Balon Crocs dan Ariel Peterpan

Yang ditendang-tendang tapi bukan bola


Di bawah nama besar merk sepatu Crocs, sebuah balon tetaplah balon. Kuasanya tak lebih besar daripada kaki-kaki yang berlalu-lalang dan menendanginya sekedar karena iseng. Balon melambung lelah, bertahan agar tidak pecah, lalu menepi saat tak ada lagi kaki-kaki.


Selebritis tidak celebrating apa-apa. Seperti balon, mereka justru sekedar elemen perayaan. Kuasanya tidak lebih besar daripada media dan masyarakat yang mempermainkan nama besar mereka. Para selebritis melambung lelah, bertahan agar tidak pecah.
Namun bagaimanapun juga, seperti balon selebritis tetap manusia yang rentan. Pada suatu hari, ketika kamera infotainment ditodongkan secara agresif ke wajahnya, dengan tak terduga Ariel merenggut dan mematahkan kamera tersebut. Isu yang beberapa saat terakhir berpusat pada video mesum Ariel pun bercabang ; media mendapat mainan baru.


Kaki-kaki lewat lagi. Dengan sengaja mereka menghampiri balon yang sedang bersandar di teralis lalu menendangnya sampai ke tengah. Balon merunduk-runduk payah, bercermin pada lantai yang hitam licin. Di bawah nama besar merk sepatu Crocs, kuasanya tetap tak lebih besar daripada kaki-kaki.

“Lu ngambil gambar terlalu deket !” protes Ariel. Nama besar tak membuat kuasanya lebih besar daripada media. Hari itu juga video Ariel menghancurkan kamera ditayangkan secara hiperbolis dan berulang-ulang. Ariel menjadi cermin bagi siapapun yang menyaksikannya di layar licin dan “hitam” televisi. 

Balon Crocs melambung perlahan. Ketika sudah tak ada kaki-kaki, ia yang sendiri menatap saya dari balik teralis. Di sana ada gambar buaya simbol Crocs yang tersenyum templatik; mungkin kepada saya, mungkin untuk dirinya sendiri.


Buaya adalah hewan yang sehidup semati dengan satu pasangan. Lalu mengapa ia menjadi simbol laki-laki yang tidak setia ? 

Sundea

Dimuat juga di curipandang.com 12 Juni 2010

2 comments:

M. Lim mengatakan...

Sesungguhnya tadinya aku nggak terlalu menggemari Ariel
tapi sesudah terjadi tragedi ini, aku agak mengaguminya yang sungguh rokenrol dalam tindakan dan perbuatan. :D

Tapi tetap
aku tidak menggemari Ariel :)

hihihi

btw, Buaya ternyata keren juga ya

Sundea mengatakan...

Menganggumi nggak musti menggemari ... hehehe ...

Iya, buaya itu keren. Mangkanya orang Betawi kalo nikah pake roti buaya, Mir ...