Andi yang Menjinakkan Perahu Naga di Buntutnya


perahunagadaridepan

Naga itu jinak. Tak satu kalipun ia menyemburkan api. Mungkin, karena setiap hari berenang mengelilingi danau, perutnya ditentramkan oleh air tenang sedalam tujuh meter itu. Atau mungkin Andi, pemuda asal Flores yang mengemudikan lajunyalah yang membuat Si Naga terjaga dalam ketenangan.



vaidiekornaga“Boleh foto-foto di sini, nggak?” tanya Vai, adik saya, sambil berdiri di dekat buntut naga.
“Boleh aja, sih … asal … jangan jatuh saja,” sahut Andi.

Maka Vai bergeser ke dekat buntut naga. Eko, teman kami, mengambil posisi agak akrobatik untuk memotret. Andi melirik mereka berdua sedikit khawatir. Untungnya, ia yang juga duduk di sekitar buntut naga dapat mengawasi dari dekat. Perahu naga ini memang dikemudikan dari belakang. Unik juga.





“Kenapa harus dari belakang?” tanya saya.
“Kalau dari depan nanti view-nya nggak bagus,” sahut Andi.


Saya mengamati para penumpang yang asyik menatap danau secara lepas. Seperti prinsip “tut wuri handayani”, kemudi adalah pemeran penting yang mendukung dari belakang. Andi sendiri adalah juru mudi berdedikasi. “Saya bawa perahu ini dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore. Nonstop. Bisa seratus kali bulak-balik. Kalau lagi ramai susah istirahat makan, paling dikasih waktu lima menit saja untuk makan,” curhatnya. Kendati begitu, ia yang telah empat tahun bekerja sebagai juru mudi perahu, mencintai pekerjaannya. Mungkin ia teringat pada kampung halamannya di Flores yang dekat dengan lautan.

“Bisa jauh-jauh kerja ke Taman Buah Mekarsari gini gimana ceritanya ?” tanya saya lagi.
“Oh, saya lihat lowongan kerja di koran.”


Perahu naga berhenti di dermaga. Penumpang segera turun, bertukar tempat dengan rombongan penumpang lain yang telah menunggu.

“Eh, saya mau tanya lagi. Bintangnya apa, Mas?”
“Gemini.”
“Waaaa … sama. Lahirnya tanggal berapa?”
“9 Juni.”
“Wooow … kita beda sehari. Saya tanggal sepuluh.”



Sebentar kemudian, Eko, Vai, dan saya sudah meninggalkan perahu naga. Menanggalkan pelampung oranye yang menjaga tubuh kami. Sambil berjalan menuju wahana permainan lain, saya merapikan catatan obrolan saya dengan Andi. Tahu-tahu saya tersadar. Sepanjang mengobrol, saya sama sekali tak menanyakan nama belakang Andi. Ini sesuatu yang tak biasa, apa lagi saya tahu, bagi seorang Flores nama belakang cukup penting. Ia penentu identitas dan garis keluarga.

Posting ini meceritakan sistem mengemudi tidak biasa, dari belakang perahu. Lalu nama belakang pengemudi pun seperti terlupakan secara misterius ….

Sundea






Foto-foto: Sundea, kecuali dua foto teratas: Ekovich. Makasih, ya, Ko … =D

0 comments: