Dunia Adin

Judul : Dunia Adin

Oleh : Sundea

Ilustrasi : Triguntur

Penyunting : Andhy Romdani

Jumlah halaman : 264 halaman


Harga : Rp 39.000, 00



Penerbit : Read! Mizan

Isbn : 978-979-3828-565

format : 14,5 x 19 cm

kategori : cerita anak


--------

Adin adalah gadis kecil yang berusia enam tahun. Dia suka menggambar dunia di dinding kamarnya. Dunia Adin warna-warni dan kaya cerita. Di sana dia dan Coki, sahabatnya, pernah menyelamatkan seekor ikan yang hampir dimasak. Pernah juga bertemu penyihir yang ternyata bidadari. Adin juga pernah bermain dengan Dombiru, seekor domba berwarna biru. Pernah pula mewarnai melati jepang dengan spidol ungu.

Seorang teman tertarik pada dunia Adin. Dia pun mencatatkan keseharian Adin untuk kita semua. Setelah terlibat dalam keseharian Adin, mungkin kamu pun akan menemukan dirimu di sana. Lalu tanpa kamu sadari, dunia Adin tahu-tahu sudah menjadi duniamu juga.

Selaku Pengantar Dunia Adin


Tuhan memercikkan benih-benih bayi dari langit. Benih yang jatuh pada Ibu menjadi anak-anak, benih yang jatuh ke tanah menjadi bunga. ( Simon, 6 tahun )


Sebetulnya Dea sudah punya persepsi tentang anak-anak, tapi supaya lebih yakin dan bisa berbahasa seperti mereka, ketika memutuskan untuk menulis novel Dunia Adin ini Dea terjun ke tengah-tengah mereka. Dea melakukan observasi di SDK Yahya dan Sanggar Kreativitas Bumi Limas. Kemudian ….ctak! Anak-anak yang secara nyata berlari, tertawa, berbicara, bermain, dan bersentuhan dengan Dea seperti menyentil mind set Dea.

Mereka ternyata jauh lebih cerdas daripada yang Dea kira. Pada logika mereka yang tidak terikat pada klise-kilise dan stereotipe, terkandung kelirisan dan berbagai metafor yang bisa menonjok hampir semua persepsi tentang berbagai aspek kehidupan. Mereka menangkap macam-macam isu, bahkan isu politik yang sedang berkembang, lalu secara menakjubkan mampu menghubungkannya dengan keseharian. Mereka bisa membangun konsep Tuhan melalui cara berpikir yang sangat sederhana tapi ternyata filosofis. Mereka punya kecerdasan emosional untuk keluar dari persoalan. Tidak betul anggapan “anak-anak cepat melupakan masalah”. Mereka bukan lupa, mereka mengatasinya.

Waktu Dea sungguh-sungguh masuk ke dunia bermain mereka (betul-betul terlibat, lho, bukan sekedar menemani mereka bermain) terasa benar bahwa anak-anak adalah seniman yang kreatif dan produktif. Mereka bermain di mana saja dan kapan saja. Lingkup inspirasi mereka tidak dibatasi ruang dan waktu. Dalam semua permainan, mereka mensimulasikan kenyataan dalam kehidupan, seperti seniman merepresentasikan realitas pada ungkapan mereka. Melihat betapa dalam makna yang bisa dijaring dari kegiatan bermain di dunia anak-anak itu, Dea jadi percaya ada sebuah wilayah pada ekspresi seni yang berpangkal pada kesenangan bermain.

Dea percaya anak-anak makhluk yang cerdas. Itu sebabnya, Dea tidak takut menggunakan bahasa liris yang metaforis dalam menuturkan kisah Adin; Dea yakin anak-anak punya cara sendiri untuk memaknainya.

Karena…. Puisi tidak pernah jauh dari anak-anak .

Sebab… seluruh hidup mereka adalah puisi….

Salamatahari, semoga cerah…
Sundea

4 comments:

Michael Risdianto. mengatakan...

aku mencari cari bukumu tapi tak ketemu2...

Andalusia mengatakan...

salam kenal mba dea.
nama saya Andalusia. Saya sudah sering berkunjung ke blog mba dea. Saya senang dengan tulisan2 mba dea yang hangat, bersahaja, dan dekat dng kehidupan.
Saya juga sering liat mba dea di Tobucil, tapi malu untuk menyapa.
Saya mau minta izin, boleh kan blognya saya link ke blog saya??
makasih :)

adin mengatakan...

jadi penasaran sama bukunya. btw, namaku adin loh.. salam kenal ya.

nando.gino mengatakan...

Belum pernah denger bukunya. Tapi setelah membaca pengantarnya di blog ini jadi tertarik untuk membeli buku ini. Masuk daftar list buku yg akan dibeli bulan ini.