Kemon Everybody

“Ibu, Ibu, lihat, ada monster pohon. Jarinya banyak, kukunya lembek!” seru Anak Beruang.
Ibu Beruang melirik pohon yang ditunjuk anaknya lalu menghela nafas. “Itu bukan monster pohon. Itu pohon biasa dengan ranting dan daun-daun.”
“Tapi dia bisa bergerak,” kata Anak Beruang sambil mengamati Si Monster Pohon.
“Ranting pohon itu bergerak karena ditiup angin. Sudah. Jangan main-main saja. Kita kan masih harus mengumpulkan buah-buahan untuk makan malam kita nanti.” 

Anak Beruang melompat-lompat di belakang Ibunya. Ia tidak bisa berhenti bermain-main meski Ibu melarangnya.

“Ibu, lihat ada monster aku di sungai,” kata Anak Beruang sambil bercermin di permukaan sungai.
“Itu cuma pantulan wajah kamu sendiri,” kata Ibu sambil memetik buah-buahan.
“Tapi dia bergelombang-gelombang, Bu. Giginya keriting,” kata Anak Beruang sambil menyeringai.
Ibu menatap Anak Beruang sambil bertolak pinggang. “Coba lihat keranjangmu. Sudah berapa banyak buah yang kamu kumpulkan?”



Anak Beruang menengok keranjangnya yang belum sampai separuh penuh.
“Kenapa keranjangmu belum penuh-penuh? Karena kamu lebih sibuk mencari monster daripada buah-buahan. Ayo sana cepat cari buah. Berhenti bermain-main!” tegas Ibu Beruang.

Kali itu Anak Beruang agak menurut. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari monster-monsteran yang selalu muncul di sekitarnya. Ketika sekuntum bunga yang berkelopak ungu terlihat seperti monster, ia buru-buru menjauh. Ketika seekor kupu-kupu yang sayapnya seperti mata terlihat seperti monster, Anak Beruang menahan diri untuk tidak berlari-lari mengejarnya. Ia harus mencari buah. Bukan mencari monster.

Di tengah hutan, ia melihat sebuah kebun kecil yang dipagari tanaman rambat. Karena ingin tahu Anak Beruang menghampiri. “Siapa tahu di sana ada buah-buahan,” pikir Anak Beruang.

Ternyata kebun itu menarik sekali. Ada buah dan bunga warna-warni di sana. Tetapi ketika Anak Beruang hendak memasukinya, sekuntum bunga berbulu menggigit buntutnya.

“Aduh!” Anak Beruang memegangi buntutnya.
“Selamat datang di Kemon,” kata bunga berbulu itu. Ternyata ia bisa berbicara. Suaranya serak seperti penyanyi rock.
“Kemon apaan?” tanya Anak Beruang.
“Kebun Monster.”
“Hah?”

Spontan bunga dan buah warna-warni itu menjelma menjadi monster. Apakah mereka menerkam Anak Beruang? Ternyata tidak. Mereka malah menyanyi dan menari menghibur Anak Beruang. Anak Beruang sangat senang. Setelah mereka semua selesai menyanyi dan menari, Anak Beruang bertepuk tangan penuh semangat.

“Tadi itu lagu apa?” tanya Anak Beruang.
“Lagu monster. Kami adalah monster-monster yang suka menyanyi dan menari,” kata bunga berbulu yang sempat menggigit buntut Anak Beruang.
“Kalian bukan monster jahat?”
“Monster tidak selalu jahat, Beruang Kecil. Monster ada karena ada yang salah dalam prosedur pertumbuhan mereka. Itu saja,” kata sebuah monster berkepala tomat.
“Sebetulnya kami ini tumbuh-tumbuhan. Tapi ada yang salah dengan prosedur pertumbuhan kami. Maka … beginilah kami,” tambah sebuah monster yang kurus seperti pohon tebu.
“Karena senasib, kami berkumpul di Kemon ini. Setiap hari kami berpura-pura menjadi tumbuhan biasa. Karena menyanyi dan menari adalah hakikat kami, pada waktu-waktu tertentu kami mencipta lagu dan membuat tarian. Seru bukan?” kata bunga berbulu itu lagi.
Anak Beruang mengangguk-angguk. Menurutnya kehidupan monster seru sekali.

ilustrasiresized

Maka sepanjang siang itu Anak Beruang bersenang-senang di Kebun Monster. Ia menonton mereka menyanyi dan menari. Kadang ikut terlibat dalam tarian mereka. Bahkan membantu monster-monster itu membuat kostum-kostuman dari bahan apapun yang ada di sekitar mereka.

“Di dalam Bahasa Inggris ‘Come on’ artinya ‘ayo’. Bunyinya mirip dengan ‘Kemon’. Di sini kami pun mengatakan ‘ayo’ kepada siapa saja yang ingin bersenang-senang dan bermain,” kata monster berkepala tomat.

Tiba-tiba Anak Beruang tersadar. Bermain? Bukankah tadi ibu melarangnya untuk bermain?
“Kenapa Anak Beruang?” tanya monster berkepala tomat.
“Tadi Ibu menyuruh aku mencari buah, bukan bermain …”

Anak Beruang mengamati senja yang mulai turun. Sepertinya sudah terlalu sore untuk kembali mencari buah-buahan. Sebentar lagi hari akan gelap.

“Ajak saja ibumu menyanyi dan menari bersama kami atau setidaknya ceritakan tentang Kebun Monster,” usul bunga berbulu.
“Ia tidak akan percaya,” gumam Anak Beruang sambil menengok keranjangnya yang masih lowong.
Monster-monster di Kemon berhenti menyanyi dan menari. Mereka jadi ikut kebingungan.
“Kalau kamu mau, kamu bisa memetik kami,” usul monster berkepala tomat.
“Jangan, nanti kalian mati,” Anak Beruang menggeleng cepat.
“Tidak, Anak Beruang. Selama kamu tidak mencabut akar kami, kami akan terus tumbuh. Petik saja kami supaya kamu tidak dimarahi ibumu. Memetik kami hanya seperti mencukur bulu atau memotong kuku saja,” kata monster tebu.

Awalnya Anak Beruang agak ragu. Tetapi karena semua monster di Kemon menyodorkan bagian tubuhnya, Anak Beruang pun memetiknya.

Setelah keranjangnya penuh, Anak Beruang pamit pulang. “Kapan-kapan aku boleh bermain lagi ke sini kan?”
“Tentu saja,” sahut semua monster di Kemon kompak.
Anak Beruang tersenyum. Ia melambai lalu berlari-lari pulang.

Begitu Anak Beruang sampai di rumah, Ibu Beruang sudah menantinya di depan pintu. “Dari mana saja kamu?” tanyanya segera.
“Aku menyanyi dan menari dengan monster, Bu. Jadi mereka …,”
Ibu Beruang memicingkan matanya. Maka, Anak Beruang tidak melanjutkan ceritanya. Ia tahu Ibu Beruang tidak akan percaya.
“Setidaknya kamu membawa banyak buah pulang,” kata Ibu Beruang ketika melihat keranjang Anak Beruang.
“Tapi jangan dimakan,” ujar Anak Beruang.
“Lho, kok?”
“Mau aku tanam.”
“Baiklah. Ibu sudah mengumpulkan cukup banyak buah untuk makan malam kita. Tadinya ibu pikir kamu lupa mengumpulkan buah karena keasyikan bermain.”
Sebetulnya sih memang, batin Anak Beruang.

Ketika Ibu tengah menyiapkan makan malam, Anak Beruang berlari-lari ke kebun belakang. Ia segera menanam buah-buahan yang dipetiknya. Akankah mereka tumbuh menjadi monster? Atau menjadi buah biasa? Atau tidak akan tumbuh menjadi apa-apa?

Kadang, menanam seperti mengubur sebuah misteri. Tetapi misteri tidak selalu mengerikan. Adakalanya ia menyenangkan dan penuh kejutan.

Anak Beruang tidak takut kepada misteri. Ia juga tak takut kepada monster.

Sundea

Artwork: Diantra Irawan. Berapa banyak di antara kita yang tahu bahwa vokalis dan penulis lagu di band pop-jazz-noise bossanova Hollywood Nobody ini juga jago menggambar? Well, she is. Si Dea selalu suka pada tarikan garis berkarakter dan menyenangkan yang ditorehkan perempuan Cancer ini. Senang sekali mendapat hadiah gambar untuk Anak Beruang edisi “Monster”. Terimakasih, ya, Dian =)

Untuk tahu lebih banyak mengenai Hollywood Nobody: http://www.myspace.com/hollywoodnobody

Jika ingin menyambangi karya-karya Diantra: http://diantra.tumblr.com/

0 comments: