Dea, bisa wawancara Pak Raden. Ingatan gue tentang Pak Raden tuh bener-bener fiktif yang gak bakal gue temui dalam keseharian. Klasik banget!

Sundea mengatakan...

Dia fiksi - nyatanya emang nyaris nggak ada batesnya, Ni.

Gue jadi inget film "Big Fish" ...