Pernahkah Kamu Mendengarkan Cahaya?


Pernahkah kamu mendengarkan cahaya? Pukul setengah lima tadi pagi, seberkas cahaya mengorek telinga saya seperti cotton bud:

Wake up, see the sunlight, through your window …
Saya menanggapinya dengan dengkuran.
“Give it smile, can you feel this …,” lanjut si pengorek yang ternyata bernama Morning Call itu.
“Haduh, masih subuh, nih. Kayaknya mataharinya masih ileran, deh. Jendelanya juga masih ngantuk, ” sahut saya tanpa membuka mata.
“Dea, telinga kamu itu jendela yang lain. Yang sekarang perlu kamu buka cuma telinga, kok …”



Karena telinga saya sudah terjaga lebih dulu, saya biarkan ia membuka dirinya lebar-lebar. Morning Call menghamburinya dengan kord-kord bright yang bersinar cerah. Diawali dengan gitar yang dinamis dan hangat, disusul denting cemerlang dan drum menyenangkan, masuklah vokal ringan seorang pemuda yang terdengar masih cukup belia. Meski artikulasinya tak terlalu jelas, saya menikmati keramahan yang memancar dari warna suaranya. 

Lucu juga. Meski diiringi koord-koord mayor sembilan yang berseri, Morning Call menghaturkan melodi-melodi yang nyaris seluruhnya pentatonis. Tanpa koord dan detak drum, lagu tersebut akan terdengar seperti lagu tradisional Jawa yang mendayu dan melankolis. Saya menemukan kesenduan dan keseruan dalam satu paket. Entah mengapa rasanya nyaman seperti angin sepoi-sepoi yang mengiringi kita bersenam pagi. 

“Eh, Morning Call, sebetulnya kamu sedang senang atau sedih, sih?”
“Apakah senang dan sedih harus selalu berdiri sendiri-sendiri?”
Saya terkesiap.

Saya duduk di sisi tempat tidur. Megerjap sejenak, kemudian memutuskan untuk meninggalkan kasur. Morning Call mengakhiri lagunya dengan nada dan pukulan drum yang menggantung. Ketika saya berhenti mendengarkan cahaya, baru saya sadari bahwa pagi itu hujan turun. Suara deras rongrongan yang sejak tadi disembunyikan cahaya Morning Call kini tak punya saingan. Mata saya yang baru terbuka pun menangkap warna mendung yang menyusup dari sela-sela jendela. 

You are my shining light … nananananana,” saya menyenandungkan sebagian kecil cahaya Morning Call sambil membuat kopi. Meski pagi itu matahari redup, saya senang-senang saja. Kadang, ketika tak bisa melihat cahaya, mendengarkan cahaya bisa menjadi pilihan.

Sambil menyeruput kopi, saya mulai menulis semacam review ini. Membukanya dengan sebuah kalimat:

“Pernahkah kamu mendengarkan cahaya?”

Sundea

daylightlogo Daylight adalah band asal Bogor yang berdiri sejak tahun 2004. Beranggotakan Avid Norman (vokal), DC (gitar dan backing vocal) , Adi (bas), dan Adi (drum). Morning Call adalah salah satu lagu mereka. Untuk mengenal mereka lebih jauh dan “mendengarkan cahaya”, klik http://www.reverbnation.com/daylighttheband




Ingin musikmu diperkenalkan dan di-review ala Salamatahari? Kirim email ke salamatahari.sundea@gmail.com atau mention @salamatahari di twitter. Jangan lupa kirim/sertakan link musikmu, ya ... ;)

0 comments: