Gelas-gelas Kaca

Pada suatu siang bolong, ketika Dago sedang panas dan jangar-jangarnya, angkot melolongkan sebuah lagu.

Sepi yang mencekam
Menuuusuk hatiku 

“Sepi apaan?” rutuk saya di dalam hati. “Gelas-gelas Kaca”, lagu cengeng yang populer di tahun80an, terdengar kontras dengan keadaan. Tembang bertempo lambat dan lemah tersebut mengacaukan ritme angkot yang terburu-buru dan tabrak sana-sini. Suara mbak penyanyi yang mendayu pun berpunggungan dengan suara mas supir angkot yang penuh vitalitas. Ada kepasrahan dalam lagu “Gelas-gelas Kaca”. Sementara ada kegigihan dalam ajakan bersemangat mas supir angkot. Tetapi pada keduanya ada hal yang sama: sebuah harapan yang dikemukakan secara transparan.



Saya jadi memperhatikan lirik “Gelas-gelas Kaca” ciptaan Rinto Harahap dengan saksama. Di sana, tersebutlah seorang aku lirik yang sebatang kara namun rindu pulang ke pangkuan ayah bundanya. Ia mencurahkan seluruh perasaan dan harapanya kepada gelas-gelas kaca. Dan gelas-gelas kaca – entah. Saya tidak tahu apakah gelas-gelas kaca itu merespon kegalauan yang menghambur dari kerongkongan mbak penyanyi.

Tetapi baru kali itu saya menyadari bahwa pilihan “gelas-gelas kaca” sebagai obyek ternyata menarik juga. Ada kebeningan dan kerapuhan di sana. Ada denting dengan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga seperti lengking suara Mbak Nia Daniaty. Dan pada gelas-gelas kaca, si aku lirik seperti bercermin. Pada dasarnya gelas-gelas kaca mewakili karakter aku lirik yang rapuh dan ungkapan hatinya yang tidak tersembunyi.

Saya kembali kepada supir angkot yang berpeluh. Ia menatap jalanan dengan mata merah nanar. Menaruh harapan pada setiap orang yang lewat di sebelah angkotnya sambil berseru, “Dago, Dago, Dago, ayooo, langsung!” Ketika orang-orang yang ia harap menjadi penumpangnya ternyata berlalu begitu saja, matanya yang keruh tidak bisa menyembunyikan kekecewaan. Saya lalu melihat bahwa kerapuhan tidak selalu hadir dalam bentuk “gelas-gelas kaca”. Kadang ia mewujud pada kenyataan “jelas-jelas kagak” yang harus dihadapi para supir angkot setiap hari.

Suara Mbak Nia Daniaty masih menyayat-nyayat siang yang sebetulnya sudah bolong,

Gelas-gelas kaca, bunyikan suara
Di maaaanakah aku kini …?

Bunyi suara klakson timpa menimpa, berusaha mengusir angkot saya yang sedang ngetem sembarangan. Awalnya supir angkot pura-pura tidak mendengar. Namun akhirnya ia mengalah dan melaju.

Di dalam hati saya jadi bertanya-tanya sendiri. Jika ruang memaknai dirinya lebih luas daripada yang bisa digambarkan peta, di mana saya sebetulnya?

Saya memotret sudut angkot yang saya tumpangi. Tanpa banyak berpikir. Hanya merasa. 

Sundea


Berhubung videoklip "Gelas-gelas Kaca" selalu gagal diunggah di posting ini, silakan berkunjung ke sini untuk menyanyi sambil berkaraoke lagu ini.

Komentar