Tentang Representasi Realitas

Pada suatu hari, sambil melompat-lompat kecil, saya main ke toko buku. Ketika mampir ke rak sastra, saya menyapa, “Permisi … sas …?” keceriaan saya mendadak hilang. Ternyata sastra adalah sekumpulan intelektual yang penuh permasalahan hidup. “Sas…tra …, ya?” lanjut saya setelah berhasil menguasai diri. “Benar,” sahut sebuah novel tebal dengan suara berat dan berwibawa. “Nama saya Dea, boleh … boleh kenalan ?” tanya saya takut-takut. Novel itu mengizinkan.

Selanjutnya, berkenalanlah saya dengan berbagai karya sastra. Kebanyakan dari mereka berbicara mengenai kemiskinan, kekerasan, politik, dan kesedihan mendalam. Beberapa dari mereka bertutur dengan indah berbunga-bunga. Beberapa lainnya absurt, mengumbar kata kasar, atau penuh terbaran refrensi dan istilah.

“Kenapa, sih, hidup kalian susah sekali?” tanya saya sambil mengerutkan kening.

“Karena kami menggambarkan realitas.”

“Memangnya realitas selalu berat dan susah-susah, ya?”

Sastra tidak verbal menjawab.

Pada suatu hari, di tengah rak sastra, saya mendapati bocah kecil sedang bermain sendiri.

“Dik, kesasar, ya? Tuh , anak-anak di rak sebelah sana …”

“Tidak. Aku karya sastra,” sahutnya.

Jadi saya tidak memaksanya pindah rak. Meski begitu, saya tetap mengamatinya baik-baik.

Namanya Membunuh Orang Gila, sebuah kumpulan cerpen. Dia ditulis Sapardi Djoko Damono, sastrawan senior yang juga akademisi. Sekilas saya menjenguk daftar isi; “Dongeng Kancil”, “Sarang Angin”, “Batu di Pekarangan Rumah” … seperti judul-judul cerita anak.

“Boleh Kakak kenalan, Dik ?” tanya saya

Bocah itu menatap saya sambil mengangguk. Matanya yang sendu seperti hujan sore-sore menggiring saya pada cerita “Ketika Gerimis Jatuh” (halaman 47).

Tersebutlah Rini. Gadis kelas lima SD. Pada suatu hari hujan turun dan Rini tahu-tahu mengkhawatirkan ayahnya yang belum pulang. Biasanya ibu Rinilah yang pergi menjemput sang ayah, membawakan payung. Tapi hari itu ibu Rini ada di Puncak, jadi Rini berinisiatif membawa payung, menjemput ayahnya.

Di sepanjang cerita, tersisip penggalan-penggalan yang menggambarkan latar belakang keluarga Rini; seorang ibu yang pegawai pemda bergaji kecil, paman yang tidak menikah, dan ayah yang pendiam. Rini sendiri tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berbudi; tertulis secara nyata di halaman 49,

Gadis kecil itu membayangkan sebuah hotel di Puncak, sebuah kamar yang nyaman, dan pemandangan yang indah. Tapi ia harus sekolah, harus mempertahankan rangkingnya yang lumayan tinggi.

Cerita ini disampaikan dengan liris. Ditutup dengan adegan Rini yang menunggu ayahnya sambil “mengusap air hujan seperti mengusap air mata”. Rini tampak kehilangan keceriaan dan kemerdekaan kanak-kanaknya. Atau … memang harus begitu karena ini cerpen sastra dan bukan buku anak-anak ?

Bagaimana dengan “Dongeng Kancil” (halaman 1) ? Judulnya yang khas cerita anak menarik perhatian saya. Cerpen ini diawali dengan seorang Aku lirik (-Ku dengan K besar) yang berjalan-jalan masuk hutan kemudian bertemu seekor kancil yang berkeluh kesah pada-Nya. Hidup Kancil tak semulus yang diceritakan Juru Dongeng. Pasalnya, semua makhluk yang seharusnya berhasil Kancil tipu, mengetahui muslihatnya dan malah balas memperdaya Kancil. Lucu sebenarnya. Namun, gambaran-gambaran ekspresi tertekan Kancil seperti :

Kancil duduk, mentap-Ku tajam-tajam, suaranya agak tertahan-tahan (halaman 2)

atau

Aku capek dan merasa bodoh dan putus asa (halaman 5)

membuat cerpen ini lagi-lagi pekat oleh kemurungan. Saya menghela nafas prihatin. Membunuh Orang Gila sendiri sepertinya telah menerima kemurungan sebagai nyawanya.

Terakhir, saya memasuki “Membunuh Orang Gila”, cerpen yang dipilih sebagai nama Si Bocah; sebuah black comedy yang mengusung masalah politik,

( … ) aku suka ingat masa kanakku di tahun 1950-an. Setidaknya ada lima orang gila di kampungku ketika itu (halaman 64).

atau

Yang jelas ia adalah korban reformasi (…). Sebelum zaman geger-geger ini, kata anakku, jarang sekali terlihat orang gila di jalanan (halaman 65).

Kedua kutipan itu menggambarkan kondisi politik serupa pada dua masa yang berbeda; yang pertama ketika Indonesia baru lepas dari pemerintahan kolonial, ke dua dari rezim orde baru. Secara satir, cerpen ini membicarakan orang gila-orang gila yang bermunculan di masa-masa itu. Masa ketika negara kita sedang mencari titik seimbang secara mandiri.

Saya mengamati Membunuh Orang Gila. Meski secara fisik masih anak-anak, gesturnya tidak. Semua yang dia lakukan penuh kesadaran dan perhitungan, jauh dari spontanitas dan mata positif khas anak-anak. Mungkin statusnya sebagai karya sastra membuatnya bertanggung jawab merepresantasikan realitas. “Orang gila tidak hidup dalam realitas,” kata seorang teman pada suatu hari. Mungkin itu sebabnya Membunuh Orang Gila harus membunuh orang gila yang ada di dalam dirinya.

Tapi … tunggu dulu. Sebetulnya realitas itu apa, sih ? Betulkah warnanya harus selalu kelabu ? Apa realistis berarti percaya dunia tidak selalu baik dan bermain-main ? Bagaimana dengan percaya bahwa dunia tidak selalu buruk dan serius juga ?

Yang mana yang realitas ? Sesuatu yang kita lihat, sesuatu yang kita sentuh, sesuatu yang sudah disepakati, atau sesuatu yang kita percayai ? Kitakah yang membentuk realitas, atau sebaliknya, realitas yang membentuk kita ?

Saat membuat tulisan ini, saya teringat pada orang gila yang sering berjalan-jalan di sekitar jalan Aceh, Bandung. Ketika mendapatinya menatap langit keruh dengan mata yang hidup, saya yakin dia hanya punya cara berbeda memaknai realitas ...

Bandung, 02 Oktober 2008

0 comments: