Surat untuk Lebah


Halo Lebah,
ini aku, Anak Beruang. Setiap pagi ibu memberiku madu untuk sarapan. Menurutku madu enak sekali. Aku terkagum-kagum pada pembuatnya, jauh sebelum aku mengenal kamu.

Sampai pada suatu hari aku melihat makhluk kecil kuning-hitam di halaman rumahku. Itu kamu. Kamu begitu kecil tapi punya daya tarik besar. Di tengah suara angin dan burung-burung, kamu berdengung dengan berani. Sayapmu bergeletar penuh keyakinan. Kamu pun terbang tanpa keraguan. Pagi itu aku berlari-lari mengikuti kamu; mungkin kamu tahu, mungkin juga kamu tidak tahu.

 Surat cinta anak beruang untuk lebahsmall




Beberapa waktu kemudian barulah aku tahu kalau kamu lebah pembuat madu. Ayah bilang lebah menyengat, jadi sebaiknya aku berhati-hati. Kata ayah lagi, setelah menyengat dan membuat kita bengkak, lebah pasti akan mati. Mendengar penjelasan ayah aku jadi sedih sekali.

Tapi aku adalah Anak Beruang yang selalu penasaran. Setiap melihat kamu, aku tak tahan untuk tidak berlari-lari mengikuti. Aku menuturimu menghisap nektar dari ribuan bunga, mencermati caramu menyimpan dan mengolahnya menjadi gula sederhana, serta terpesona melihatmu mengipasi nektar hingga kering dengan sayapmu yang tipis dan kuat. Lebah, kamu adalah makhluk kecil yang menakjubkan. Kamu punya ketekunan istimewa dan keyakinan pada apa yang kamu pilih untuk kerjakan.

Lalu kita jadi sering bermain bersama. Kita sama-sama menyukai bunga-bunga, sama-sama suka memintas angin, sama-sama menyukai warna kuning, dan sama-sama menyukai wangi limun. Kadang-kadang kita bersentuhan, tapi kamu tidak pernah menyengat aku. Mungkin kamu tidak menganggapku ancaman sama sekali. Atau mungkin kamu ingin hidup lebih lama supaya kita punya waktu lebih panjang untuk bermain bersama. Aku tidak tahu. Kita tidak pernah membahasnya.
Anak-anak boleh jatuh cinta pada apa saja, itu sebabnya aku rasa aku boleh jatuh cinta pada lebah. Kelak, setelah dewasa, mungkin aku akan jatuh cinta pada beruang dan mengerti mengapa setiap beruang harus jatuh cinta pada beruang lagi.

… atau mungkin juga aku akan memutuskan jadi Anak Beruang selamanya. Mungkin juga kamu akan memutuskan untuk tidak menyengat selama-lamanya …

Waktu punya kebijaksanaannya sendiri, Lebah, sebetulnya hidup tak pernah membatasinya …

I cherish the moments,

Anak Beruang

Sundea

Artwork: Teddy Karas Onyskow : Ilustrator yang pemalu dan cinta kedamaian. Di hutan, kadang-kadang dia menyamar menjadi Tuan Antilop ;)

Terimakasih juga untuk my beloved friends Theoresia Rumthe (twitter: @perempuansore) dan Om Em (twitter: @omemdisini).

======================================

Halo, Salamatahari mengundang teman-teman untuk ikut berpartisipasi dalam Rubrik “Anak Beruang”.

Teman-teman boleh, lho, menggambar tokoh Anak Beruang (yang sering muncul secara random di twitter @salamatahari) versimu, kemudian kirim dalam format JPEG ke salamatahari.sundea@gmail.com. Jangan lupa sertakan profilmu, ya … ;)


Bisa juga kita berdiskusi dulu sebelum gambar dan cerita dibuat.


Jangan ragu-ragu, segera kirimkan karya kamu. Mari kita nge-jam karya =D

2 comments:

Aldriana A. Amir mengatakan...

halo,
suka sekali dg cerita-cerita 'anak beruang'nya..
ingin ikutan berkolaborasi dg sundea, tp saya ga pandai bikin cerita.. nanti saya coba kirim gambar beruangnya aja, ya! ;D

Sundea mengatakan...

Wooow ... seriusan ? Wah, boleh banget. Entar kita email2an, ya ... =D

Dea udah main ke blog kamu. Dea suka banget gambar kamu. Terus percaya apa enggak, buku cerita pertama yg kita baca sama2 "Noddy", lho ...