Ruang Kelabu Iman Rahman “Kimung” Angga Kusumah

kiming Langit kelabu. Commonroom yang terletak di Jln. Kyai Gede Utama, Bandung, termaram dan suram. Iman Rahman Angga Kusumah alias Kimung, pengajar, musisi, dan penulis yang kerap membagi kisah-kisah muram, duduk sendirian di sisi meja lingkar. 

Kimung sempat menjadi bassis band cadas Burgekill dan menulis Myself Beyond Life and Death, buku tebal mengenai kisah hidup almarhum Ivan Scumbag, vokalis Burgerkill Burgerkil. Kini Kimung pun tengah menyelesaikan sebuah buku mengenai Ujung Berung Rebel. Apa yang membuatnya begitu rekat dengan hal-hal kelabu?

Dea : Kiming, kenapa, sih, elu suka bikin musik dan buku yang kelabu-kelabu gitu ?
Kimung : Karena … kelabu itu indah. Kalau nggak ada kelabu nggak akan ada cahaya. Kan cahaya dihantarkan oleh abu-abu kecil. Eh … tapi kalau abunya banyak, nggak tau juga, ya. Kayak pas Galunggung meletus, kan cahaya matahari jadi nggak keliatan. Ke mana-mana harus pakai payung.

Dea : Nah, kalau pendapat lu tentang abu-abu yang kayak begitu gimana, Kim ?
Kimung : Asik juga. Biasanya banyak warna, itu jadi kelabu semua. 

Dea : Menurut lu, kelabu itu apa, sih ?
Kimung : Kalo kelabunya maksudnya warna, artinya ketika item sama putih bersatu; jadi putih tua sama item muda … hahahaha …

Dea : Hahaha … terus kalo buku Scumbag kelabu yang gimana ?
Kimung : Kalo nariknya dari konotasi item dan putih, Scumbag jadi abu-abu karena banyak obyek yang menarik ke dua-duanya. Scumbag banyak yang itemnya, banyak juga yang putihnya. Jadi kita bisa menghargai satu obyek dari warna-warna yang dia keluarkan. Ada interpretasi. Banyak orang yang nggak mau nerima kabar buruk. Dari buku gua, ada kabar buruk, ada kabar baiknyanya juga. Buku ini dulu sempet jadi masalah di sekolah (sebagai informasi, Kimung adalah guru di sekolah Tunas Cendekia Cendekia Muda).

Dea : Masalah gimana ?
Kimung : Orangtua murid beranggapan apa yang dilakukan Scumbag dapat menginspirasi anak-anak mereka untuk melakukan apa yang dilakukan Scumbag. Misalnya, minum drugs. Nah, padahal di situ ada interpretasi yang gua bilang itu. Orang cuma melihat apa yang dia lakukan, bukan kenapa dia melakukannya. Sebetulnya kalau orang bisa menikmati kelabu dengan tenang, kayaknya asik.

Dea : Sedaaappp … btw, Kim, kalau sisi kelabu lu apa ?
Kimung : Banyak … hahaha .. kalau yang paling … gua kalau nulis pakai pensil. Warnanya kan kelabu-kelabu gitu. Walaupun nulis pakai pensil, gua nggak pakai penghapus juga. Kalau salah, ya dicoret. Kalau itu (menunjuk spidol) kan untuk menilai di sekolah. 

Dea : Hahaha … iya, ya. Eh, pertanyaan terakhir agak nggak nyambung, nih. Nama lu kan Iman, ya, kenapa panggilannya Kimung ?
Kimung : Itu panggilan sayang dari kecil. Dulu mah dipanggilnya “Si Kilimung, Si Kilimung”.

Dea : Hmmm … jangan-jangan keluarga lu bisa ngeliat ke masa depan gitu, Kim. Dari lu kecil, mereka udah tau kalo lo suatu saat bakal jadi bassisnya Burgerkill. Burgerkil Burgerkill Burgerkil itu nama lengkapnya “Burgerkillimung”, ya ?
Kimung : Hahaha … alus, alus eta (bagus, bagus itu). Untuk masukan kalau ada yang nanya lagi …

Wawancara sore itu ditutup dengan serah terima Salamatahari # 2 dari Sundea kepada Kimung. Entah mengapa, hari itu Dea ingin sekali memberi Kimung buku tersebut. “Wah, tadi pagi gua baru ngasih Salamatahari 1 terakhir yang gua punya ke murid gua yang ulangtaun. Nggak taunya, sore ini gua malah dapet yang ke dua,” tanggap Kimung riang. “Iya ? Kayak udah jalannya, ya … kesannya yang pertama emang dilepas supaya ada ruang buat yang ke dua,” kata Dea.

Ada ruang kosong di antara pagi dan sore. Kelabu. Mungkin ia adalah jeda yang mewujud ruang kosong itu. 

Sundea

0 comments: