Mengubur Penat Jakarta

Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta

“In your abandoned garden, beauty is unchanged …”
-Abandoned Garden, Michael Franks -

Asap kendaraan membebat jalan raya. Bising mesin mengunyah suara burung-burung. Bau sampah. Bau pesing. Bau debu. Emosi yang menggelegak cepat. Hidup yang mengalir tergesa. Penat. Jakarta.

Diam-diam sebuah tempat meredam hiruk pikuk itu. Dia ada di tengah Jakarta, namun mandiri menentukan kedamaiannya. Meski dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir, ia bisa menjadi tempatmu beristirahat sementara juga.


resizedsatu resizedtiga resizedempat










resizedua


kupingajah resizedserangga


resizedenam
“Sejak Agustus 2009 ada Perda (Peraturan Daerah) baru, Dinas Pertamanan dan Pemakaman yang tadinya pisah dijadikan satu,” jelas Pak Edi Nur Zaman, pengelola Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo. Area pemakaman memang dirancang sebagai tempat rekreasi. “Jadi orang kalau ke kuburan nggak (merasa) seram lagi. Lagipula enak kan, gratis,” tambah Pak Edi sambil tersenyum.

Harum rumput membungkus area pemakaman. Suara burung dan adzan Azhar mengulum bising jalan raya. Secara natural, nafas terhela perlahan. Kuning. Oranye. Putih. Hijau. Merah muda. Serangga dan tetumbuhan merayakan hidup. Tak ada yang bergerak terburu-buru karena kematian adalah titik istirahat. Tentram. Masih di Jakarta.

Selamat berwisata di Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo, Setiabudi, Jakarta. Lepas lelahmu di taman rahasia ini …

Sundea
foto : Ndit Naratama

2 comments:

Aditya Naratama mengatakan...

Ceritanya bagus.. atapi fotonya lebih bagus lagi-hi-hi-hi..

Sundea mengatakan...

Hahaha ... siapa, sih, emang yang motret ?