Membingkai Bintang-bintang

-Lembang, Sabtu 27 Maret 2010-

Konser Indonesia Sekali Lagi

Hujan mengepung The Venue Conert Hall, Eldorado, Lembang. Bersama event yang berlangsung pada tanggal dua puluh tujuh itu ia membingkai tiga penyanyi Indonesia yang tersebar di berbagai belahan dunia ; Daniel Sahuleka, penyanyi beradarah Maluku-Sunda yang hidup di Belanda, Sandhy Sondoro, penyanyi Indonesia yang menetap cukup lama di Jerman, dan Deugalih, pemuda Indramayu yang berdomisili di seputar Jatinangor-Bandung. 

Meski ruang lengang dan penonton kedinginan digigit AC, para penampil berhasil menyampirkan kehangatan. Seperti merajut syal, Deugalih dan full bandnya membawakan sembilan lagu, Sandhy Sondoro sepuluh lagu, dan Daniel Sahuleka sekitar lima belas lagu.

Panggung yang gagah dan lapang dipijak oleh bintang-bintang yang bersinar memukau namun sederhana. Deugalih, pencipta soundtrack Salamatahari yang sempat juga membawakan lagu Salamatahari dalam konser tersebut, tampil tak bersepatu. “Ini pertama kalinya saya manggung pakai tiket,” ia mengaku terus terang kepada penonton.

Deugalih and the band

Bintang sebesar Daniel Sahuleka pun tampil bersahaja. Berkaus kutung, sendiri di tengah panggung, ia membawakan lagu-lagu romantis diiringi petikan gitarnya. Romantisme semakin lekat ketika ia menceritakan rasa cintanya terhadap Indonesia, “Waktu ada di Belanda, aku homesick Indonesia. Waktu aku ada di Indonesia, aku homesick Belanda”. Kebimbangan itu menghantarnya mencipta Anak Kecil, lagu tentang seseorang yang mempertanyakan di mana ia berdasar ; timur atau barat.

Menjelang lagu Don’t Sleep Away the Night dinyanyikan, lampu-lampu kecil di sekeliling ruang konser tahu-tahu menyala. Kerlap-kerlip seperti bintang. Daniel Sahuleka terkesiap. Seperti anak-anak, excitement-nya tak tersembunyi. Saat ada “bintang” baru yang menyala, ia tak tahan untuk tidak menyanyi, “Ada bintang di sana … di sebelah sana juga …”

Daniel Sahuleka dan bintang-bintang
 Konser berakhir cukup larut malam. Seperti tersihir, penonton pun ikut larut dengan waktu dan nuansa. Bintang-bintang yang bersinar di dalam ruang konser beristirahat. Tapi sinarnya masih membias di mana-mana. Sepanjang jalan keluar dari ruang konser, tak henti-hentinya saya mendengar penonton berdecak kagum membahas para bintang yang tampil malam itu.

Tahu-tahu saya teringat cuplikan lagu The Rainbow Connection-nya Kermit the Frog,

What’s so amazing that keeps us star gazing
All of us under its spell, we know that it’s probably magic …

Sundea

Lagu-lagu Deugalih bisa diunduh gratis di sini

4 comments:

Fandy Hutari mengatakan...

wew udah jadi artis :D

Sundea mengatakan...

Si Galih ? Yo'i ...

Anonim mengatakan...

Dea, saya senang menyumbangkan intro lagu salamatahari versi full band. Paduan gesekan Imam dan tiupan Irish tin whistlenya aduhai. (Peniup Tin Whistle)

Sundea mengatakan...

Pak Ono, makasih, ya ... lagu Salamataharinya jadi lucu bgt pake tin whistle gitu ^_^