Apel

Semacam obituari untuk Steve Jobs (1955-2011) 

“Your time on this earth is limited. Don’t live someone else’s life, live by your vision.”
-Steve Jobs-

Sepotong apel menggelinding ke dekat kaki Anak Beruang, entah apa yang membawanya. Jalan tidak menurun dan si apel tidak digiring angin. Sisinya yang sudah digigit tengadah ke arah Anak Beruang.

invertan

“Kamu apel Putri Salju, ya?” tebak Anak Beruang.
“Bukan. Apel Puteri Salju kan warnanya merah. Aku Apelnya Apple Incorporation.”
“Apple Incorporation siapa?” Anak Beruang mencoba mengingat-ingat tokoh dongeng bernama Apple Incorporation.
“Apple. Mac. iPod, iPad. Brand gadget besar. Kekuatan dahsyat dalam revolusi komputer. Kamu tidak tahu?”



Anak Beruang menggeleng. Gadget? Mana Anak Beruang tahu? Tidak ada gadget di dalam hutan.
Awalnya Anak Beruang dan Apple tidak menemukan bahan obrolan yang nyambung. Tapi mereka berdua saling menyukai karena berdiri di atas ketulusan persahabatan yang sama. Untungnya akhirnya Apple dapat menjelaskan secara garis besar siapa dirinya.

“Jadi duluuuu, mungkin sebelum kamu lahir, pohonku ditanam oleh double Steve. Steve Wozniak dan Steve Jobs. Mereka menyayangi pohon itu. Pohon itu tumbuh besar dan menghasilkan apel-apelan seperti aku ini, ” cerita Apple.
“Lalu, lalu?” tanya Anak Beruang yang selalu suka mendengar cerita.
“Lalu, karena dirawat dengan penuh kasih sayang, apel-apel di pohonku tidak takut bertumbuh menjadi apa saja. Jenis mereka semakin banyak dan kualitas mereka semakin bagus. Orang-orang di seluruh dunia menyukainya.”
“Wow, seru sekali. Pasti karena itulah orang-orang selalu tidak sabar untuk segera menggigitmu.”
“Hmmm. Tahu dari mana?”
Anak Beruang menunjuk bekas gigitan di kepala Apple.
“Oh, ini … hahahaha … semua apel dari pohonku memang begini sejak tumbuh.”
“Lho? Langsung rusak, dong?”
“Bukan, Anak Beruang. Apel yang digigit melambangkan ilmu pengetahuan. Adam yang dipercaya sebagai manusia pertama menggigit buah pengetahuan sebelum akhirnya disuruh tinggal di bumi. Selain itu, dalam bahasa Inggris menggigit adalah byte. Byte adalah salah satu refrensi dalam teknologi komputer,” jelas Apple.
Anak Beruang mengangguk-angguk.

Anak Beruang dan Apple duduk-duduk di rumput. Keduanya tengadah menatap layang-layang putus yang memintas angkasa. Ketika Anak Beruang dan Apple lengah sedikit, si layang-layang tiba-tiba sudah hilang. Mungkin tersangkut di pohon, ditelan awan-awan, atau menjadi bagian dari langit itu sendiri.

“Menurut kamu, sekarang pohonmu sedang mencari-cari kamu seperti mata kita barusan mencari si layang-layang, tidak?” tanya Anak Beruang.
“Mungkin iya, tapi lebih mungkin lagi tidak,” sahut Apple. Nada suaranya menjadi sendu.
“Kenapa …?” tanya Anak Beruang.
Apple tidak menjawab.
Anak Beruang tidak bertanya lagi. Yang ia tahu teman barunya itu sedang sedih. Jadi ia duduk merapat pada Apple dan membagi hangat yang dapat diberikan bulu-bulunya. 

invertan2

Hari itu, pohon Apple merapuh. Buah-buahnya berguguran dan bergelindingan tanpa arah. Mereka kehilangan Steve Jobs yang merawat mereka sejak masih tunas. Mereka tahu esok lusa dan seterusnya hidup terus berjalan, akar tetap menancap di tanah menyerap unsur hara, dan apel-apel pohon itu akan bertumbuh lagi dan lagi. Tapi siapa yang dapat melarang kesedihan karena kehilangan?

“Steve Jobs baru saja meninggal, Anak Beruang,” kata Apple akhirnya.
“Aku turut berduka cita,” kata Anak Beruang bersimpati.

Siang itu apel dan dedaunan dari pohon Apple ranggas tak beraturan seperti celoteh orang mabuk. Tapi matahari tetap menjaga kesadarannya. Hujan tidak ikut-ikutan meranggas dari awan-awan gembul di langit terang.

Di awal bulan Oktober itu, jendela di depan pohon Apple ikut meneruskan cahaya matahari.
Dramatislah suka dan duka bersalut bayang dan cahaya.

invertan3

Sundea

2 comments:

D'Monkey mengatakan...

Imajinatif,ringan namun bermakna

Sundea mengatakan...

Makasih, lho =D