Here One Day, Gone One Night...

Beberapa waktu lalu Ikan Paus dan Dea lagi sering ngobrol random tentang musik pop. Kami ngebahas lagu “Lelaki Kerdus”, “Toxic”-nya Britney Spears yang ternyata kompleks kalau dibedah dengan teori musik, gaya nyanyi Tevin Campbell kecil di “Better You Better Me”, dan gaya nyanyi Joe McIntyre kecil di “Please Don’t Go Girl”, hingga sampailah Ikan Paus dan Dea kepada pembahasan tentang suara Michael Jackson. Kami jadi nelusurin lagu-lagu yang pernah dinyanyiin Michael Jackson dan akhirnya berenti di lagu “Gone Too Soon” karya Larry Grossman dan Buz Kohan.

Udah lama Dea suka sama lagu itu, tapi baru beberapa hari lalu Dea tau latar belakang “Gone Too Soon” versi Michael Jackson. Lagu tersebut adalah tribut Jacko untuk sahabatnya, Ryan White, penyandang AIDS yang meninggal sebelum lulus SMA. Konon persahabatan mereka cukup manis. Kata mama Ryan, Jacko nggak memperlakukan Ryan White seperti orang sakit, sementara Ryan White nggak pernah memperlakukan Jacko seperti selebriti. 

woodstockwhisperer

Pada taun 1984, Ryan White yang baru umur 13 terinfeksi HIV lewat transfusi darah. Saat ketauan mengidap AIDS, Ryan dikeluarin dari sekolah. Guru-guru dan orangtua murid nuduh dia macem-macem. Di masa itu stigma tentang HIV-AIDS memang masih parah banget, jauh lebih parah dibanding sekarang. Namun, Ryan White berusaha keras untuk sekolah lagi, nunjukin kalau dia sama kayak anak-anak lain, dan bertempur ngelawan stigma, perundungan, serta sistem pendidikan yang justru memperparah stigma itu.

Singkat cerita, Ryan akhirnya pindah sekolah. Di sana ada siswi yang mungkin posisinya semacem ketua OSIS, namanya Jill Stuart. Jill ngebantu Ryan sosialisasi, bahkan manggil tenaga medis profesional untuk ngejelasin tentang HIV-AIDS ke anak-anak. Setelah itu, anak-anaklah yang ngebawa pengetahuan tentang HIV-AIDS ke rumah dan ngedukasi keluarganya.

Ryan White sendiri kemudian sering jadi juru bicara AIDS untuk pendidikan dan penelitian publik. Dea nonton beberapa videonya. Anaknya cerdas, optimis, dan pikirannya jernih banget. Cari, deh, video-videonya. 

in.gov

Setelah divonis AIDS, sebetulnya Ryan White diprediksi tinggal idup enam bulan lagi. Tapi ternyata Ryan White masih bertahan sampai enam taun berikutnya. Umurnya tetep nggak panjang, tapi dia sempet ngasih kontribusi  penting ke sudut pandang dunia tentang HIV-AIDS, terutama terkait sekolah dan pendidikan. Begitu tau latar belakang perilisan lagu ini, “Gone Too Soon” jadi semakin berarti buat Dea.

“Gone Too Soon” adalah elegi yang nuansanya nggak duka cita-duka cita amat. Menurut Dea emosinya aneh. Meskipun nggak mengingkari sedih dan keilangan, secara keseluruhan atmosfernya tetep indah, manis, menyenangkan, dan ikhlas tanpa penyesalan. Liriknya nggak rumit, tapi dengan jeli nangkep momen sehari-hari yang kecil-kecil dan bersinar. Kadang-kadang Dea berharap, kalau suatu saat  meninggal, Dea dilepas dengan suasana begitu.  

Ikan Paus dan Dea jadi keidean untuk nge-cover “Gone Too Soon”. Kami sepakat bikin cover yang arahnya lebih “bercerita”. Nggak terlalu ngutamain kesempurnaan dan kecanggihan teknik vokal dan musiknya, tapi berusaha nyampein seluruh kisah dan emosi yang not-so-bittersweet ini seutuh mungkin. Ikan Paus juga ngusulin musik yang minimalis banget aja, cukup dengan piano. Di sela-sela waktu dan kegiatan sehari-hari kami diskusi tentang "Gone Too Soon" dan gimana cara lagu itu bertutur.

Sehari sebelum nyanyi Dea baca lagi lirik "Gone Too Soon" berulang-ulang. Dea nyoba cari informasi tentang Ryan White. Dea bersenandung sambil nyoba manggil ingetan-ingetan baik Dea tentang temen-temen yang udah nggak ada, terutama yang berpulang di usia muda. 

 

Begitu rekaman, Ikan Paus minta Dea nyanyi sekali take, nggak dipotong-potong atau ditambal-sulam biar feel-nya utuh. Ikan Paus juga nggak ngasih arahan teknis vokal sama sekali selama Dea nyanyi. Jadi hasilnya bener-bener seada-adanya, lepas, sepenuh hati, dan nggak perlu banyak dipikirin bener-salahnya.

Video klipnya adalah kolase footages dari Videezy, Mixkit, gif-gif dari Gifer, plus beberapa gambar dari Unsplash, pinterest, dan google. Meskipun sekadar mulung-mulung, semua gambar ini Dea susun sedemikian rupa supaya ngedukung seluruh persaaan dan cerita yang mau disampein.  Ini hasilnya:

 

Temen-temen, kali ini Dea nggak ngunggah blog di hari Kamis—hari keseimbangan. Mungkin idup memang nggak selalu seimbang, tapi nggak apa-apa. Kadang-kadang kenggakseimbangan itulah yang bikin kita tetep bergerak dan mempertemukan kita dengan makna-makna.

Hari ini, 6 Desember 2021, adalah hari ulangtaun ke-50 Ryan White kalau dia masih idup.

Selamat Hari AIDS Sedunia walaupun telat 5 hari.
Selamat hari ini, apapun yang akan kita jalani di waktu yang mungkin selalu kerasa “gone too soon”...


pinterest



Komentar