Bahu

“Just look over your shoulder, wherever you are ...”
-You’re Never Alone, Rick Price-

Di pinggir jalan tol saya melihat plang bertuliskan “Bahu jalan hanya untuk keadaan darurat”. Dibatasi garis kuning panjang, di sisi kendaraan-kendaraan yang melaju tanpa menunggu, ada juga yang butuh istirahat. Mereka bersandar di bahu jalan sebelum akhirnya cukup kuat untuk kembali menempuh perjalanan.

Bahu adalah anggota tubuh yang istimewa. Padanya kita menitipkan kelelahan, harapan, dan kepercayaan. Ia cukup kokoh untuk menopang sekaligus cukup santai untuk beristirahat. Pada bahu kita menemukan sosok yang dapat diandalkan.

Minggu ini Salamatahari.blogspot berbagi cerita tentang bahu. Ada matahari yang mengintip dari bahu awan hitam, ada bahu Bu Juminten yang menopang keranjang sate gendong dan ekonomi keluarga, serta ada bahu Kipas Angin yang menyediakan tempat melepas lelah bagi masyarakat Jakarta.

Apa yang pasti dalam hidup ini ? Saya hanya mengangkat bahu. Bahu jugalah yang kemudian membuat segala ketidaktahuan jadi ringan seperti udara.

Teman-teman, sandarkan lelahmu pada halaman ini
Semoga Salamatahari menjadi bahu yang dapat kau sandari dan meringankamu.
Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea

shoulders

5 comments:

Anonim mengatakan...

hay salamatahari.......

widi mengatakan...

hy...

widi mengatakan...

memang slalu membuatku mrasa hangat stlh brmain dng salamatahari........smoga ga akan nambah beban di bahu salamatahari kl aq bersandar suatu saat nanti....

akhirnya komenku muncul juga....hehe...^_^

Sundea mengatakan...

Sinar matahari bahunya panjang dan banyak, Wid ^_^

Selamat, ya ... iya, akhirnya berhasil juga ngepost comment di sini.

Siluman Rubah Regie mengatakan...

OOT ...

Dea .. we miss you ...