Dasamuka yang Cantik Jelita

-Gedung Indonesia Menggugat, Minggu, 8 Agustus 2010-

Launching Buku Puisi Rona Kata

Apa jadinya jika sepuluh perempuan dengan latar belakang dan karakter berbeda membundel diri dalam persahabatan? Jawabnya adalah Rona Kata. Pada buku puisi yang sengaja mengangkat perempuan-perempuan di Bandung tersebut tersedia beragam warna. Mulai dari keanggunan sampai keceplasceplosan, mulai dari profesi knitter hingga dosen Ilmu Hukum, mulai dari yang mengaku baru mulai menulis, hingga yang sudah melanglang buana di dunia sastra. 


“Awalnya kita sering diundang ke acara-acara puisi lalu jatuh cinta satu sama lain. Tadinya kita kegenitan, maunnya 21 orang dan bukunya di-launching tanggal 21 April, tapi akhirnya tinggal sepuluh,” papar Violetta Simatupang, salah satu penggagas Rona Kata. “Sebenernya kata gue lima orang paling pas. Baru sekarang ini, nih, kita kumpul semuanya lengkap,” curhat Theoresia Rumthe, koordinator pelaksanaan buku puisi, yang langsung disundul dengan “Deuuuu …” oleh sembilan perempuan lainnya. Tetapi akhirnya kesembilan perempuan lain itu bertepuk tangan untuk Theo.

Ada sepuluh kisah menarik di balik sepuluh perempuan yang mencintai puisi ini. “Buat saya puisi itu self healing,” kata Miranda Risang Ayu Palar, ibu anggun yang telah memiliki dua orang anak. “Saya dibilang hopeless kalau nulis dalam bahasa Indonesia. Tapi akhirnya biarin aja, gua hepi,” cetus Desiyanti, penerjemah lepas yang cantik dan ceria. “Sehari-hari saya bergaul dengan tanah liat, mungkin saya menemukan yang lain dalam merangkai kata,” kata Tisa Granicia, seorang seniman keramik.
Jika Anjar Anastasia yang penulis cerpen menyajikan beberapa puisi panjang dan naratif, Yunis Kartika yang penggiat teater menulis puisi-puisi super pendek dalam satu dua kalimat. “Puisi Anda judulnya Fuga. Apa ada hubungannya dengan ‘fuga’ Nazi yang artinya pelarian?” tanya salah seorang hadirin kepada Yunis. “Saya memang melarikan diri dari kejenuhan atas banyaknya kata-kata,” ungkap Yunis. Yang lucu, ketika mendapat giliran membacakan puisi, ia justru membawakan “puisi paling panjang” se- Rona Kata raya. “Ini perangkum semuanya, judulnya … ‘Kata Pengantar’…” JEDANG!

Seperti pipi yang merona, kecantikan, keceriaan, kasih sayang, dan kehangatan membias di dinding-dinding Gedung Indonesia Menggugat sore itu. Semua terpantul pesonanya. “Apa yang bisa saya lihat di sini adalah gabungan kecantikan dan kerendahan hati,” ungkap Christian Jati, salah seorang pengisi acara. 

Hanya dengan empat puluh ribu rupiah, kamu bisa menjemput Rona Kata di toko-toko buku terdekat. Apa yang ingin diceritakan kesepuluh perempuan ini? Sesap warna mereka, kali ini Dasamuka hadir dalam kasih sayang dan rupa-rupa yang jelita …

Sundea

2 comments:

Rie mengatakan...

Kira2, kapan Theo bikin buku puisi sendiri?

Sundea mengatakan...

Bisa ditanya langsung ke yg bersangkutan, Rie ;)

www.perempuansore.blogspot.com