Kemarin

andikaresized Kami bertiga duduk di sebuah ruangan bergaya klasik, mengelilingi sebuah meja bundar di mana buku-buku berserakan. Tak seorang pun yang berkata-kata. Di udara aroma perpisahan tercium begitu kental. Bernapas membuat dada menjadi sesak.
***
Kemarin saya dan teman baik saya bertemu dengan seorang kenalan yang sebentar lagi melanjutkan studi ke negeri kanguru. Ia minta dipinjami buku berbahasa Indonesia yang: “... menurut kalian bagus. Takut nantinya bahasa saya jadi ke-Inggris-Inggris-an.” Begitu kira-kira perkataannya.

Siang itu awalnya kami bicara macam-macam, termasuk soal bahasa dan sastra Indonesia. Tentang pentingnya bahasa Indonesia sebagai pemersatu, serta bagaimana sebuah bahasa dapat dijadikan alat untuk menguasai bangsa lain. Kami sempat pula membahas foto Dee di novel-novelnya. Foto yang, menurut si kenalan, sebelas-dua belas dengan foto-foto pre-wedding di undangan pernikahan. Lalu kami bicara, bicara, dan bicara. Meskipun begitu, makin lama makin sulit juga menemukan topik pembicaraan selain perihal kepergian dan keseharian berbeda yang akan segera dihadapi si kenalan itu ....

Kemudian saya dan teman baik saya memperhatikan tingkah polah kenalan kami. Ia adalah laki-laki kurus, berkacamata, dengan rambut yang sangat keriting. Hampir selalu kepalanya menunduk; entah ketika sedang membuka-buka halaman buku, atau sesekali memeriksa telepon selularnya. Hampir dua tahun kami mengenalinya. Ia datang suatu hari, memperkenalkan diri ke lingkaran menulis kami. Rupanya baik saya maupun ia sering menulis untuk sebuah perpustakaan di mana kami sama-sama menjadi anggota. Gampang merasa nyaman dengan kehadirannya. Memiliki suara renyah, selera humor, dan pengetahuan yang cukup tentang literatur klasik dan kebudayaan populer, ia nyaris tak pernah kehabisan basa-basi untuk mengisi keheningan yang canggung. Mungkin basa-basi ini juga yang membuat kami tak akan pernah benar-benar mengenalnya.

Siang itu kami bertiga menghadapi keheningan yang barangkali canggung. Si kenalan mencoba berbasa-basi, tetapi saya dan teman baik saya mementahkannya. Sesaat sebelum meninggalkan ruang duduk, kurang lebih ia berkata, “Kan nggak cuma kalian saja yang ngerasa sedih. Saya juga sedih, kok ....” Teman baik saya lantas menyahut, “Iya. Tapi elu sebentar lagi bakalan menghadapi sesuatu yang baru. Sementara kita yang ditinggalkan seperti mendapatkan pesan bahwa kita masih ada di sini, di tempat yang lama.”
***
Sambil bersalaman, dengan sedikit gemetar tangan kirinya memberi isyarat hormat. Saya dan teman saya mengantarnya sampai ke teras. Kami berdua duduk di sana sampai kenalan kami menghilang dari pandangan bersama dengan kendaraan yang dikemudikannya.

Saat ini saya mengingat gerak-geriknya yang santun, bau kecutnya saat sedang berkeringat, serta tulisan-tulisan pendek yang pernah ia bacakan …. 

Nama lengkapnya tertera di halaman terakhir buku-buku yang pernah dipinjamnya dari perpustakaan.
(Terima kasih, Nia. Buat makan siangnya yang agak sendu.)

Andika Budiman adalah mahasiswa, fasilitator Reading Lights Writer’s Circle, dan kontributor webzine Rumah Buku/Kineruku.

Penyalamatahari adalah teman-teman yang men-salamatahari dan menyalakan matahari.

3 comments:

Sundea mengatakan...

Sentimentil banget, Dik ... gua jadi sedih ...

We're gonna miss you, Ndra ...

Nia Janiar mengatakan...

"Kami berdua duduk di sana sampai kenalan kami menghilang dari pandangan bersama dengan kendaraan yang dikemudikannya."

... Lalu ketika kami tersadar, rasa sakit mulai sampai di dada.

widi mengatakan...

baca crita ini jd ikutan sedih aq.....