Anak Beruang, tuhan, dan Hati Seluas Langit


Anak Beruang dan tuhan biru bermain apa saja di halaman rumah. Kadang tuhan berpura-pura menjadi parasut. Kadang mereka menyanyi-nyanyi. Kadang Anak Beruang membenamkan kepalanya di dalam tuhan, lalu seluruh dunia terlihat biru. Keduanya tertawa-tawa gembira meskipun sama sekali tak ada yang lucu.
Setelah lelah berlari-lari, Anak Beruang membentang tuhan yang luas di atas rumput. Ia lalu berbaring di atas tuhan biru sambil sama-sama menatap langit.


“Tuhan, langit itu luas juga, ya,” kata Anak Beruang.
“Iya,” sahut tuhan.
“Kalau kita minta hati seluas langit, bagaimana cara menyimpannya? Kita sendiri kan tidak seluas itu …”
Tuhan tidak menjawab. Ia membiarkan Anak Beruang berpikir sendiri. 



Angin siang yang wangi air danau bertiup ke arah mereka. Tuhan yang suka menyanyi bersenandung lirih, “kresekresek … kresekresek …” Anak Beruang terkantuk-kantuk. Di atas tuhan dan di bawah langit ia tertidur.

###

“Di sini kamu ternyata,” tahu-tahu Ibu Beruang sudah berdiri di sebelah Anak Beruang dan tuhan. Anak Beruang terbangun. Ia menguap, menggosok-gosok matanya, lalu duduk di atas tuhan yang masih terbentang.

“Kenapa, Bu?” tanya Anak Beruang.
“Kamu kan belum makan. Sesudah itu, kalau mau tidur siang, ya di kamar, jangan di halaman.”
“Baiklah …”

Ketika Anak Beruang hendak berlari masuk rumah, Ibu mengambil tuhan yang terbentang. Ia meletakkan tuhan yang luas di pangkuannya lalu melipatnya menjadi segi tiga kecil. Anak Beruang tidak jadi berlari, ia mengamati Ibu dan tuhan di hadapannya.

“Ibu, kenapa tuhannya dilipat-lipat?”
“Supaya ringkas disimpan dalam lemari.”

Anak Beruang jadi teringat pada pertanyaannya sendiri, “Kalau kita minta hati seluas langit, bagaimana cara menyimpannya?” Kini ia tahu jawabannya.

Langit yang luas mengiris dirinya menjadi lembaran. Ia terbang bersama angin, lalu terhirup ketika Anak Beruang menarik nafas sedalam-dalamnya. Hati Anak Beruang yang semungil dan semerah apel menangkap sebisanya.

Siang itu, sambil makan roti oles madu, Anak Beruang belajar melipat langit menjadi segi tiga kecil …


cerita dan ilustrasi: Sundea

2 comments:

Tiya mengatakan...

sukaaa sama foto tangan beruang megang plastiknya.. lucuuuuu ^^
keep shining ya salamatahari ^^

Sundea mengatakan...

Terimakasih sepupuku ... *cups*

FYI, pas pembuatan gambar Anak Beruang ini Tiya ada. Dia mensponsori Dea dengan kertas dan serutan =D