Menembus Dinding

-Gedung Kompas-Gramedia, Sabtu 12 Desember 2009-

Workshop Menulis Cerita Anak

Tidak harus menjadi hantu untuk menembus dinding. Beberapa pesulap hanya butuh trik.

Bagi para penulis, tidak harus menjadi hantu juga untuk menembus dinding dunia penerbitan. Mereka yang kerap patah hati ketika naskahnya ditolak hanya perlu beberapa tips dan trik. Hari itu, dalam “Workshop Produktif Menulis Buku Anak”, Ario Bimo Nusantara (editor Grafindo Grasindo ), Edi Warsidi (penulis cerita anak), dan Bang Aswi (penulis komik) berbagi trik dan tips untuk “menembus dinding”.

“Penerbitan adalah rumah. Editor adalah penjaga pintu yang mencari naskah dan penulis adalah tamu,” papar Bang Aswi sambil menggambar skema di white board. Menurutnya, menjalin hubungan baik dan mengenal banyak editor akan membuat upaya menembus dinding menjadi lebih lancar.

“Lalu bagaimana soal publikasi naskah ?” tanya Fujriani, salah seorang peserta yang hadir. “Sekarang penulis sendiri harus aktif memarketingkan karyanya. Kalau ada tamu, istilahnya kita jangan menyuguhkan kue, tapi buku kita,” kata Mas Edi Warsidi alias Mas Edwar.

Jangan malu-malu menjajakan buku di mana-mana. Jangan gengsi pula menanyakan “kabar” buku kita di toko-toko buku. Kalau perlu kita pun membeli buku kita sendiri sebagai pancingan dan mengimbau orang-orang dekat untuk ikut menanyakan kabar buku kita di toko-toko buku. “Gerakan” ini akan menentukan di rak mana si toko buku menempatkan buku kita. “Kalau buku kita sudah ditempatkan di rak yang terlihat, baru pengunjung ‘betulan’ membeli,” ujar Pak Ario Bimo.

Psst … dari serangkaian tips dan trik “menembus dinding” yang menyebar di sepanjang workshop, kira-kira inilah yang bisa dirangkumkan :

  • Rebut hati editor sejak pandangan pertama

  • Ketika memberikan naskah kepada penerbit, berikan gambaran sasaran audiens buku tersebut (misalnya, untuk anak usia berapa, untuk guru, untuk orangtua, dan lain sebagainya).

  • Gunakan paradigma baru saat menyerahkan naskah. Berikan naskah dalam format yang unik dan dengan cara yang mengesankan atau mudah diingat.

  • Meski diserahkan dengan cara unik, font dan layout harus tetap jelas terbaca.

  • Isi naskah harus dapat dipertanggungjawabkan

  • Jangan mudah putus asa !
Ketika Dea keluar dari ruang workshop dan masuk ke lift, tak sengaja Dea berpapasan dengan Mbak Indari, pemilik Indscript yang menyelenggarakan workshop hari itu. Ketika ditanya tujuannya mengadakan workshop, dia menjawab singkat tapi pasti, “Cari penulis.”

Psst … Indscript adalah lembaga yang menghubungkan penulis dengan penerbit. Menggunakan jasanya akan menjadi salah satu trik asyik penulis menembus dinding. Mau tahu caranya ? Silakan berkunjung ke http://www.indscript.com/indscript.html

Sundea
fotosemuanya

0 comments: