Ibu


cover-grace-teslacopy Ibu adalah pangkal kehidupan. Kasih sayang, misteri, dan pesona berbaur dalam citranya.

Istilah "anima" yang merujuk pada "dunia roh" berasal dari kata an (surga) dan mum (ibu). Roh mewakili bagian intuitif dari pikiran dan pengalaman, karenanya, para alkemis percaya bahwa setiap roh adalah perempuan.

Bumi adalah pangkal kehidupan. Kasih sayang, misteri, dan pesona pun berbaur dalam citranya. Mungkin dari sanalah istilah semacam "Mother Earth" atau "Ibu Pertiwi" lahir. Pada album "Grace Tesla" yang bahkan dianggap absurt oleh musisinya sendiri, Tesla Manaf Effendi dan Grace Sahertian, saya menemukan nyanyian bunda bumi. Inilah laporan perjalanan saya menutur nyanyian "Mother Earth" bersama empat lagu di album "Grace Tesla".



"Deru" membawa saya ke laut. Vokal ganjil dan gamang yang dibayangi lengking biola mengalun dengan ketukan tidak tetap. Ia adalah ombak malam hari yang bergulung-gulung, berusaha menancap di pantai. Di sana ada kepedihan, kesedihan, amarah, obsesi, dan ambisi.

"Kamu tidak bisa menancap di pasir, Ombak," ujar saya sambil mundur selangkah, "Kamu hanya bisa meninggalkan jejak dan sedikit diserap ..."

Ombak terus menderu dan mendera. Hingga pada sebuah titik, ia tiba-tiba berhenti. Buihnya luruh, menjelma menjadi bening yang hening. Pekik camar membelah suara angin. Vokal ganjil dan gamang berganti dengan nada-nada yang lebih teduh, ketukan yang lebih lamban, namun teratur. Saya tahu saat itu segala gejolak telah redam dalam satu kata: berterima.

Air laut mencapai tepi pantai dengan santun. Saya menyentuhkan telapak kaki saya di permukaannya kemudian berlayar dengan kisah berikutnya.

"Intervention" adalah sebuah perjalanan panjang bersampan menuju daratan. Alunnya yang perlahan membuat saya utuh merasakan angin, mencium bau laut, mencermati bintang, serta mengenali takut dan berani yang berbagi ruang dalam diri saya. Di sela suasana kontempelatif itu, bunda bumi berbisik, "Jangan khawatir, Dea, sepanjang dan sejauh apapun perjalananmu, aku selalu campur tangan. Kamu tidak akan hilang..."

Saya pun lelap dan berserah.

Sampan membentur daratan. Saya terjaga. "Selamat pagi, selamat datang di pulau ‘Dear Mom'," sapa bunda bumi. Matahari belum tinggi, namun cahaya mudanya menyinari pulau berpasir hitam-putih di hadapan saya.
"Dear Mom" adalah pulau yang kompleks dan kaya. Berbagai tanaman bersemi di sana; mulai dari indah, sampai yang buruk. Yang sehat, sampai yang beracun. Hewan jinak dan liar pun berlalu lalang di mana-mana. Teduh dan terik memiliki tempatnya masing-masing. Perlindungan dan hukuman diikat oleh sebuah benang merah: harmoni.

Saya naik ke atas pohon, mengamati pulau tersebut dari sebuah jarak.

Di sela-sela ketenangan, insting saya halus memperingatkan adanya bahaya. "Apa ini?" gumam saya. Tiba-tiba bulu kuduk saya berdiri tajam. Degup jantung saya menghantam. Sesuatu yang magis membuat saya beku. Sebelum saya sempat menoleh... ssshpppzzzzt...

Leher saya terpagut ular. Ini adalah "The Coincidence Fever". Bahaya menyergap cepat, namun waktu berjalan lambat ketika bisa ular merambat dalam darah.

*gelap gulita*

Sundea

Teman-teman, buat kisah petualanganmu sendiri dengan album "Grace Tesla". Segera pesan album ajaib ini kepada Debolitta di 0818203757.

Untuk info lebih lengkap, kunjungi www.soundcloud.com/tesla-manaf-effendi

0 comments: