Life is Just a Game

Semacam review lagu “Whispered Felony”

Pernah bermain nintendo atau atari? Ingatkah kamu pada gambar resolusi sederhananya yang pecah-pecah? Pernah membayangkan tokoh dengan kualitas gambar tersebut frustrasi dan tersesat dalam petualanangan game? Nah …

Sebentuk tokoh dalam game “Whispered Felony” berdiri terengah-engah di tengah layar televisi. Melodi sederhana yang jenaka tapi berkesan chaos mengirinya. Si tokoh menatap saya penuh harap.

“Ada apa?” tanya saya.
“Kendalikan saya. Saya adalah tokoh game,” sahutnya.
“Saya tidak bisa main game. Kamu curhat saja. Masalah kamu apa?”
“Tidak ada gunanya curhat. Saya harus dikendalikan, kalau tidak saya mati.”
“Kalau saya mengendalikanmu, kamu mati juga. Malah kamu pasti bakal mati lebih cepat. Sudahlah, curhat saja.”

Karena tak punya pilihan lain, si tokoh game yang entah siapa namanya akhirnya mencurhatkan masalahnya kepada saya,



walked in a park in the middle of the night
there is no lamp wow this is really-really dark.

and i can’t find my lighter nor cigar
i don’t know why maybe i just quit to smoke

“Ide bagus. Mungkin kalau kamu berhenti merokok, kamu akan lebih sehat dan tidak cepat mati,” dukung saya.
“Dea, saya tokoh game. Logika hidup kita beda. Kalau tidak merokok, saya justru akan mati. Begitu aturan game-nya. Ayo kendalikan saya supaya saya membeli rokok!”
“Bagaimana caranya?”
“Coba putar-putar dan pencet-pencet sajalah joystick itu. Kamu harus mengendalikan saya!”

Karena si tokoh terlihat semakin panik dan musik latarnya semakin kehilangan harmoni serta ketukan, saya mencoba mengendalikan joystick di hadapan saya. Si tokoh terlihat mulai merogoh sakunya.

what can i get in here in my pocket
i have some money but it not glow in dark

“Terus bagaimana, dong?”
“Saya juga tidak tahu. Saya kan cuma tokoh game. Kendalikan saya.”

Sekali lagi saya mencoba memutar-mutar joystick. Tapi sepertinya, untuk urusa per-game-an, naluri saya tidak terlalu bagus. Si tokoh tampak melompat-lompat tidak perlu. Menimbulkan keributan dan melodi-melodi aneh yang mengundang seorang rampok.

but suddenly there is a man with a knife
says give me your money or give me your soul
give me your money or give me your soul

“Saya harus mengendalikan rampok ini juga?”
“Kendalikan saya saja, bawa saya menjauhi rampok itu,” seru si tokoh.

Saya mencoba mengendalikan si tokoh menjauhi rampok. Tapi apa yang terjadi? Saya malah membawa si tokoh lebih dekat kepada rampok. Si tokoh berseru ketakutan,

please don't kill me i don’t have money
please don't kill me i really-really sorry

“Hah, bagaimana ini?” saya jadi panik. Saya memutar dan memencet tombol joystick secara brutal. Si tokoh bergerak tak karu-karuan,

stop threaten me you are not that scary
grow up your beard and where is your pony

… tetapi justru efektif. Tiba-tiba si rampok berlari tunggang langgang entah kenapa.

“Wow, ajaib. Kok malah berhasil, sih?” saya merasa heran pada diri saya sendiri.

Si tokoh kembali ke posisinya yang semula, diam sambil terengah-engah sampai tiba-tiba datang rampok lagi. Kali itu lebih banyak. Saya kebingungan. Sekali lagi saya melancarkan jurus pencet brutal. Tokoh di hadapan saya bergerak-gerak tidak karuan. Terus terang saya juga tidak tahu apa yang terjadi dengan tokoh itu. Saya tidak tahu ia sedang menghalau rampok atau justru menyongsongnya. Saya mengendalikannya, tapi sesungguhnya ia tidak terkendali.

“Dea, kamu mau apa, sih?”
“Nggak tahu. Saya mencoba menyelamatkan kamu.”
“Begini menyelamatkan, ya?”
“Kan tadi saya sudah bilang saya nggak bisa main game …”

Si tokoh akhirnya pasrah. Ia membiarkan dirinya dibuat ajojing tak menentu hingga akhirnya … game over.
“Maafkan saya,” sesal saya.
Tiba-tiba si tokoh bangkit kembali,

go with a gun go with fun go with your bun do what you want

“Lho? Kamu tidak mati?”
“Come, on, this is a game!”
“Kamu tersesat di kegelapan.”
“Saya selamatnya harus tersesat supaya orang-orang seperti kamu belajar menemukan jalan keluar.”
“Wow …ok …”

Saya kembali ke awal game. Si tokoh kembali berdiri diam. Terengah-engah. Menatap saya penuh harap. Diiringi melodi sederhana dan dilingkupi kegelapan yang sama.

Tapi kali itu saya lebih waspada. Saya tahu tokoh saya harus pergi membeli rokok tanpa mendatangkan perampok…

Sundea

lrg Salman Aditya adalah musisi eksperimental yang banyak membuat proyek musik solo. Musiknya menggambungkan berbagai unsur seperti pujasera. Mulai dari musik elektronik hingga rock and roll. Teks lagu Salman Aditya jenaka dan tidak biasa. Jika penasaran, kamu bisa berkunjung ke http://www.myspace.com/salmanaditya.
Teman-teman, review ini tidak akan lengkap jika dibaca tanpa mendengarkan lagu “Whispered Felony”. Langsung dengarkan lagu kocak ini di sini

0 comments: