Moksa Asap Teh Melati

“Hilanglah … dan takkan lagi ditemukan …”

sodaraan lho ini … tetapi saya menemukannya. Moksa adalah asap teh hangat yang mengepul dari dalam cangkir saya. Ia wangi melati dan putih-tipis ; berwujud tapi tak tersentuh. Sebelum teh saya sesap, ia lebih dulu mengirimkan ingatan akan nikmat teh melati yang manis dan hangat. Saya menghirupnya sampai ke hati. Sementara itu, melalui winamp laptop saya, menguap lagu Moksa dari band KarnaTra. Telinga saya pun menyerapnya. Sampai ke kepala.

Moksa dihantar oleh melodi gitar yang berulang seperti ritual. Ketika drum menghentak, ia tak menjadi gentar ; bahkan sengaja mendebat kegalakan drum dengan konsistensinya. Perdebatan ini menjinak saat lirik mulai bercerita dengan bahasa konvensional,

“Kau dengar, semua yang mereka katakan ? Semua …
Berdengung bak lalat sebar kebohongan … rekaan … ”

Si melodi ritualik kembali hadir – seakan ingin membenarkan – ketika lrik sampai di bagian ini :
“Apakah tiada tempat tersisa ?
Dan jika dunia benar tertutup rapat …” 

Selanjutnya reffrain dan berbagai instrumen menelannya. Ia pun membumbung dan melenyap seperti asap teh melati saya. Eh, iya … teh saya. Asap tak lagi terlihat meliuk meninggalkan cangkir, sepertinya teh saya sudah dingin. Saya pun buru-buru meminumnya dan … bleaaach ! Terlalu pekat ! Lupa pula saya beri gula !
“Berserulah, kita selamanya
Hilanglah melebur menjadi udara …”

Saya mencari sisa asap yang sempat memberikan nyaman teh melati ke hati saya. Mereka hilang. Lebur menjadi udara. Para asap yang menjaga kasih sayang teh melati sudah moksa ; menolak pekat, pahit, dan dingin teh. Moksa ; seperti melodi ritualik dalam lagu Moksa.
“Semua kutukan membakar telinga,
memaksa kita percaya yang tak kita percaya
rasakan yang tak kita rasa …”

Hei, tunggu dulu. Melodi ritualik itu tidak pergi jauh-jauh. Ia hanya mengubah susunannya sedikit lalu mewujud dalam seluruh lagu. Baru saya sadari, bunyi nada yang teruntai dalam Moksa pun mengalun seperti doa pada` ritual suku Indian. Meski dikemas dengan instrumen band masa kini, esensi transendentalnya tak tertelan sepenuh. Ketika saya memejamkan mata dan menyesap semacam senandung yang sayup terdengar di antara riuh musik menjelang akhir Moksa, saya seperti menemukan sebuah wujud yang tak tersentuh. Ada di bumi, namun tidak berpijak. 

Moksa dikunci dengan melodi ritualik yang sama dengan penghantarnya. Ditutup dengan kesunyian yang sama dengan pembukanya. Hidup adalah siklus. Tak ada yang sungguh lebur dan takkan pernah kembali.

Saya mendekatkan hidung saya ke cangkir. Tanpa mengasap, harum melati masih bersedia menyusup ke hidung saya; mengirimkan ingatan akan bunga-bunga putih yang dengan rendah hati bersedia meleburkan harumnya dalam nyaman teh. 

Melati tetap melati. Saya tahu bunga-bunga itu percaya pasti.
Sundea

Gratis mengunduh Moksa di sini
KarnaTra dapat disapa di :
CP : Bryan (021 – 93307942)

2 comments:

Aditya Naratama mengatakan...

Waaaa... speechless..

Sundea mengatakan...

Sama. Aku juga jadi speechless mo ngerespon comment kamu ... hehehe ...