Henny Irawati Merangkul Laki-laki Baru

Henny Irawati alias Rara adalah salah satu sahabat Dea semenjak kuliah. Beberapa hari yang lalu, ia yang berdomisili di Jakarta menginap di rumah Dea untuk kejar tayang beberapa deadline edit mengeditnya dengan salah satu penerbit di Bandung. “Yang di sini musti gue selesein, De. Akhir bulan ini gue ke Yogya, gue dapet kerjaan di sana,” ungkap Rara.
Ia lalu bercerita mengenai pekerjaan barunya dengan mata bersinar-sinar. “Wah, cerita lu pas banget sama tema Salamatahari minggu ini. Lu gue wawancara aja, ya,” tukas Dea spontan. Maka di sela-sela kesibukannya menyelesaikan editan, Dea mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan 

 
Ra, Aliansi Laki-laki Baru itu apa, sih ?
Aliansi Laki-Laki Baru itu, resminya, jaringan nasional yang merangkul laki-laki untuk turut mengakhiri kekerasan terhadap perempuan. Mereka, cowok-cowok ini, berkomitmen ga akan mukul perempuan, ga menutup akses perempuan untuk sekolah dan aktif di ruang publik, ga melarang perempuan jadi pemimpin atau menuduh mereka sebagai PSK (pekerja seks komersial) ketika malem-malem ketemu di jalan. 

Berdirinya kapan dan gimana awal kebentuknya?
Tahun 1999, Jurnal Perempuan pernah bikin Deklarasi Cowok-Cowok Anti Kekerasan (Cantik) dan menerbitkan buku Feminis Laki‐laki. Respon masyarakat ternyata positif. Banyak terbentuk forum khusus laki-laki yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Tapi Aliansi Laki‐Laki Baru jrengnya baru pada tahun 2009. Bareng Men’s Forum Aceh, Aliansi Laki-Laki Baru bikin kongres nasional untuk merumuskan struktur dan strategi kerja sama yang sistematis gerakan ini tidak kontraproduktif dengan gerakan perempuan itu sendiri. Beberapa lembaga yang jadi pelopor gerakan ini, antara lain Rifka Annisa (Yogyakarta), Women Crisis Center (WCC) Cahaya Perempuan (Bengkulu), WCC Rumah Perempuan (Kupang), Aceh Men’s Forum, Yayasan Jurnal Perempuan, dan Yayasan Pulih Jakarta.

Jadi ceritanya lu mau kerja di sono, ya? Mulai kapan dan sebagai apa?
Gue akan gabung mulai November ini. Gue nempatin posisi, bahasa susahnya sih, Network and Outreach Coordinator dan berkantor di Rifka Annisa. 

Gimana awalnya lo bisa diajakin kerja di sana?
Ada temen ngasi tau lowongan itu. Besokannya, ada temen lain lagi yang forwardin email yang isinya lowongan yang sama. Wah ini kebetulan yang kebetulan, pikir gue. Trus gue ngelamar deh. Prosesnya kayak ngelamar kerja biasa sih. Gue ngisi aplikasi online-nya, lolos, wawancara, trus diterima.

Apa yang bikin lo mau nerima job sebagai Network and Outreach Coordinator di sana?
Gue suka dengan konsep laki-laki baru ini, biarpun banyak aktivis perempuan yang masih resisten. Menurut gue, melibatkan laki-laki dalam gerakan perempuan itu sangat strategis. Satu contoh kasus KDRT. Selama ini, pendekatan yang banyak dilakukan adalah dengan memberdayakan korbannya. Ada pendampingan untuk trauma healing, juga pendampingan kasus kalau memang kasusnya sampai ke pengadilan. Dibuka juga akses ekonomi untuk mereka karena, kebanyakan, korban KDRT bertahan dalam lingkaran kekerasan itu karena mereka tergantung secara ekonomi pada pelaku. Ketika mereka punya penghasilan, kekerasan memang dapat ditangkal. Istri jadi lebih punya posisi tawar. Tapi hal itu tidak menghilangkan kekerasan itu sama sekali. Pelaku tetap bisa memukul istri atau anaknya.

Nah, dalam konsep laki-laki baru ini yang kita dekati si pelakunya. Kenapa dia melakukan kekerasan? Itu yang kita cari tahu. Predikat kepala keluarga dengan kewajiban menafkahi anak dan istri itu tanggung jawab yang berat lho. Ketika laki-laki tidak dapat memenuhi tanggung jawab itu atau ternyata istri punya penghasilan lebih besar, hal itu membuat laki-laki tertekan karena konstruksi masyarakat memaksa mereka harus lebih hebat dari perempuan.

Jadi tanpa mereka sadari, kadang bukan sepenuhnya mau mereka jadi “yang lebih kuat”, ya?
Iya. Perempuan seringkali dianggap lemah itu konstruksi. Hal itu sering diucapkan orang dan kita sadari. Yang tidak kita perhitungkan, dengan demikian laki-laki harus kuat, harus jantan, harus macho, harus lebih tangguh dari perempuan. Sejumlah bentuk ekspresi diharamkan untuk mereka. Misalnya menangis, cengeng, atau mengeluh. Betapa kasihannya cowok-cowok itu, kan? Karena harga dirinya terluka—atau merasa gagal memenuhi kriterita laki-laki jantan yang dikonstruksikan masyarakat—dan, sialnya, tidak punya cara untuk mengkomunikasikan hal itu, maka ekspresi yang muncul adalah memukul. Itu baru satu contoh sih. Kalo kita perhatiin di sekeliling kita, banyak contoh serupa.

Menurut lo gimana cara mensosialisasikan kesadaran ini ke masyarakat yang lebih luas?
Anggota Aliansi Laki-Laki baru ini kan tersebar di seluruh nusantara. Ada yang di Aceh, Bengkulu, Kupang, Jogjakarta, Jakarta. Salah satu tugas gue adalah menjembatani mereka semua. Gue juga akan bertanggung jawab memsosialisasikan konsep laki-laki baru ini lewat media sosial atau kegiatan-kegiatan. Terakhir Aliansi Laki-Laki Baru bikin kompetisi film.

Menarik, nih. Feminisme dengan perspektif baru.
Selama ini kan banyak yang ngeliat kalo gerakan perempuan itu untuk perempuan aja. Padahal nggak lho. Seperti yang tadi udah gue bilang, cowok ga boleh nangis itu juga diskriminasi. Ga perempuan, ga laki-laki, Tuhan ngasih kelenjar air mata, kan? Nangis itu kan ekspresi yang sangat alami dan ga ada hubungannya sama kejantanan atau kemachoan. Cowok nangis tetep seksi kok, asal pada tempatnya, begitu juga yang berlaku buat perempuan. Ketika dilarang nangis, mereka cari-cari cara lain untuk berekspresi. Ya kalo positif, kalo negatif gimana?

Iyaaa … bisa jadi itu malah alesan terkuat terjadinya tindak kekerasan. Terus, terus …?
Gerakan perempuan itu tidak “meninggalkan” laki-laki. Gue setuju dengan twit @amazingsusan yang gue RT kemarin, "Women's issues are not women's issues, they are human issues." Sekarang hayuk kita sama-sama merekonstruksi norma-norma yang merugikan kita itu. Ga harus terlibat dalam forum-forum resmi kok. Katanya sih perubahan bisa dimulai dari diri sendiri.

Seberapa excited sih elu sama kerjaan ini?
Gue sangat antusias. Selain karena konsepnya, sosialisasinya dilakukan melalui Twitter, Facebook, foto, dan film. Itu sih kesenengan gue semua hehe mungkin nanti akan merambah gambar, komik, atau lagu. Biar tambah seru. Kerja itu berbanding lurus dengan senang-senang :D

Setujuuuuu. Nah. Pertanyaan terakhir, ya, Ra …
Apa?

Udah makan belom ?
Nah, itu dia. Makan itu juga human issue. Jadi sebaiknya kita makan sebelum tambah #apeuu

logoalabar
Logo Aliansi Laki-Laki Baru

Penasaran? Langsung berkunjung ke http://lakilakibaru.wordpress.com/, mengintip Aliansi Laki-Laki Baru di facebook atau follow twitternya: @lakilakibaru dan Rara di @katarara.

Selamat bertualang ke Yogya, Ra, semoga dapat mensosialisasikan perspektif laki-laki baru  kepada lebih banyak teman =)

Karena Steve Jobs menjadi bintang utama kita di edisi ini, lagi-lagi Si Dea akan mengutip kata-katanya. Kali ini sebagai penutup artikel ini:

“Do you want to spend the rest of your life selling sugared water or do you want a chance to change the world?”

Sundea

0 comments: