Dinding Badinding

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman dari Jakarta mengadu kepada saya, “De, gue baru balik dari Bandung. Iklan provider di dinding tambah banyak”. 

Teman saya ini adalah seorang street artist yang sudah cukup lama memperhatikan fenomena perang provider di dinding penduduk. “Gue curiga pelakunya (penggambar iklan di dinding) itu temen-temen street artist juga,” ungkapnya.




Beberapa teman merasa prihatin. Iklan-iklan yang merambah dinding – apalagi dicurigai digambar oleh street artist yang seharusnya punya fungsi sosial tertentu – dipandang sebagai bentuk pemerkosaan terhadap ruang publik. “Tulis sesuatu, dong, De, tentang itu,” pinta teman saya. Sekalipun sependapat mengenai cara beriklan provider yang tidak etis adanya, beberapa waktu sebelumnya saya dengar penduduk justru gembira ketika dindingnya digambari karena dari sana mereka mendapat penghasilan. Untuk mengupas fenomena ini, saya rasa saya butuh perjalanan yang cukup panjang agar bisa menulis secara lebih arif dan bijaksana. 

Tetapi pada suatu hari, dalam sebuah perjalanan pendek menuju rumah saya di dataran tinggi, saya menemukan cara merespon yang mungkin akan kamu anggap tidak penting (tenang saja, saya juga menganggapnya tidak penting). Saya memotret iklan provider yang bisa saya potret sambil menyanyikan beberapa lagu anak-anak yang saya ubah sedikit:

Naik, naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali 2x
Kiri-kanan kulihat saja, banyak iklan provide-e-er
Kiri-kanan kulihat saja, banyak iklan provider …



Lalu ini

Kupandang dinding penuh iklan bertaburan,
Berkerlap-kerlip seumpama sinyal brilian
Tidak sebuah lebih terang cahayanya
Itulah, iklan provider, provider ponsel selalu …


Kemudian ini,

Iklan-iklan di dinding, diam-diam merayap
Datang seekor Dea ‘ckrek’ lalu dipotret …


Dan inilah yang terakhir,

Lihat kotaku, penuh dengan iklan
Ada yang kuning dan ada yang biru
Setiap hari kulihat semua
Indosat, XL semuanya pindah …


… maksudnya pindah dari dari billboard menuju dinding … hehehe …

Begitu sampai di rumah, saya menuliskan catatan main-main ini sambil senyum-senyum. Coba tebak, lagu apa saja yang tadi saya plesetkan?

Teman-teman, mungkin sekali kalian tahu lebih banyak mengenai isu ini. Mungkin sekali juga kalian bisa menulis sesuatu yang lebih penting dan matang daripada artikel lucu-lucan ini. Saya setuju dengan teman saya. Masalah ini perlu ditulis. Perang provider yang semakin lama semakin tidak sehat itupun memang perlu ditertibkan.

Jika artikel ini mengilik-ngilik keinginan berbagimu, tulis sesuatu untuk teman saya, Andi Rharharha, dan Respecta Magazine-nya di http://respectastreetartgallery.com/home/. Jangan lupa beri tahu saya supaya saya bisa ikut belajar dari tulisanmu ;)

Ketika akan mengakhiri artikel ini, tiba-tiba saya teringat pada sebuah lagu lain. Bukan lagu anak-anak, tapi lagu Obbie Mesakh yang terkenal di tahun 80an. Saya lupa judulnya, pokoknya mengandung semut-semut merah begitu, deh. Dan saya memlesetkannya lagi,

Malu aku malu, pada iklan-iklan
Yang berbaris di dinding, menatapku curiga
Seakan penuh tanya, sedang apa di sini?
Menulis kamu, jawabku …

Sundea

1 comments:

adaidenggak mengatakan...

hahhaa,, ternyata street artist nya si Andi Rharharha.. :)