Soal Jual-Beli Mimpi Bersama Anggun Priambodo

resizedanggun Jika kamu pernah melihat video klip Kuncianmu dari BIP, Senandung Maaf dari White Shoes and The Couples Company, Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia dari Naif, atau iklan “Telpon Rumah” dari Telkom, ini dia man behind the scene-nya: Anggun Priambodo.

Di awal tahun, seniman ini memenangkan Bandung Contemporary Art Awards untuk parodi sinetronnya, “Sinema Elektronik”. Karena ini edisi “Membeli Mimpi” dan sinetron selalu disebut-sebut sebagai penjualnya, Salamatahari menanggap Mas Anggun sebagai penyalamatahari.

Wawancara dilakukan ketika Masnya sedang sakit. Semoga cepat sembuh … =)




Mas Anggun, cerita, dong, tentang karya Mas Anggun yang “Sinema Elektronik”. Kenapa kepikiran bikin itu ?
Kepikiran terus karena memang sinetron udah masuk ngeracunin otak kita tiap hari ..hehehe... semua yang ada di sinetron palsu, tapi itu yang laku dijual oleh media tv kita, drama … kita suka didramain...

Proses kreatifnya gimana?
Proses kreatifnya dengan mulai nyari ide sudut pandang apa yang bisa dibuat untuk karya, lalu membuat musik dan shotlistnya, lalu di-break ke lembar persiapan, apa aja yg musti gue kerjaain sebelum hari produksi, ngumpulin crew (make up artist, cameraman, art director), dan cari lokasi.

Setuju nggak kalau sinetron disebut ngejual mimpi?
Jelas menjual mimpi. Semua serba dilebih-lebihkan. Kita suka sama yang berlebihan, biar orang merasa ingin terus, kurang terus...


Itu kan tadi yang ngejulanya, ya. Kalo denger kata “Membeli Mimpi”, apa yang ada di pikiran Mas Anggun?
Sebuah program tv, omongan tukang ramal, dan motivator.

Baiklah. Cukup tentang mimpi-mimpi. Sekarang tentang kenyataan. Katanya Mas Anggun baru nerbitin majalah yang namanya Majalah Cobra, ya? Itu majalah apa, sih?
Itu majalah yang berpoison. Ceritanya kita mau buat media yang menandingi media-media kurang seru yang dijual di lapak-lapak itu. Nggak ada majalah lokal yang seru, semua pingin frenchise dari luar. Kalopun udah frenchise, pada akhirnya ternyata gagal untuk menyuarakan berita karena semua mau masukin iklan. Tapi Cobra mau independent dengan nggak mau disetir oleh iklan dan mau punya karakter sendiri. Media yang bermula dari orang kreatif bukan orang marketing yang ga punya selera. :)


majalahcobra

Ihiw! Asik banget, nih. Semoga Majalah Cobra bisa berjaya. Bisa didapetin di mana aja majalahnya?
Udah tersebar luas, kok...hehe... ada di Salihara, Aksara book store, Hey Folks, Dia.lo.gue, Rurushop (Jakarta), Lou belle shop, Omuniuum, Tobucil, 347, Rumah Buku (Bandung), Ivaa shop dan Origin (Jogja), c20 Surabaya, Belukar Solo, Chambers Makassar... dan bisa order online.

Alamat kontak Majalah Cobra: majalahcobra@gmail.com. 1 tahun = 6 edisi plus kaos Cobra Rp 300.000,00.

Kenapa tagline-nya musti “majalah yang berpoison” ?
Karena seru hehehe …

Balik lagi ke urusan jual-beli, sekarang ini barang apa yang paling pengen Mas Anggun jual dan barang apa yang paling pengen Mas Anggun beli?
Pingin beli mobil tanpa bahan bakar minyak, pingin jual mobil gue sekarang...karena pemborosan dan ga ramah lingkungan hehehe....

Terakhir. Apa pendapat Mas Anggun tentang Salamatahari?
Bagus namanya lucu, penuh teka-teki. Tidak biasa dan produktif.

Terimakasih banyak, semoga cepet sembuh, sukses selalu, karyanya tambah banyakkkk … dan makin berpoison.

Di antara mimpi-mimpi yang dijual berbagai media, di antara harapan-harapan yang terpaksa pupus karena tak bisa dilunasi, Majalah Cobra lahir sebagai alternatif. Di mana kira-kira posisinya? Kamu yang bisa menilai. Untuk tahu lebih banyak mengenai majalah ini, kunjungi http://www.majalahcobra.com/ atau follow twitter @MAJALAH_COBRA.

Dan untuk tahu lebih banyak tentang Anggun Priambodo, silakan mampir ke http://anggunpriambodo.com/

Pssst … Teman-teman, ketika bertandang ke situs-situs itu, jangan lupa membawa penawar poison, atau kamu akan .... zzzttttt …

Sundea

foto majalah Cobra dirampok dari artikel ini

0 comments: