Karena Jelaga Setitik Rusak Dongeng Sebalanga

“Jangan percaya buku ceritamu,” kata Upik Abu kepada adik saya.
“Kenapa,” tanya adik saya dengan kening berkerut.
“Di dalam buku, takdir baik selalu berpihak pada kita. Tapi kenyataannya hidup tak selalu berakhir happily ever after,” kata Upik Abu pahit.
“Mungkin kamu belum sampai di akhir cerita, Pik, kamu belum bertemu Pangeran,” adik saya menduga-duga.
Upik Abu menggeleng sedih. menyangkal adik saya. “Aku sudah bertemu Pangeran. Aku juga sudah pergi ke pesta dansa. Tapi ternyata ceritanya sama sekali berbeda.”
Adik saya diam. Dia membiarkan Upik Abu menghela nafas sedalamnya, kemudian menghembuskan sebuah cerita yang berlingkup jelaga.




***

Upik Abu adalah gadis yang manis. Kemanisannya tak terbunuh apapun; tidak jelaga yang melingkupi wajahnya, tidak pakaian yang compang dan dekil, tidak tubuh kurus dan tangannya yang kasar dimakan kerja keras, tidak pula ibu dan dua saudara tiri yang memperlakukannya seperti pembantu. Tikus-tikus di rumahnya percaya suatu saat Upik Abu akan menjadi permaisuri pangeran.

“Kamu tokoh utama sebuah dongeng. Kita semua tahu akhir ceritanya,” kata Si Tikus penuh keyakinan.

Pada suatu hari kesempatan itu datang. Pangeran mengadakan pesta dansa untuk mencari permaisuri.

“Ini saatnya, Pik. Kamu harus berdandan secantik-cantiknya. Kalau kamu datang ke pesta, pangeran pasti akan memilih kamu,” kata Si Tikus.
“Masa, sih?” Upik Abu tak terlalu yakin.
“Iya. Sekarang, ayo kita membuat gaun yang bagus. Semua tikus di rumah ini akan membantumu.”
Ketika Upik Abu dan tikus-tikus sedang sibuk menambal dan menghiasi gaun, ibu tiri datang.
“Kamu sedang apa, Pik?” tanya Ibu Tiri.
“Membuat gaun untuk ke pesta dansa, Bu,” sahut Upik Abu riang.
“Sebaiknya jangan pergi.”
“Kenapa?”
“Pesta dansa itu tidak cocok untuk kamu. Kamu pasti dipermalukan di sana.” Kata Ibu Tiri. Tegas dan dingin. Setelah itu ia berlalu.

Upik Abu tampak kecewa. Tapi tikus-tikus kembali menyemangatinya, “Dia itu Ibu Tiri, Pik, tokoh antagonis dalam dongeng. Jadi jangan termakan kata-katanya.”
“Mungkin dia betul. Tempatku di rumah ini, bukan di istana,” ujar Upik Abu. Ia pergi ke kamarnya. Melamun dengan sedih hingga akhirnya jatuh tertidur.

Upik Abu tak tahu sudah lelap berapa lama ketika sebuah tangan lembut menyentuh pipinya. Perlahan Upik Abu membuka mata. Samar dilihatnya seorang ibu berwajah teduh tersenyum padanya.

“Ibu…ibu siapa,” tanya Upik Abu sambil mengerjap.
“Aku Ibu peri. Aku datang untuk membantumu jadi gadis paling cantik di pesta dansa,” sahut ibu itu dengan suara selembut petikan harpa.

Upik Abu duduk di atas tempat tidurnya, “Jangan membuatku berharap lagi, Bu.”

Ibu Peri membelai rambut Upik Abu dengan kasih. “Kalau harapan itu bisa diwujudkan, kenapa tidak? Kemari, Nak,” dengan lembut ibu Peri membimbing Upik Abu meninggalkan kamarnya, menuju taman. 
“Nah, sekarang tutup matamu, ya…” kata Ibu Peri sambil mengayunkan tongkatnya.
Upik Abu menutup mata dengan jantung berdebar-debar.
“Sim salabim…,” ucap ibu peri. 



Milyaran titik sinar mengelilingi seluruh diri Upik Abu. Taman jadi tampak seperti siang sebentar. Tikus-tikus yang sudah disihir jadi sais tercengang.

Sinar terus berputar dan berputar, kemudian jatuh ke tanah seperti debu-debu bintang. Dari balik sinar itu menjelma gadis cantik berpakaian kilau dan bersepatu kaca.

“Perkenalkan. Ini Puteri Upik Abu,” kata ibu peri.
Tikus-tikus henyak dari ketercengangannya lalu bertepuk tangan meriah.
“Sekarang, pergilah ke pesta dansa. Temui pangeranmu. Pulang sebelum pukul dua belas malam, ya,” pesan Ibu Peri sambil mengelus rambut Upik Abu lembut.
“Terima kasih, Bu, terima kasih banyak,” sahut Upik Abu. Tanpa disuruh dua kali, ia naik ke atas kereta kencananya yang berasal dari labu.

Malam itu istana dihias sangat indah. Oleh bunga, oleh hiasan warna-warni, dan oleh tamu-tamu yang cantik dan tampan. Suasana tampak meriah. Di setiap sudut terdengar tawa dan percakapan yang menyenangkan.

Kereta Upik Abu merayap lambat memasuki halaman istana. Selangkah demi selangkah pesonanya menyihir kemeriahan istana. Keindahan yang sudah lebih dahulu menetapi istana seperti tertelan oleh pesona Upik Abu. Samar terdengar suara berbisik-bisik.

“Siapa puteri cantik ini?”
“Mengapa kita tak pernah mengenalnya?”
“Mungkin dia datang dari negeri lain.”

Ketika Upik Abu melangkah memasuki pintu istana, dengan segera mata pangeran menatapnya lekat. Seperti tersedot, pangeran menghampiri Upik Abu.

“Puteri cantik, maukah Puteri berdansa dengan saya?”ajaknya.


Upik Abu tentunya tak menolak. Ketika pangeran menggenggam tangan Upik Abu erat, Upik Abu balas menggenggamnya. Mereka pun berdansa mengelilingi istana.

Sudah pukul setengah dua belas ketika seorang puteri lain menghampiri pangeran dan Upik Abu.

“Saya Puteri Regina. Bolehkah saya berdansa dengan pangeran juga?” tanyanya.

Upik Abu mundur selangkah, membiarkan puteri itu memegang tangan pangeran dan berdansa dengannya.

Ketika mereka berdansa, Upik Abu melihat kasih sayang dan harapan di mata puteri tersebut. Dengan perasaan yang tak tersusun, Upik Abu menyaksikan pangeran berdansa dengan Puteri Regina. Ia masih ingin berdansa, tapi tak berani meminta.

Jarum jam melata perlahan namun pasti. Ketika ketiga jarum jam bertumpuk lurus menuding angka dua belas, terdengar dengung yang memukul kesadaran Upik Abu. Upik Abu tergagap. Panik dan tergesa Upik Abu berusaha berlari meninggalkan istana.

“Ada apa sebenarnya?”
“Mau ke mana, Puteri? Pestanya belum selesai.”
“Tidak pamit dulu?”
Upik Abu kewalahan menanggapi semua pertanyaan itu, “Maaf, maaaf, aku betul-betul harus buru-buru…”

Upik Abu berhasil mencapai pintu istana. Tetapi tangga istana yang licin membuatnya tersandung hingga sepatu kacanya terlempar entah ke mana. Upik Abu sedang berusaha bangkit lagi ketika milyaran sinar melingkupinya. Berputar. Lalu jatuh seperti debu bintang dan kembali menjelmakannya menjadi Upik Abu yang compang berjelaga. Saat Upik Abu mengangkat wajahnya, terdengar para tamu berbisik-bisik.

“Siapa perempuan ini?”
“Mana Puteri yang tadi?”
“Memalukan sekali, ada gelandangan datang ke istana.”

Dengan lunglai Upik Abu bangkit berdiri. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk berjalan sampai ke gerbang istana.

Karena semua perempuan di negeri itu diundang, Ibu dan kedua saudara tiri Upik Abu – Drunella dan Barbetta- juga datang ke pesta dansa. Mereka segera mengenali Upik Abu. Maka, ketika Upik Abu sedang berusaha berdiri, mereka menghampirinya.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Drunella.
Upik Abu tidak menjawab.
“Biasanya kami memang agak kejam padamu. Tapi biar bagaimanapun kamu saudara kami,” tambah Barbetta seraya memapah Upik Abu yang sudah tidak punya tenaga.
“Ibu sudah bilang tadi siang. Jangan selalu berpikir jelek pada Ibu. Ibu bilang begitu karena peduli padamu,” tambah Ibu Tiri.

Ketiga keluarga tiri Upik Abu pulang bersama Upik Abu. Malam itu, untuk pertama kalinya Upik Abu tahu mereka sesungguhnya menyayanginya.

Pagi berikutnya, dari alun-alun, terdengar kumandang terompet kerajaan.

“Pik, ayo kita ke alun-alun. Ada pengumuman dari kerajaan,” ajak seekor tikus.
Upik Abu menggeleng enggan.
“Kemarin sepatu kacamu tertinggal di istana, tidak?” tanya tikus lainnya
“Sepatu itu terlempar waktu aku tersandung tangga. Sudahlah. Kejadian itu memalukan,” sahut Upik Abu getir.
“Begini. Di dalam dongeng, sepatu itu menjadi jembatanmu menuju pangeran. Dengan sepatu itu pangeran mencari kamu. Ketika menemukanmu ia akan menikahimu,” papar tikus pertama.
Upik Abu menatap Si Tikus. Matanya membulat.
“Pengumuman di alun-alun pasti tentang sepatu kacamu. Ayo kita ke sana, Pik,” tambah tikus itu lagi.
Maka, Upik Abu dan para tikus pergi ke alun-alun. Menanti pengumuman dengan hati berdebar. Menanti happily ever after yang dijanjikan dongeng.
“Pengumuman. Pangeran telah menemukan puteri yang tepat untuk dinikahi,” si punggawa kerajaan membacakan.
Tangan Upik Abu seketikan dingin.
“Dia adalah Puteri Regina. Pernikahan akan dilangsungkan segera. Seluruh rakyat akan diundang.”
Rakyat bersorak-sorai gembira. Kecuali Upik Abu. Wajahnya mendadak pucat. Dalam waktu dua hari, ia dua kali merasa kecewa habis-habisan.
“Pik, mungkin nanti masih akan ada…”
“Jangan bicara apa-apa lagi. Aku mohon, jangan memberikan harapan apa-apa lagi,” Upik Abu memotong kalimat Si Tikus.

Setelah itu ia berjalan pulang dengan lunglai. Tapi kali itu, Ibu Tiri, Drunella, dan Barbetta tidak berada di sekitarnya.

***

Upik Abu menghirup udara pagi itu. Menatap jauh tapi tak jelas arahnya. Adik saya menunggu kelanjutan ceritanya. 

“Sebetulnya ibu tiriku bukan tokoh antagonis. Justru dialah tokoh protagonis dalam cerita itu. Dia melarangku pergi ke pesta dansa karena sayang padaku. Dia tahu apa yang baik untukku. Bodohnya, aku terlalu memercayai dongeng-dongeng tak bertanggungjawab di buku cerita,” simpul Upik Abu.
“Menurutku, Pik, cerita kamu belum tamat,” kata adik saya.
“Jangan memancing-mancing harapanku lagi,” kata Upik Abu dengan nada penuh kecurigaan.
“Kamu tidak harus percaya. Menurutku, waktu itu kamu datang ke pesta yang salah. Bertemu dengan pangeran yang salah. Menjatuhkan sepatu kacamu di tempat yang salah. Pangeranmu yang sejati akan mengejarmu ketika kamu meninggalkan istana, tidak seperti pangeran yang kemarin itu,” tutur adik saya.

Upik Abu diam.


Beberapa hari sebelumnya, seekor serigala berusaha meniup rumah jerami adik saya. Tapi serigala itu tidak berhasil. Dengan girang adik saya mengadu pada saya, “Ternyata dongeng Tiga Babi Kecil salah, Kak, Si Serigala tidak bisa meniup rumah jeramiku.”

Saya memperingatkan, “Jangan yakin dulu, Dik. Mungkin dia bukan serigala yang ada di cerita kita. Kamu tetap harus waspada. Meskipun dongeng hanya menceritakan satu serigala, di jagat raya ini masih banyak serigala lainnya. Serigala kita akan datang suatu saat nanti, tapi entah kapan.”

Kelihatannya adik saya menyimpan pesan saya baik-baik. Pagi itu digunakannya sari pesan itu untuk meniup jelaga yang terlalu pekat membebat Upik Abu, “Mungkin dia bukan pangeran yang ada di dongengmu karena di jagat raya ini masih banyak pangeran lainnya. Pangeranmu akan datang suatu saat nanti, tapi entah kapan. Sudah dulu, ya. Aku harus pulang sekarang,” pamit adik saya.

Upik Abu menatap adik saya. Jelaganya tersapu sedikit sehingga kilau matanya bisa terlihat samar. Adik saya bangkit berdiri. Beberapa jenak kemudian, ia sudah melompat-lompat kecil. Masuk hutan. Meniup seruling sambil sesekali berdendang.

“Siapa takut pada serigala jahat…tralalalala….”

A fanfic of Cinderella story. All characters stated are licensed to Hans Christian Anderson…

Buat Karin =)

artwork Gunawan Laory (Cong Ming Liu). Gunawan adalah lulusan jurusan Rancang Benda ITB. Saat  ini Gun membuka usaha pembuatan kotak bermana Anomeuli (ayo, Gun, kapan bikin blogn ato at least fb-ya biar bisa dipromoin di sosial media ... hehehe). Kotak-kotaknya eksklusif, dirancang secara personal sesuai pemesan dan bisa jadi mengejutkan. Artwork untuk cerita ini juga mengejutkan. Gun menginterpretasikan cerita ini dengan sesuatu yang sama sekali nggak kepikiran sama Dea. Thank's ya, Gun =)

2 comments:

@_rannah mengatakan...

Dongeng yang bertanggung jawab... saya suka! :D

Sundea mengatakan...

Wow ... bertanggung jawab kenapa ?

Anw thank's,y a, Rannah =D