Cerita Kecil Tentang Ibu Kupu-kupu


Ibu Kupu-kupu tinggal di sebuah taman kecil, tidak jauh dari rumah Anak Beruang. Ketika Anak Beruang bermain di halaman, angin yang berlalu sering bercerita tentang Ibu Kupu-kupu, “Hidupnya tak henti bersimbah air mata, tapi ia begitu tabah.”

Karena penasaran, pada suatu pagi Anak Beruang mampir sendiri ke taman kecil tempat Ibu Kupu-kupu tinggal. Ketika ia sedang mencari-cari, seekor kupu-kupu tiba-tiba hinggap di hidungnya.

“Hatsyiii!” Anak Beruang bersin.
“Kamu pasti Anak Beruang yang tinggal di belakang tamanku …”
“Kamu pasti … hahahatsyiii ….”
“Iya, aku Ibu Kupu-kupu.”



Ternyata Ibu Kupu-kupu jauh dari kesan “tak henti bersimbah air mata” yang sering didengar Anak Beruang. Ia sosok yang riang dan bersemangat. “Aku memang binatang kecil yang berasal dari seekor ulat. Tapi hidupku bukan ‘kisah sedih di hari Minggu’ melulu. Aku bisa melakukan banyak hal dengan apa yang kumiliki. Kamu tahu Anak Beruang ? Berbuat sesuatu untuk orang lain akan membuatmu selalu bahagia. You know what? Your caring saves live, ” papar Ibu Kupu-kupu penuh semangat. Anak Beruang setuju.

Sejak saat itu, Anak Beruang sering berkunjung ke taman Ibu Kupu-kupu. Mendengarkannya bercerita atau sekedar mencermati bagaimana sayap kecilnya mendayung angin. Anak Beruang pun kerap melihat sendiri bunga-bunga yang bermekaran setelah Ibu Kupu-kupu membantu penyerbukannya. Kadang Anak Beruang lupa bahwa Ibu Kupu-kupu adalah binatang kecil, sebab apa yang ia lakukan sepertinya begitu besar.

Pada suatu siang, Anak Beruang berkunjung lagi ke taman Ibu Kupu-kupu. Bunga-bunga aneka bentuk dan warna menyambutnya.

“Ibu Kupu-kupu sedang tidak di taman. Tunggu saja.”
“Baiklah …”

Anak Beruang duduk bersandar di pohon. Ia terkantuk-kantuk di antara harum rumput dan bunga-bunga, sampai serbuk sari yang lintas membisikkan sesuatu ke telinganya,

“Anak Beruang, hari ini Ibu Kupu-kupu tidak pulang ke taman …”
“Kenapa ?” tanya Anak Beruang terkejut.
“Ia sedang sakit. Sekarang ia tidak lagi bisa melihat dan mendengar dengan baik. Tapi jangan kuatir, semangat hidupnya tidak ikut rubuh.”
“Syukurlah …”
“Ia bahkan masih sempat bilang, ‘semoga sisa pengelihatan dan pendengaran ini masih bisa kugunakan untuk terus berkarya, ya …’”

Anak Beruang tersenyum. Di dalam hati ia tak putus berdoa untuk Ibu Kupu-kupu. Jika Ibu Kupu-kupu begitu yakin pada apa yang dilakukannya, Anak Beruang pun akan mendukungnya dengan keyakinan yang sama.

“Serbuk sari, aku titip salam sayang untuk Ibu Kupu-kupu, ya …”
“Baiklah …”

Anak Beruang berjalan pulang sambil melompat-lompat. Di kiri dan kanan ia melihat bunga-bunga yang tumbuh karena diserbuki Ibu Kupu-kupu. Ia pun mendengar burung-burung menyanyikan lagu tentang kupu-kupu. Meski Ibu Kupu-kupu sedang sakit, jejak kupu-kupu tinggal di mana-mana.

Tak banyak yang tahu bahwa kupu-kupu adalah binatang kecil dengan sayap water proof. Tapi Anak Beruang tahu. Ia percaya lembar sayap Ibu Kupu-kupu yang tipis tak akan terpatahkan oleh cuaca …

Penuh sayang buat Ibu Dian Syarief yang baru operasi kepala. Selamat hari Kartini, Bu =)

Sundea


Note:
Ibu Dian Syarief adalah penderita lupus dan low vision yang mengelola Syamsi Dhuha Foundation. Lupus adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh tak hanya memakan zat asing yang masuk ke dalam tubuh, tetapi juga menyerang tubuh itu sendiri. Lupus sering ditandai dengan adanya ruam kupu-kupu pada wajah. Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini

Hadirilah Kegiatan World Lupus Day pada tanggal 7 Mei 2011. Klik di sini  untuk info lebih lengkap.
Syamsi Dhuha Foundation dapat dikunjungi di sini http://www.syamsidhuhafoundation.org

3 comments:

Awarmatin mengatakan...

Aw, that's one hell of a beautiful post.

Rie mengatakan...

Ceritanya cantik. Secantik sayap Ibu Kupu-kupu. :)

Sundea mengatakan...

Makasih =)