Asap

“Berserulah kita selamanya
hilanglah, melebur menjadi udara …”
-Moksa, KarnaTra-

Asap sate membumbung tanpa beban. Meski tak terlalu tinggi, ada keyakinan yang membuat kedirian mereka tetap tinggal sebelum lebur menjadi udara.

asepsate

Dengan berani para asap meliuk-liuk mencolok mata saya. Dengan percaya diri para asap memperkenalkan aroma rempah yang kuat ke hidung saya. “Saya ini punya jiwa merantau,” kata Bu Juminten, penjual sate gendong yang sibuk mengipasi satenya.

Sejak tiga puluh lima tahun yang lalu, Bu Juminten yang berasal dari Klaten sudah berdagang sate gendong di seputar Jalan Braga, Bandung. “Kenapa milih jual sate, Bu, bukan yang lain ?” tanya saya. “Ya … nggak tau. Sudah terbiasa saja,” sahutnya. “Terus … kenapa milih jualan di Jalan Braga ?” tanya saya lagi. “Ya … karena sudah terbiasa,” lagi-lagi ia menyahut, setengah tertawa.

Punggung dan bahu Bu Juminten pun sudah terbiasa menyandang begitu banyak beban. Di dalam keranjang anyamannya, berdesakan seisi dapur. “Ini rumit, Neng, soalnya, nggak bisa ngedadak. Bumbu-bumbunya juga lengkap di sini,” kata Bu Juminten sambil menepuk-nepuk keranjangnya.

Punggung dan bahu Bu Juminten pun menanggung beban-beban yang lainnya. “Suami saya jualan es. Tapi kalau musim ujan begini susah. Sekarang dia di Jawa,” cerita Bu Juminten. “Ibu nggak capek ?” tanya saya. Lagi-lagi Bu Juminten melontarkan pernyataan favoritnya, “Sudah biasa, Neng …”

bujum “O, tapi saya rajin minum jamu, Alhamdulillah saya masih sehat,” tukas Bu Juminten
“Jamu gendong, Bu ?”
“Iya, jamu gendong yang lewat.”
Saya tersenyum. Keteguhan bahunya ditopang oleh keteguhan bahu lainnya.

Setelah saya membayar tujuh ribu lima ratus rupiah untuk seporsi sate, Bu Juminten mengemas peralatannya. Terampil dan cepat. Seperti telah diungkapkannya berulang-ulang ; ini perkara keterbiasaan. “Mari, Neng,” pamitnya ringan. Beban yang ditopang bahunya seperti tak lagi membebani.
Asap yang sempat riuh mengepul saat Bu Juminten memanggang sate sudah sirna; terbiasa dengan semesta lalu lebur bersama udara mayoritas.

bujumjalan

... tetapi baunya tinggal di rambut saya hingga keesokan paginya.

Sundea

5 comments:

Ananda Badudu mengatakan...

cool..cool..
nyambungin cerita ama penggalan lagu di awal dan dia akhriny asik kadea..
btw emang ada rubrik khusus cerita2 ketemu orang di jalan yak? cerita si nenek yang suka mintal wool ama orang di angkot itu satu rubrik ceritanya kade?

Sundea mengatakan...

Iya, satu rubrik, Nan. Tadinya masuk rubrik "semacam opini" tapi kayaknya mau gua bikin jadi satu rubrik khusus aja, nih. Soalnya "Asap", "Mba Endang", dan "Oma Esther" kayaknya berbenang merah ...

Thank you, ya ...

widi mengatakan...

mengharukan sangat........

kita ga prnah tau kl 1 bahu itu memikul brapa beban.dan uniknya..1 bahu itu dikuatkan oleh bahu lain yg juga memikul beban lainnya.....

Sundea mengatakan...

Iya, Wid ... ternyata dalem idup kita selalu gitu satu sama lain. Mungkin gara2 itu muncul istilah bahu membahu ...

widi mengatakan...

bener2......stuju sm istilah bahu membahu-nya.......