Rain on Meadow yang Merawatmu

Di sela lagu Rain on Meadow, gemuruh guntur dan gerisik hujan hadir seperti gema musim ini. Ia mengingatkan kita pada dingin dan rusuh, namun kemudian mentramkan kita dengan nadanya yang hangat. Di tengah demam akibat cuaca, Rain on Meadow adalah lagu yang menjadi segala hal yang menyamankan. Obat penurun panas, kompres, minyak kayu putih, jendela kamar, teh manis hangat, roti bakar lapis mentega, dan sahabat yang senantiasa menemani di sisi tempat tidur sambil menggenggam tanganmu.

 Dibuka dengan not sol dan mi yang bergantian menjaga ritme, memagari kita dari suara hujan yang seperti berusaha menerobos masuk, Rain on Meadow memperkenalkan diri. Selanjutnya mengalun melodi mayor cantik sahaja yang mudah diingat dan berkesan baik hati, dimainkan pada oktaf yang lebih rendah daripada sang pagar penjaga ritme.

“Saya teh manis hangat, silakan diminum,” kata melodi itu. Saya pun meneguknya. Manisnya memulihkan energi, hangatnya menetap di perut dan hati.

Selanjtunya, melodi cantik dan sahaja itu pindah ke oktaf yang lebih tinggi, menjajari pagar ritme. Ketika suara guntur menggelegar, ia seperti jendela yang ditutup rapat-rapat.

“Jangan khawatir, angin tidak akan mengganggumu, petir juga tidak akan membuatmu takut lagi. Pagar menjagamu dari luar. Pada lapis berikutnya, sayalah yang menjagamu,” kata melodi itu. Saya merasa aman dan hangat. Tak hanya angin, suara petir yang sambar menyambar pun jadi teredam.
Bridge Rain on Meadow hadir seperti perhatian dan nasehat: demam yang diakibatkan deraan musim hujan merajalela. Setiap orang perlu melindungi diri dengan makanan bernutrisi, multivitamin, jaket, dan pikiran positif. Namun jika kita terlanjur terserang demam, Rain on Meadow akan duduk di sisi tempat tidur, merawat kita dengan nada-nada yang dapat menjadi segalanya.

Lalu melodi cantik dan sahaja itu kembali mengalun. Merapat pada kita. Memagari kita dari gemuruh guntur dan gerisik hujan. Kita pun merasa akan segera sembuh dan siap melawan ketidakmenentuan musim.

Melihat mata kita telah kembali berbinar sehat Rain on Meadow mohon diri. Perlahan ia memungut pagar-pagarnya, lalu membiarkan kita kembali berlari-lari ke padang rumput dan menciptakan nyanyian kita sendiri.
Suara tawa yang sayup tetap tinggal. Mungkin itu tawa kamu dan saya …

Sundea


Lagu Rain on Meadow diciptakan oleh Tesla Manaf Efendi, musisi muda berbakat yang lahir di Bandung, 29 Agustus 1987. Belajar musik klasik sejak berusia 9 tahun dan belajar musik jazz di usia 19 tahun. Tesla sempat membuat proyek kolaborasi dengan pemusik karinding, membawakan musik etnik dan world music. Kini, bersama G/E/T dan Grace & Tesla, Tesla sedang mempersiapkan album. Mari kita doakan, Teman-teman … =)

6 comments:

Nia Janiar mengatakan...

Waah, kebetulan gue juga mau nulis dari lagunya Tesla. Tapi bukan review sih, tapi semacam karya fiksi pendek. Gue suka Overture No. 1 tapi paling suka After Midnight.

Sundea mengatakan...

Gua paling suka yg ini, Ni ... lagunya kayaknya baik sekali. Dengernya tentram banget ...

BeluBelloBelle mengatakan...

Lupa-lupa ingat...tapi rasa-rasanya pernah dengar nama orang ini. Berhubung ada link-nya lansung terbang kesana deh. Icip-icip satu persatu sambil nyamil bala-bala en baca artikel di salamatahari.

yeaaah yg after midnite enak, overture juga sih..tp ig intervention part 1 2 3 ... juga enaaak.

thx ya udah di posting infonya jadi bisa denger lagu enak :D

Sundea mengatakan...

Dia ada di launching Rona Kata, Bell, main sama Grace, nyanyi "Suci-suci Melati" tea. Iya, emang lagunya keren2 banget. Gua juga salut sama Echa ini ...

Sundea mengatakan...

Hoia, terimakasih kembali, Bell ... =)

Anonim mengatakan...

makasih ya Dea udah di review, gaya penulisannya khas Dea bgt, detail dan presentatif, bahkan hal2 sensitif yg hanya pengarang yang tau pun disinggung dengan sempurna :D

wah Nia aneh juga selera lagunya haha, wah saya ikut terlibat dong dlam karya fiksi pendeknya

Belle terima kasih ya sudah mendengar lagu2 saya yang cukup panjang dan aneh T_T