Frankenstein

: untuk K.A Argo Parahyangan

Dalam novel Frankenstein karya Mary Shelley, seorang professor menjahit serpihan orang mati dan membangkitkannya kembali dengan listrik dan petir. Dengan wujudunya yang baru, ia manusia hidup atau manusia mati ?


Sejak beberapa waktu yang lalu, merebak kabar K.A Parahyangan akan “di-euthanasia”. Dan benar, Teman-teman, sejak 27 April 2010, tamatlah riwayat K.A Parahyangan. Ia yang telah beroperasi selama lebih dari tiga puluh tahun tak kuat menanggung sesak nafas karena kerugian yang mencapai 36 miliar rupiah per tahun. 

Tetapi ternyata ia tidak dibunuh sepenuh. Serpih K.A Parahyangan dijahit dengan K.A Argo Gede ; menjadi makhluk baru yang terdiri dari K.A Argo Gede, dua kereta bisnis, empat kereta eksekutif, dan satu kereta makan. Di bawah nama K.A Argo Parahyangan, separuh nafas K.A Parahyangan akan beringsut kembali.
Saya yang rencananya ingin menulis obituari K.A Parahyangan jadi bertanya-tanya; sebetulnya K.A Parahyangan ini sudah meninggal atau belum, ya ? Separuh nafasnya mungkin telah jadi roh, tetapi separuhnya lagi kembali memijak rel. Tahu-tahu saya teringat kisah Frankenstein, merasa menemukan kemiripan antara K.A Argo Parahyangan dengan makhluk dalam kisah tersebut.

Perayaan terhadap sains dan obsesi mengembalikan hidup kepada kematian membuat Frankenstein dan dosennya, Henry Clerval, menciptakan semacam manusia dari tubuh almarhum korban kecelakaan tragis. Lalu sebentuk makhluk menjelma. Separuh nafasnya seperti manusia, tetapi separuhnya lagi memijak identitas secara gamang.

Sebagai sosok “di antara”, makhluk ciptaan Frankenstein ini mengalami masalah sosial dan kesulitan memenuhi kebutuhan. Terjalinlah love-hate relationship antara makhluk ciptaan dan tuannya. Makhluk ciptaan marah karena diciptakan, tetapi juga terikat secara emosional dengan sang tuan. Meski ia sempat menyerang Frankenstein bahkan mengambil jantung tunangan Frankenstein untuk dijadikan makhluk perempuan semacam dirinya, ketika Frankenstein meninggal, dengan murka ia berseru, “HE IS MY FATHER !!!” Sungguh dilematis, bukan ?

Pertanyaan tentang keterikatan dan keterlepasan dalam Frankenstein akhirnya kembali ke titik tolaknya; hidup dan mati; oposisi biner yang mungkin mengandung jarak tempuh “di antara”.

Hingga catatan ini ditulis, saya masih belum tahu apakah saya perlu menulis obituari untuk K.A Parahyangan. Keterlepasan gerbong-gerbong kereta itu membangun keterikatan dengan gerbong-gerbong yang baru. Saya yang ketika kecil terbiasa bulak-balik Bandung-Jakarta dengan K.A Parahyangan mengenal baik nafas gerbong-gerbong tersebut. Karena itu, keterikatan dan keterlepasan gerbong-gerbong K.A Parahyangan membuat saya secara sentimentil mempertanyakan hidup dan mati kereta ini.

Ada jarak, K.A Argo Parahyangan. Kelak rel yang kau tempuh akan menentukan siapa kamu sesungguhnya. Selamat datang di dunia transportasi ! 

Sundea

Komentar