Bertanam Nilai Bersama Ibu Yesy Hartono


Ketika dikunjungi di kantornya, Ibu Yesy Hartono, Kepala Sekolah Kelompok Bermain Taman Kanak-kanak Yahya terlihat lelah. “Iya, nih, banyak yang dipikirin. Program, gimana ngadepin orangtua, belum lagi kalau ada anak yang celaka, kemarin ada yang tangannya retak,” curhat ibu satu putra ini. “Eh, ini pertanyaan wawancaranya nggak akan susah-susah kan ? Kira-kira aku bisa jawab, nggak, ya ?” tanya Bu Yesy kemudian. 

Tenang, Bu Yesy, wawancara untuk Salamatahari sangat bebaskeun sifatnya. Tak ada ponten untuk setiap jawaban ibu ;)





Naaa … pertanyaan pertama, Bu. Kenapa TK disebutnya “Taman Kanak-kanak”, bukan “Kebun Kanak-kanak” ?
Kenapa taman … ? Kan lebih … apa, ya ? Lebih berkesan tempat bermain. Kalau kebun, ya, kayak … kebun sayur, gitu. Lagunya juga kan “Taman yang paling indah, hanya taman kami …”, bukan “Kebun yang paling indah”. Kebun itu lebih tempat bercocok tanam …

Hehehe … begitu, ya ? Terus di taman ini, ada yang Ibu tanam, nggak ?
Kalau di sini … lebih menanamkan nilai-nilai. Aku kan nggak selalu ada di kelas, jadi seneng kalau ada nilai yang bisa aku tanamkan.

Contoh nilai yang ditanamkan apa ?
Aku kan masuk untuk ngajarin agamanya, jadi gimana supaya mereka percaya sama Tuhan Yesus. Juga gimana sikap mereka sama temen, supaya sayang, mau berbagi. Gimana mereka sama orangtua, sama adik. Gimana mereka harus berani dan bangga sama diri mereka sendiri. Yang terpenting, sih, ya itu, supaya mereka percaya kalau Tuhan Yesus selalu sayang dan menyertai mereka.

Ada nilai yang udah tumbuh ?
Memang belum betul-betul bisa kita lihat hasilnya, sih, butuh proses yang panjang, tapi yang aku lihat mereka udah percaya sama Tuhan Yesus. Dari sopan santun juga udah mulai keliatan, meskipun belum di semua anak.

Cara naneminnya biar anak-anak inget gimana ?
Lewat cerita kalau aku masuk ke kelas. Atau sengaja sering ngingetin, soalnya namanya juga anak-anak, kan suka cuek. Kalau mereka lewat tapi nggak ngasih salam, misalnya, langsung ditegur.

Nah. Kalau dilihat-lihat nih, Bu, di taman kan ibu bercocok tanam juga. Jadi bedanya bercocok tanam di taman sama di kebun apa ?
Mungkin … kalo yang di taman yang ditanam lebih ke bunga-bunga kali, ya, yang indah-indah dilihat. Kalau dikebun kan … sayur … sayur apa coba yang kita tanam di taman ? Kan aneh …

Jadi anak-anak TK ini kayak bunga-bunga, ya, Bu ?
Iya. Mungkin anak-anak ini juga ditanam supaya suatu saat jadi bunga-bunga yang indah, yang enak dipandang …

Amiiin … Eh, Bu, balik lagi ke sayur-sayuran, ya, misalnya Ibu boleh nanem sayur di taman, pengennya nanem sayur apa ?
*berpikir* Cengek kali, ya, soalnya aku doyan pedes. Lagian cengek kan gampang nanemnya. Ternyata bisa juga ditanem di taman, di taman sekolah juga ada. Terus harganya mahal …

Hahaha … jadi ada, ya, sayuran yang bisa ditanem di taman … ?
Ada.

Terakhir, Bu, kalau disamain sama salah satu taman di Bandung, Taman Kanak-kanak mirip taman apa dan kenapa ?
Mirip taman apa ? Apa, ya ? Taman Lansia … nggak mungkin. Taman Lalu Lintas kali, ya. Di sana kan anak-anak bermain, tapi ada proses belajarnya juga.

Sip … makasih, lho, Bu …
Kasih tau, ya, kalau udah terbit …

Di luar kelelahan “bertaman” di Taman Kanak-kanak, ada juga yang selalu menyenangkan bagi Bu Yesy. “Kadang-kadang kita seperti selebritis. Anak-anak suka dadah-dadah, ‘Miss Yesy, Miss Yesy …’. Terus meskipun kemarinnya abis kita marahin, besoknya mereka tetep dadah-dadah. Anak-anak itu cepet melupakan, nggak menyimpan dendam. Celotehnya juga kadang nggak penting, tapi bikin kangen …,” cerita Bu Yesy dengan mata bersinar. Saya tersenyum.

Di pintu kantor kepala sekolah Bu Yesy, tergantung prakarya yang dihadiahkan murid TK-nya. Judulnya “Matahari”. Mungkin seperti itulah hubungan kasih antara Sang Ibu Kepala Sekolah dengan murid-muridnya.

Saya lalu teringat kutipan matahari untuk bumi dalam novel Sang Alkemis,
“kuberi dia kehangatan, dan dia beri aku alasan untuk hidup …”

Semoga kehangatan yang ditanamkan Bu Yesy menyentuh bibit-bibit kecil yang selalu berlari-lari di taman mereka yang paling indah itu. Lalu tumbuh. Menjadi bunga. Menjadi cengek. Menjadi segala yang tak lelah memberkati …

 



Sundea

0 comments: