Sebongkah “Here After” yang Mengantri Bersama Saya


covermahir Judul Buku: Here After
Penulis: Mahir Pradana
Penerbit: Gagas Media












Di depan saya berdiri sebongkah manusia. Ia tersusun dari berbagai jenis dan bentuk batu bernuansa kelabu. Kami berdua ada di deretan paling belakang antrian bank kata-kata.

Batu-batu yang tersusun di tubuhnya tampak berat dan rentan lepas. Ketika segenggam batunya rontok dan jatuh persis di dekat kaki saya, saya segera membungkuk mengambilkannya.



“Terima kasih,” kata bongkah itu.
“Sama-sama. Nama aku Dea. Kamu siapa?”
Here After. Cerita cinta berakhir di sini.”
“Antrian juga berakhir di sini. Berawal jauh di depan … hehehe …”
“…”
“Ng … nggak lucu, ya?”
“Oh, bukan. Saya hanya tak bisa tertawa. Batu-batu yang saya bawa ini sangat berat. Di sini tersimpan luka-luka masa lalu. Masalah status sosial. Kekecewaan. Penyesalan. Kemarahan. Dan berbagai hal lain yang membuat kisah-kisah cinta harus berakhir.”
“Oh, ya ampun …”

Saya mencermati setiap batu yang menyusun Here After. Di sana saya mendapati berbagai manusia dengan lukanya masing-masing. Ada Diana yang menjadi heart breaker karena kecewa pada Sang Ayah, Rio dengan filosofi bahwa mimpi dan kenyataan sama saja jika sama-sama harus berakhir, Putra yang platonis karena takut ditinggal oleh yang terkasih, Nia yang terpaksa meninggalkan pria yang ia cintai karena desakan orangtua, dan banyak lagi. Meski berangkat dari latar yang berbeda-beda, takdir “cerita cinta berakhir di sini” yang mereka alami seperti kutukan beruntun. Ketika saya telusuri, setiap mereka saling berkait. Diana sempat berpacaran dengan Rio, lalu mematahkan hatinya. Rio lalu berbagi cerita kepada Putra. Putra adalah pria yang ditinggalkan Nia. Daaaan … seterusnya.

Tetapi sebagai sebuah bongkah yang tersusun dari banyak kepribadian, menurut saya Here After belum cukup demokratis. Karakter tiap tokoh tidak hadir secara utuh. Penulis yang bermain peran masih membayang secara kuat, misalnya pada tebaran sisipan seputar buku dan film yang masih terpusat pada satu selera. Diana yang rebellion pun tak terbaca cukup nyaman menjadi dirinya sendiri. Meski menggunakan “gue” sebagai kata ganti orang pertama, kebakuan tata bahasa masih memenjarakannya. Misalnya di sini:

“Awalnya dia tidak terima. Dia berusaha sekuat tenaga agar gue mau memikirkannya lagi (halaman 19).”

Menurut saya, pemilihan kata tidak dan agar bertabrakan dengan sebutan gue yang dikedepankan sebagai identitas ke-rebel-an Diana. Diana, yang seharusnya bertanggung jawab terhadap karakternya sendiri karena hadir dalam sudut pandang orang pertama, menjadi sosok yang agak tanggung. Ia berusaha tampil rebel melalui casing, tapi tak terasa berhasil merasakan ke-rebel-an tersebut.

Sebetulnya Here After ini cukup menarik. Ia dapat menjadi etalase untuk memahami sosok dengan beragam latar belakang. Tetapi, mungkin ada baiknya batu-batu Here After disemen demi keleluasaan gerak. Saya yakin, ketika dikenali dan dipercaya, pada akhirnya setiap tokoh dalam Here After akan terpisah sekaligus merekat. Bercerita utuh sebagai dirinya sendiri, sekaligus punya kesadaran untuk berbagi ruang dengan tokoh-tokoh yang lain.
***

“Semoga kamu berakhir bahagia,” kata saya sambil menepuk bahu Here After hati-hati, takut ia rontok lagi.
“Oh, jangan. Ini sudah pilihan saya, membagi yang pahit dan muram dari sebuah kisah cinta.”
“Baiklah. Semoga … semoga …apa, ya ? Semoga kita segera sampai di baris depan antrian kalau gitu … hehehe …”
“ … “
“Nggak lucu, ya? Iya, sih, kalau yang ini memang nggak lucu, kok … hehehe …”
“…”
“Jangan kayak batu gitu, dong, ngeliatinnya, Dea jadi salah tingkah, nih …”
“Dea, saya memang terdiri dari batu-batu. Ingat ?”
“Oh, iya, ya …”

Kami berdua lalu berhenti mengobrol. Antrian bergerak perlahan, juga kisah Here After yang mencapai pungkas perlahan-lahan. Setelah mengawali bongkahnya dengan lagu Love Hurts – Nazareth yang putus asa, Here After mengakhirinya dengan Love Hurts –Incubus,

Love hurts, but sometimes it’s a good hurt
And it feels like I’m alive
Love sings, when it transcends the bad things
Have a heart and try me
‘Cause without love, I won’t survive

Saya tersenyum. Di tengah seluruh kisah cinta yang berakhir duka itu ada optimisme juga. Saya belajar bahwa monokrom tak hanya terdiri dari dua warna. Ada kekayaan gradasi di antara kutub hitam dan putih.

Lalu saat itu Here After dan saya tak lagi berdiri di ujung paling belakang antrian panjang. Kami telah terselip di tengah-tengah …

Sundea

0 comments: