Kursi Artis

Ketika angkot yang saya tumpangi nyaris penuh dan para penumpang terkantuk-kantuk dibius udara panas di luar, seorang perempuan naik ke dalam angkot. Ia semerbak sekali. Rambutnya panjang tergerai. Ia duduk di dingklik kecil yang berpunggungan dengan kursi supir. 

Perempuan itu tidak melakukan sesuatu yang spektakuler, tetapi kehadirannya seperti artis ibu kota yang telah dinanti-nanti pemirsa. Posisi kursi yang melintang dengan bangku penumpang panjang di kiri-kanan angkot dan kapasitasnya yang hanya untuk satu orang membuat siapapun yang duduk di sana mudah diperhatikan. Kebetulan perempuan ini cukup cantik pula. Pintu terbuka membuat angin dengan merdeka masuk dan langsung menerpa rambut perempuan cantik itu. Berkibarlah rambutnya seperti gadis-gadis di iklan shampo.
Ia tidak lama. Tak terlalu jauh dari tempatnya naik, ia turun. Kursi artis kembali kosong.

Siga Sahrini nya …? (seperti Syahrini, ya),” komentar seorang ibu tiba-tiba.
Ceuk saya mah siga Krisdayanti (kata saya mah seperti Krisdayanti),” timpal temannya.

“Lo liat nggak, tadi BB-nya?” tanya seorang pemuda.
“Bukan, tau, itu bukan BB …” timpal temannya.



Istilah “kursi artis” untuk kursi khusus itu ternyata tepat juga. Siapapun yang duduk di sana pasti dipilih takdir untuk membangun persepsi dan cerita di kepala penumpang lainnya. Kalau suatu waktu kamu berangkot ria, perhatikan siapapun yang duduk di kursi artis ;)

Sementara penumpang-penumpang lain sibuk membicarakan “artis” kita yang sudah entah di mana saat itu, diam-diam saya memotret kursi artis yang kosong dan sendiri. Menunggu artis lain yang akan berpentas setelahnya.

Teman-teman, percayakah kamu angkot juga panggung sandiwara ?

Sundea

Komentar