Poros

Saya Si Putri, Si Putri Sinden panggung
Datang kemari menurut panggilan Anda …
Rata Penuh
… dan pada sebuah titik, di tengah belantara Pasar Malam Sumedang, Puteri Sinden Panggung itu adalah kuda sungguhan yang dijadikan komedi putar. Ia mengitar sebuah poros, nyaris tanpa jeda. Kostumnya meriah, penuh warna dan ornamen. Langkahnya terlihat genit, mengikuti irama “Puteri Sinden Panggung” remix yang terdengar rusuh dan pecah karena fasilitas sound system yang seadanya.

Anak-anak silih berganti naik ke atas punggungnya yang mengurva. Lampu merah, kuning, hijau, dan biru yang remang, silih berganti menerpa wajahnya saat ia berlalu. Sekilas mulutnya yang berbusa dan kepalanya yang tertunduk-tunduk tertangkap mata saya. Dia tak sepenuhnya menari; dia terhuyung-huyung hampir jatuh. Gelang neon merah yang melingkar di kakinya lebih terlihat sebagai peringatan bahaya ketimbang aksesoris, namun tak ada yang menyadari.

“Kasian, dia pasti capek dan pusing sekali. Liat, kayaknya dia udah mau muntah …,” komentar saya.
“Emang gitu, De, itu namanya kuda renggong,” sahut Ferry, teman saya.
“Emang gitu gimana ?”
“Emang gitu. Dia dididik kenal sama satu lagu, terus gerak ngikutin lagu itu selama lagunya diputer …”

Dari malam sampai pagi kulakonkan
Apalagi ada Mas Joko tersayang
Rasa cape jadi hilang …

Suara Uut Permatasari yang genit dan manja mengiris-iris udara. Lagu ini jelas bukan lagu gembira. Melodi tradisional Sunda dan chordnya yang cenderung minor punya jiwa mirip lagu blues; dekat dengan kesedihan dan ratapan. Lagu ini mencoba bersembunyi di balik beat dan aransemen remix yang dinamis, namun, kedinamisan itu tidak ekspresif. Ia adalah kegembiraan yang direkayasa; programik dan template-ik.

Lagu “Puteri Sinden Panggung” diputar berulang-ulang. Kuda pun berkeliling lagi dan lagi. Anak-anak berganti-ganti. Suara Uut Permatasari pecah di udara, menyebar dan baur dengan keriuhan Pasar Malam. Yang tinggal tetap adalah komedi hitam, menggandul pada poros komedi putar, memaksa kuda renggong terus menari-narikan keriaan yang direkayasa.

Penonton, salam cinta saya.
Saya Si Putri, Si Putri Sinden Panggung.
Datang kemari menurut panggilan Anda …

4 comments:

desty mengatakan...

kenapa harus lagu itu ya??
kasihan anak2 yg dengerinnya...

Sundea mengatakan...

Karena lagu itu emang ngewakilin perasaan kudanya, Des ... metafor selalu nemuin jalan nyesuain diri ma keadaan ...

Johan Tampubolon mengatakan...

.. karena ia menjadi poros, kah?
tengah memang terkadang menempati polar tak terduga; atau malah ia hanya jadi antara; Tidak dua-duanya.

Iya. Kejadian memang tidak selamanya berlabel satu. Yang sepintas terlihat sedih, bisa juga menyimpan geli; Begitu juga yang sekilas tampak manis, ia juga mungkin ironis.

Salam kenal, Dea (Begitukah harus saya panggil?). Ini kunjungan pertama saya. Saya belum membaca semua pos. Baru 2 :)
Ini dan "Jendela". Kuning :)
Sinkronisitas baik sekali. Ia mengijinkan saya mengintip satu sisi dari kata yang sering muncul disini: matahari. :)

Sundea mengatakan...

Salam kenal, Johan ...

Makasih banget commentnya, ya ... =D

Setiap hal emang nggak cuma terdiri dari satu sisi. Makanya tiap hal berharga buat dibaca ulang ^_^