Sebuah Absurd Reviewio Atas Peristiwa Dalam Turiya

Judul: Turiya
Penulis: Maradilla Syachridar
Ilustrasi: Ykha Amelz
Penerbit: Else Press

 
“WHUAAAA !!!!” saya menjerit histeris.

Buku di sebelah tempat tidur saya tiba-tiba berasap. Dari sela-selanya menyusup keluar sesosok laki-laki. Wujudnya terbentuk dari asap yang semakin lama semakin padat. Menjadi kaki, menjadi tubuh, menjadi tangan, dan mengukir wajah. Kemudian ia duduk begitu saja di kusen jendela kamar saya.

“S… ss… si … siapa kamu?” tanya saya ketakutan.
“Jangan takut, aku King.”
“S … sa … saya bukan rakyat kamu,” tukas saya grogi.
King tertawa. Mulutnya bau anggur.

Aduh, apa-apaan ini? Di tengah tidur saya, tahu-tahu muncul laki-laki asing yang bau anggur. Tubuhnya tinggi dan kekar. Dagunya sedikit berjanggut. Saya beringsut-ingsut menuju pintu kamar, tapi, LHO? Kenapa kamar saya jadi tidak berpintu? Saya panik. Ini mimpi buruk.



“Iya, Dea, ini memang mimpi. Tapi buruk tidaknya bergantung kamu,” kata King seperti bisa membaca pikiran saya.
Man, ini mimpi buruk
“Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya butuh teman bicara. Aku harap kamu tidak keberatan,” kata King sungguh-sungguh. Ia lalu menunduk, menatap ujung sepatunya sendiri. Sepertinya dia memang bukan orang jahat. Akhirnya saya memutuskan untuk duduk di sebelahnya dan mendengarkan ceritanya.


King adalah saudagar anggur di sebuah daerah bernama aneh: Chateau Groumutte. Entah di negeri apa. Ia mempunyai dua orang sahabat: Dwayne dan Millo. Dwayne adalah gadis muda yang menarik sementara Millo adalah pelukis tampan yang juga menarik.

“Persahabatanku dengan Dwayne sebetulnya tidak murni. Aku jatuh cinta padanya,” kata King.
“Wow, nyatakan, dong,” dukung saya.
“Sudah berkali-kali, Dea. Sudah lama juga aku menantinya. Tetapi kemudian ia dan Millo justru saling jatuh cinta. Mereka sering bertemu diam-diam di Absurd Paradiso. Mereka pikir aku tidak tahu, padahal aku tidak bodoh,” ungkap King dengan suara tertahan.
“Absurd Paradiso itu di mana, King?” tanya saya.
“Di sini.”
“Hah? Mana?” saya clingak-clinguk.
“Tidak secara harfiah ‘di sini’ maksudku. Absurd Paradiso adalah dunia mimpi, tempat berbagai fragmen peristiwa dalam kenyataan diolah menjadi cerita yang berbeda. Kami bertiga berasal dari buku itu,” kata King sambil menunjuk buku di meja saya, “tadinya buku itu berjudul Absurd Paradiso. Sekarang Turiya.”
“Kenapa jadi Turiya?” tanya saya.
“Karena turiya adalah milik kami bertiga. Turiya adalah sebuah fase peristiwa dalam kesadaran murni yang nantinya akan tergeser oleh fase-fase peristiwa lainnya. Sementara Absurd Paradiso merupakan bagian dari Turiya. Di sana Dwayne dan Millo berusaha bersembunyi dariku. Padahal mereka tak akan pernah bisa bersembunyi dariku karena kami berada dalam buku yang sama.”

King membungkukkan tubuhnya. Kelelahannya terciprat ke mana-mana. Ia enggan melirik Turiya karena pada beberapa lembarnya ia merasa dikhianati. Jadi sayalah yang meraih novel itu dan membacanya beberapa kilas.


Absurd Paradiso 1
“Abu dan Bayangan”
… saya berada di hamparan vineyard dengan daun-daunnya yang sudah menguning, kering kerontang.
Perkebunan King.
Tapi di mana dia? Saya tidak mau bertemu dengannya di sini, jangan paksa saya.
(Hal. 72)

Absurd Paradiso 2
“Embun yang Menguning”
Absurd Paradiso adalah sebuah dunia.
dunia yang diciptakan oleh Tuhan,
khusus untuk Dwayne dan saya
sebagai sepasang kekasih.
(Hal. 92)

Absurd Paradiso 3
“Inferno”
“Dwayne? Itu anak kita?”
Dwayne mengangguk malu.
(Hal. 110)

Saya lalu menutup Turiya. Melirik pria di sebelah saya yang masih membungkuk lungkrah. Seperti kedua rekannya, ia pun melarikan diri dari situasi yang mendesak dan berbatas menuju Absurd Paradiso yang tanpa batas. Mengapa dia terlempar ke Absurd Paradiso saya? Mungkin karena saya berencana membuat review Turiya. King pasti tak ingin saya berbicara terlalu banyak tentang Millo dan Dwayne dan membuatnya semakin terluka. Saya percaya pada dasaranya setiap tokoh cerita tak lepas dari rasa sedih, cemburu, marah, bahkan kadang memrotes nasib yang dipilihkan alur untuknya.

Sekali lagi saya membuka-buka halaman Turiya. Mendapati … hei …

“King, kamu sudah menjalani seluruh turiyamu sampai akhir novel ini?” tanya saya.
“Apa gunanya kalau Dwayne tetap memilih tinggal di Absurd Paradisonya dengan Millo?”
“Jalani dulu. Maradilla cukup adil, kok,” kata saya sambil tersenyum.
King mengangkat wajahnya. Menatap saya penasaran.
Saya membuka halaman Turiya lebar-lebar, mengisyaratkan kepada King untuk kembali masuk ke sana, “Percaya, deh, King, saya tak akan mengkhianati kamu. Pertemanan kita murni seperti susu sapi alami,” saya mencoba meyakinkan.

Akhirnya King mempercayai saya. Ia menjelma asap. Terhisap ke dalam lembar-lembar Turiya dan kembali menjadi teks yang mengalur dan mengalir memenuhi turiyanya.

Saya menutup Turiya. Bersiap-siap naik ke atas tempat tidur. Jika orang-orang tidur untuk bermimpi, saya akan tidur untuk keluar dari mimpi ini. Absurd memang. 


Bagaimana nasib King pada akhirnya? Saya tidak akan menceritakannya kepadamu. King yang telah kembali menjadi teks akan bercerita sendiri dalam Turiya ;)

Sundea

semua gambar di posting ini merupakan ilustrasi novel Turiya

Note for Dilla:
Moga-moga makna “turiya” dan “absurd paradiso” yang aku tulis nggak melenceng, ya … hehehe …
Klik di sini untuk informasi lebih lengkap seputar Turiya.

0 comments: