Unnamed

“…the other is the hidden death of my possibilities.”
Being and Nothingness,
Jean-Paul Sartre


Selama empat belas tahun Gadis Pantai hidup di perkampungan nelayan. Meskipun dimiliki orangtuanya, dalam kekanakannya Gadis Pantai tetap punya ruang untuk memiliki dirinya sendiri. Ruang itulah yang menjaga nafas Gadis Pantai, membuat Gadis Pantai tetap hidup. Selama empat belas tahun Gadis Pantai berhak atas keriaan dan kebebasan yang seharusnya memang menjadi hak setiap manusia.

Namun pada tahun ke empat belas, tiba-tiba Gadis Pantai diusir dari ruang hidupnya. “Ruang itu bukan milikmu, kami hanya meminjamkannya,” hardik bapak Gadis Pantai. Gadis Pantai ciut. Orangtua Gadis Pantai mengunci ruang hidup Gadis Pantai kemudian membawa Gadis Pantai ke sebuah tempat yang begitu asing.

Semesta di luar ruang hidup Gadis Pantai ternyata hampa udara. Gadis Pantai tak dapat bernafas. “Ruang itu kami kunci untuk kebaikanmu, Nak,” kata emak Gadis Pantai pada puterinya yang mulai membiru kehabisan nafas. Gadis Pantai tak melihat kebaikan pada dikuncinya ruangan itu. Dia tak lagi bisa bernafas, tak lagi punya kebebasan dan keriaan.

“Hidupmu akan kami serahkan kepada orang lain. Orang itu akan membuat hidupmu lebih baik,” kata bapak Gadis Pantai. “Ruang saya yang bapak kunci tadi? Ruang itu akan bapak serahkan kepada orang lain,” tanya Gadis Pantai. “Bukan hanya ruang hidupmu yang sepetak itu, tapi seluruh hidupmu, termasuk ruang-ruang yang tadinya milik kami,” kata bapak. “Jadi…jadi mulai besok bagaimana saya bisa bernafas, Pak,” tanya Gadis Pantai lagi. Bapak pun tidak tahu.

Kemudian Bapak dan Emak memberikan seluruh hidup Gadis Pantai pada seorang lelaki asing yang biasa dipanggil Bendoro. “Itu suamimu. Kamu sekarang miliknya. Ingat, Nak, untuk masuk ke ruang hidupmu yang sepetak itu pun kau harus meminta restunya,” pesan Bapak.

Sejak saat itu Gadis Pantai berada dalam semesta hampa udara. Makin hari makin jauh dia dari hidup. Bendoro tak pernah mengizinkan Gadis Pantai memasuki ruang hidup. Barangkali Bendoro memang membuat hidup Gadis Pantai lebih baik, tapi lebih baik dalam artian apa jika dia membunuh Gadis Pantai sendiri?

Pada suatu hari Gadis Pantai yang sudah zombie pulang ke kampung nelayan. Dia rindu pada kehidupan. Karena di kampungnya Gadis Pantai pernah merasakan kehidupan, dengan pulang dia berharap dapat hidup kembali, sebentar saja.

Namun apa yang Gadis Pantai dapat saat pulang ke kampung? Ruang hidupnya masih di sana, tapi dia tak bisa lagi memasukinya.

“Ingat, Nak, semua kunci hidupmu telah kami berikan pada Bendoro,” kata bapak Gadis Pantai. Dengan luka Gadis Pantai memandangi ruang hidupnya. Betapa perihnya melihat ruang itu rapat terkunci. Betapa perihnya memandangi kenangan menjadi manusia yang tertinggal di dinding dan pintu ruangan itu. Mata Gadis Pantai yang merindu mencoba mencongkel lubang kunci, tapi percuma. Bendoro tak akan membiarkan Gadis Pantai kembali masuk ke sana.

Sampai akhirnya kuasa Bendoro membunuh seluruh diri Gadis Pantai. Bukan hanya eksistensinya, tapi juga esensinya.

***

“Manusia tidaklah lain dari bagaimana dia menjadikan dirinya sendiri,” kata Sartre dalam Existensialism and Human Emotions. Manusia ada karena kesadaran akan dirinya; esensi manusia ada mendahului eksistensi.

Gadis Pantai lahir sebagai manusia, namun konstruksi sosial membentuk sebuah kuasa yang lebih kuat daripada kemanusiaannya. Nama adalah identitas dasar manusia dan ketidakbernamaan menunjukkan bahwa sesungguhnya Gadis Pantai tak pernah seutuhnya memiliki kemanusiaannya.

Menurut Sartre, manusia ada hanya sebagai organisme hidup yang amorfus (tidak mempunyai bentuk yang ajeg). Oleh sebab itu manusia menciptakan identitas melalui tindakan yang sadar, melalui pilihan dan keputusan.

Masih menurut Sartre, kebebasan manusia itu mutlak. Namun ketika manusia mengingkari esensinya dalam menciptakan identitas, Sartre menyebut mereka melakukan “bad faith”.

Bad faith adalah suatu keadaan yang dekat dengan penipuan diri, kesadaran semu, dan delusi. Ada dua jenis bad faith yang dibahas Sartre dalam Being and Nothingness; yang pertama, menyembunyikan diri dalam peran yang tampaknya tidak memberikan ruang untuk melakukan pilihan dan yang ke dua, berpura-pura menyamakan diri dengan benda, menjadi tubuh dan obyek dunia yang dapat diamati.

Kedua gejala bad faith ini dialami oleh Gadis Pantai. Gadis Pantai tampak terjebak dalam peran sebagai Mas Nganten, “istri” Bendoro. Sebagai “wanita utama”, setiap gerak Gadis Pantai ada aturannya, bahkan kata-kata yang harus diucapkan Gadis Pantai pun ada hafalannya.

“Sahaya menanggung Bendoro, rindu tiada tertahankan.”

Gadis Pantai mengulangi hafalan dari pelajarannya

“Apa kau harapkan dari kedatanganku? Emas? Berlian? Batik paling indah?”

“Tidak Bendoro, cuma keselamatan Bendoro.” Gadis Pantai meneruskan hafalannya dan jelas-jelas didengarnya derai ombak menjamah pantai menertawakan dirinya.


Gadis Pantai halaman 100-101

Meskipun pada awalnya terlihat seperti cara mengatasi masalah, menurut Sartre sesungguhnya bad faith adalah ketidakmungkinan ontologis. Pour-soi (subyek yang berkesadaran) tidak dapat menjadi en-soi (subyek yang tidak berkesadaran). Sekecil apapun, manusia selalu mempunyai ruang untuk menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas pilihannya. Hanya kematian yang memungkinkan pour-soi secara total membebaskan diri dari pilihan. Itu sebabnya Gadis Pantai saya kategorikan sebagai zombie, bukan mayat.

Walau melakukan bad faith, Gadis Pantai tetap mempunyai keinginan sendiri, seperti terlihat dalam kutipan-kutipan berikut,

Tapi mandi? Sepagi ini?

Ia takut berjalan seorang diri menuju ke kamar mandi. Tapi Bendoro lebih menakutkan lagi. Ia turuni jenjang ruang belakang berjalan menuju ke arah dapur.

Gadis Pantai halaman 34

atau

Ingin ia makan roti coklat itu barang sesayat lagi. Tapi Bendoro begitu sedikit makannya. Ah, roti itu mungkin yang terlampau enak… (…), ia meyakinkan dirinya. Bukan diri yang lapar, cuma perut ini memang tak tahu diri.


Gadis Pantai halaman 43

Mengindoktrinasi diri sendiri, seperti yang dilakukan Gadis Pantai pada kutipan ke dua merupakan cara manusia mendorong dirinya melakukan bad faith. Dengan cara itu manusia memaksakan pilihan di luar dirinya masuk ke dalam kepalanya, bersikap seolah-olah itu memang pilihannya sendiri.

Jika kemanusiaan dan kehidupan ditandai dengan pilihan-pilihan, menurut saya manusia yang dibunuh pilihan-pilihannya bukan lagi manusia hidup. Ketika dipaksa berhenti punya pilihan, seperti sudah saya tulis di atas, Gadis Pantai seperti ditarik keluar dari ruang hidup yang memungkinkannya bernafas. Pour-soi memang selalu punya “naluri” untuk memilih, untuk bernafas. Tetapi ketika segala kemungkinan pilihannya disumbat, manusia akan terbiasa menjalani kehidupan tanpa pilihan. Mati___ atau setidaknya lumpuhlah ____ kemanusiaannya.

Di kemudian hari, Bendoro membuang Gadis Pantai. Kembali diserahkannya kunci ruang hidup Gadis Pantai. Namun kemanusiaan Gadis Pantai sudah keburu lumpuh. Dia sudah keburu menjadi zombie. Mati.

***

Tapi…tunggu dulu…di akhir kisah,ada seorang perempuan yang sering diam-diam mengintip kediaman Bendoro. Secara jelas perempuan itu mengacu kepada Gadis Pantai. Akan tetapi kali itu narator tidak lagi dapat sepenuhnya menjangkau dan memaparkannya. Dia menentukan langkahnya sendiri.

“Aku berpikir, maka aku ada,” kata Descartes. Di luar narator, Gadis Pantai harus berpikir sendiri. Karena itulah, seiring ketiadaannya di halaman-halaman novel, saya percaya Gadis Pantai justru mengada di antara kita. Kali ini dia bebas menentukan pilihan; membentuk identitas diri yang utuh; membangun ruang hidup baru di antara ruang hidup kamu dan saya. Dalam kebebasan itulah Gadis Pantai menemukan esensi yang kemudian membangun eksistensinya.

Lalu bagaimana nasib Gadis Pantai sekarang? Saya juga tidak tahu. Mungkin dia tidak lagi dipanggil Gadis Pantai.

0 comments: