Cetak Jejak di Tanah Subur

Pameran Seni Rupa “Jejak Sang Guru”

-Galeri Kita, 14-20 Juli 2010-

“The quick brown fox jumps over the lazy dog!”

karya Nico Subagja
Kalimat yang sering diucapkan berulang-ulang oleh almarhum Pak Tarya, dosen senior di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tersebut, menjelma dalam karya Nico Subagja. Selain menjadi judul, kalimat itu pun ditulis di tengah-tengah kanvas besar yang berlapis kertas buku tulis basah. "Kalimat itu diucapkan karena perjuangan membuat tugas komunikasi visual tidak mudah," ujar Jarot, salah satu mahasiswa seni rupa UPI. Ada kesepian dalam karya Nico, tapi juga ada jejak ingatan yang mengkristal.

Guru adalah orang-orang yang menginjak lumpur kemudian meninggalkan jejaknya untuk kita ikuti. “Jejak Sang Guru” (JSG) sendiri adalah sebuah gerakan seni untuk pendidikan. “Anggotanya dosen-dosen alumni seni rupa UPI. Programnya rencananya sampai 2016. Kami sudah mengadakan Workshop Management Pameran dan Galeri Nasional Goes to School Juni lalu,” papar Ibu Meyhawaty Yuyu Rasep, panitia sekaligus peserta pameran.

Ibu Yuyu dan karyanya
Apa yang dijejakkan para guru sesungguhnya dibangun dari jejak-jejak guru sebelumnya. Agar sambung menyambung jejak tersebut terterapkan secara nyata, diadakanlah pameran yang dikurasi oleh Hardiman, Eddy Hermanto, dan Ardiyanto ini. "Untuk saya pribadi, ini membangkitkan memori lama," ucap Bu Yuyu.
Lalu selama sepekan lima puluh tiga karya hadir sebagai proyeksi jejak para guru; meninggalkan jejak-jejak yang tercetak di tanah subur. Tanam benih berkesenian, kemudian tumbuh, tumbuhlah menjadi pohon yang kokoh … 

Yang Ditanam
Seorang siswi SMU terlihat asyik mengamati “A Spoon #1” karya Yaya Sukaya. “Dari pertama liat, aku langsung suka. Simple, cuma garis-garis tapi bisa ngehasilin bentuk yang bagus. Terus ada warna merah mencolok yang kontras di bibirnya,” Budi Kusuma yang duduk di kelas 2 SMU 5 mengapresiasi. 

Siswa-siswi SMU 5 yang pernah didatangi JSG mendapat tugas sekolah mengapresiasi karya. “Kita disuruh milih dua lukisan terus ngeliat goresan, warna, komposisinya,” Budi Kusuma menjelaskan. “Kamu suka seni, Non ?” tanya saya. Budi Kusuma tersenyum sambil mengangguk malu-malu. “Mau jadi seniman ?” tanya saya lagi. Budi Kusuma tampak mempertimbangkannya. Mungkin …
Sundea

Komentar