Mary Poppin dalam Heroin

Pernah membaca cerita klasik Mary Poppins ? Begini garis besarnya ; Mary Poppins adalah pengasuh anak-anak keluarga Banks. Ia berpakaian hitam-hitam, mengenakan topi hitam, dan selalu membawa payung hitam. Mengerikan ? Tidak sama sekali. Mary Poppins adalah pengasuh baik hati yang penuh kejutan ajaib. Ia datang ke tengah keluarga Banks dengan cara yang sama sekali tidak biasa.

Merespon surat dari anak-anak Banks yang dibakar lalu membumbung dan mengabu bersama asap cerobong, Mary Poppins terbang dengan payung hitamnya yang mengembang. Setelah ketibaannya yang tidak biasa, cerita mengalun …

Mary Poppins
“Mary Poppins”
gambar diambil dari sini
… dan pada suatu hari, sebuah lagu mengalun ke rumah saya. Ia yang mengenakan pakaian hitam-hitam terbang dengan payung hitamnya. “Saya Heroin,” ia memperkenalkan diri. Sekilas saya merinding. Pembawaannya seram. Namanya cukup cadas. Mungkin dia lagu metal.

“Saya datang untuk merespon surat kamu.”
“Surat yang mana, ya ?”
“Yang kamu tulis di kepala lalu menguap lewat pori-porimu.”
Seingat saya, saya memang sempat minta dikirimi teman bermain yang menghibur. Tapi masa iya yang datang cadas begini ?
“Ayo kita nge-fly.”
“Hah ? Ng … ”

Sebelum saya sempat menjawab, Heroin sudah menyambar tangan saya. Ia bergantung pada gagang payung hitamnya sambil mendekap saya seperti boneka. Kami berdua bergelantungan di udara, mengayun-ayun seperti bandul jam.

Heroin membuka larasnya dengan derap drum. Ia mengadopsi semangat mars tentara, namun melompat-lompat seperti anak-anak. Selanjutnya, ia mulai menyanyi, “Kusaksikan, detik-detik keruntuhan lara yang menahanku …”

Seramkah Heroin ? Ternyata tidak. Ia justru seperti bercanda dengan keseraman. Selain lewat derap drum dan kata “heroin”, di tengah-tengah lagu menyusup suara organ klasik yang jauh dari kesan rumah tua dan film-film vampire. Organ yang dimainkan mayor seperti secara natural terbawa kesan ria-ria uplifting yang sudah lebih dulu mengukuh pada Heroin sejak awal lagu. Saya merasa nyaman. Di bawah payung hitam yang menaung, saya merasa teduh terlindung.

Heroin tidak sulit dihafal dan mudah menular. Saya mulai ikut bersenandung. Lama kelamaan saya malah menyanyi lebih seru ketimbang Heroin sendiri. Sambil terbang melintasi apa saja saya terus menyanyi, mengalun dan mengayun bersama Heroin.

Langit menggulita. Badai seperti berusaha mencabuti bulu-bulu saya. Saya takut. Tapi Heroin yang bercanda dengan keseraman membuat badai punya sudut pandang baru. “Kita pakai payung dan kamu tidak melayang sendiri,” begitu Heroin selalu mengingatkan.

Alam mulai tentram ketika Heroin mengantar saya kembali ke rumah. Seperti digurat silet, saat itu mendung teriris, mendarahkan berkas-berkas sinar matahari. Dalam keseraman yang dipakai bermain, luka bisa menjadi harapan.

“Jangan pulang,” saya menahan Heroin yang hendak pergi lagi. Sambil menatap saya, Heroin tersenyum, “Pada prinsipnya saya tidak ke mana-mana, kok. Kamu kan bisa menyanyikan saya kapan saja …”
Heroin lalu mengembangkan payungnya. Kembali melayang. Mengalun. Terbang entah ke mana lagi.
Sepeninggal Heroin, saya kembali menyanyi,

“Kusaksikan detik-detik keruntuhan lara yang menahanku
Dan kusaksikan kau datang
Riang kau melangkah ringan tanpa beban seakan
baru saja dilahirkan
Kusaksikan kau datang!
Jatuh begitu keras
Kau terbitkan senyuman seperti heroin
Setara heroin
Kusaksikan mendung terbelah
Menyusup turunlah sinar terang
Jangan pulang, tinggallah
Menyaksikan tiba fajar
Ku jatuh begitu keras
Kau terbitkan senyuman seperti heroin
Setara heroin …”

Hei ! Pernahkah kamu menyanyikan sebuah lagu untuk lagu itu sendiri ? Saya pernah.

Saat itu pula saya menyadari bahwa senyuman itu tersungging perlahan. Ia terbit. Seperti fajar.

Sundea

Heroin adalah lagu garapan KarnaTra. Mau dengar ? Boleh, lho, berkunjung ke myspace KarnaTra di http://www.myspace.com/wearekarnatra

6 comments:

Aditya Naratama mengatakan...

Gua cuman bisa mengira-ngira bagaimana kak Dea menyanyikan Heroin dengan serunya, kadang sambil main piano, wuih!

Somehow.. sebuah lagu bisa ngasih kesan yang beda-beda.. apa iya cuma itu? Apa jangan-jangan lagu juga bisa mewujudkan sesuatu?

Gua bikin lirik Heroin based on sepenggal kisah yang diciptakan kepala.. dan satu-per-satu sekarang syairnya mewujudkan diri ke bentuk nyata..

Terimakasih Sundea atas reviewnya! Kami benar-benar bahagia!

Aditya Naratama mengatakan...

ini bryan lho, berhubung saya tidak punya akun jd numpang akun ndit aje yeh,

ogud pengen liat sundea bermain lagu heroin, tar klo ke bandung you mainin yeh.. heheh

lagu heroin bagi gw sangat special karena pas momentnya dengan datangnya heroin gw, seperti film 500 summer, heroin datang bukan karena takdir, tp karena kebetulan belaka, masih dari film 500 summer, sebenarnya apa arti kata love atau cinta?mungkin itu hanya kata2 yang di ucapkan seorang yang bodoh di suatu massa, namun tidak bisa menjelaskan apa makna dibalik kata tersebut, hanya sebuah penggambaran. begitupula dengan heroin, bagi gw heroin adalah penggambaran dari seseorang akan suatu realita yang terjadi.. hehe

M. Lim mengatakan...

bulu?

Andika mengatakan...

Dea, resensi2 elu nggak biasa. Seperti di tulisan yang lain, apa yang lu resensi hidup, berbicara. Kesannya memang manis, tetapi tidak menghilangkan kekritisan elu. Keren banget.

Sundea mengatakan...

@ Ndit : Lagu bisa jadi apa aja, Ndit ... gimana kitanya ... hehehe ...
Sama-sama. Gua seneng kita bisa saling ngerespon ^_^

Yuk ... kapan2 gua mainin di piano, elu nyanyi ya ...

@ Bryan : Sip, entar dimainin, deh ...
Wah, sayang gua belom nonton 500 summer.
Tiap lagu emang punya arti sendiri-sendiri buat orang, Bry. Kalo "Heroin" ada arti istimewanya buat banyak orang termasuk elo, berarti lagunya emang bagus ^_^

@Mirna : Merinding.

@Andika : Makasih, ya, Dik ... ^_^

Anonim mengatakan...

ahayy setelah sekian lama, gua kembali mengingat sundea dengan tulisan sehat nya. dan ternyataaa ketinggalan banyak ceritaa seruu euy.