Sesuatu Tentang Tujuh Kurcaci

“Lho, kok ada bapak-bapak, sih, di depan rumah?” tanya Dea ke Tiya, sepupu Dea, yang sedang duduk-duduk di kursi ruang keluarga.
Tiya ngintip lewat jendela.
“Kenal, nggak?” tanya Dea.
Tiya ngegeleng.

Iseng-iseng, dari balik vitrase korden, Dea motret bapak-bapak itu. Mereka cuma berdiri-diri aja sambil ngobrol, Temen-temen, nggak tau ngobrolin apaan.




“Ada berapa orang, De?” tanya Tiya.
“Ada … satu .. dua ….tujuh. Wah! Jangan-jangan mereka tujuh kurcaci!”



Dea jadi keinget cerita Puteri Salju. Waktu Puteri Salju masuk ke rumah ketujuh kurcaci, para kurcaci lagi nggak di rumah. Dongeng itu timeless. Once upon a time dan happily ever after bergerak nggak linear. Jadi bisa aja saat itu Dea lagi ada di dalem dongeng dan permainan waktunya, ngeliat langsung para kurcaci dari jendela rumah tante, sementara di saat yang bersamaan Puteri Salju lagi ngeberesin rumah para kurcaci.

Dea nyoba nebak-nebak. Dari antara bapak-bapak itu, mana yang Doc, mana yang Grumpy, mana yang Happy, mana yang Sleepy, mana yang Sneezy, mana yang Bashful, dan mana yang Dopey. Menurut kamu mana? Coba cocokin gambar di bawah ini sama gambar bapak-bapak di atas:

heighoresized

Permainan ini emang nggak penting, Temen-temen. Tapi cukup jadi sesuatu yang mencerahkan Dea hari itu. Dea jadi inget teks lagu yang dinyanyiin tujuh kurcaci waktu kerja nambang permata,

If you dig dig dig with a shovel or a pick
In a mine! In a mine! In a mine! In a mine!
Where a million diamonds shine!
We dig up diamonds by the score
A thousand rubies, sometimes more
But we don't know what we dig 'em for ….

… kadang kegembiraan emang nggak harus ada fungsi praktisnya ;)

Puteri Salju sebagai kue

Sundea

Gambar kartun tujuh kurcaci dirampok dari sini

0 comments: