Bukan ke Jawa Tengah

: berkereta bersama Rectoverso

Dalam perjalanan berkererta api menuju Bandung, saya duduk bersebelahan dengan buku yang elegan. Punggungnya setegak pemain piano klasik. Geraknya anggun seperti ranting pohon cemara. Wajahnya dirias sempurna dan tubuhnya harum parfum mahal.

“Halo … namanya siapa ?” sapa saya.

Rectoverso.”

“Pasti bukan dari Bandung. Asli Jawa Tengah, ya ?”

“Jawa Tengah ?”

“Iya, abis namanya Rectoverso, bukan Rectaversa.”

Rectoverso tertawa. Renyah dan segar, namun tetap terkendali.

Sebentar kemudian kami sudah mengobrol. Dengan lancar, Rectoverso membagi kesebelas kisahnya kepada saya. Ia adalah buku yang beretiket dan sangat sadar ruang. Tuturannya mengalun teratur. Nafasnya harum mint dan bunga-bunga. Bahasa tubuhnya pun terpola.

Namun, keterlaluterpolaan ini membuat ia terasa maya. Meski cerita-cerita Rectoverso dekat, hangat, dan selalu menyimpan makna menggetarkan, kesenantiasaannya membangun drama __ terutama dalam bertutur __ justru menjarakkan. Puisi dan metafor adalah teman yang baik untuk menyampaikan makna; tapi jadi silau yang mengaburkan saat bertaburan terlalu meriah di hampir setiap cerita.

Salah satu cerita Rectoverso yang berbunga-bunga adalah “Aku Ada” (halaman 32-36). Dikisahkan dengan sudut pandang orang pertama yang hadir di sekitar kekasihnya dalam wujud surreal. Aku lirik tetap ada meski bukan sebagai raga. Aku lirik tetap berbicara meski hanya dengan bahasa perasaan.

Ada beberapa metafor klise yang justru mengurangi greget cerita, misalnya di halaman 34 :

Matamu berbinar, memantulkan semburat jingga di langit dan semburat cinta di langit hatimu (…). Kau masih ingin di sana, menunggu hingga senja tamat ditutup malam.

Padahal, ada pula metafor cemerlang orisinal yang mengena dan tepat sasaran, misalnya “akulah lautan yang memeluk pantaimu erat” (halaman 36) dan “menyusuri garisnya (pantai) seperti merunut urat laut” (halaman 32).

Untungnya, Rectoverso selalu tahu menutup kisahnya dengan apik. Ketrampilannya membangun drama justru jadi kekuatan di sini. Di penghujung “Aku Ada”, kekasih aku lirik akhirnya menyebut nama aku lirik, “Kirana …”. Rectoverso pun membubuhkan paragraf penutup,

Kali ini kau tidak mengucapkannya seperti perpisahan, bukan juga perjumpaan, melainkan sebuah kesadaran. Rahasia kecil kita berdua : aku tahu engkau tahu aku ada (halaman 36).

Saya mengamati teman baru saya. Tak tersangkal, ia cantik dan menarik. Sayangnya, agak sulit menemukan kecantikan naturalnya di balik make-up dan gestur yang sangat “John Robert Power”.

Kereta berderak memasuki stasiun kota Bandung. Rectoverso melongok ke luar jendela. “Saya sudah dijemput !” ujar Rectoverso saat melihat sekeping CD menanti di antara kerumunan. “Saudara kamu ?” tanya saya. “Saya makhluk hibrida,” ungkapnya sambil masih menatap Si CD penuh kerinduan, “Rectoverso adalah pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah, tapi sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi,” lanjutnya di halaman viii. “Tapi itu bukan bahasa Jawa ?” tanya saya. Rectoverso tertawa lagi, renyah dan segar, namun tetap terkendali. Kali ini ia menggeleng menjawab saya.

Rectoverso, kamu cantik sekali,” ujar saya.

“Terima kasih …”

“Tapi kalau saya boleh usul … jangan pakai make-up terlalu tebal. Kalau nggak proporsional, make-up bisa jadi make-down, lho …”

Rectoverso hanya tersenyum menanggapi.

Sebelum berpisah di gerbang stasiun, Rectoverso sempat memperkenalkan soulmate-nya kepada saya. Ia adalah sebelas lagu yang … hmmm … mungkin saya akan membahasnya dalam tulisan lain saja lain waktu.

Sepeninggal Rectoverso, saya kembali sendirian. Saya lalu belajar memahami bahwa rasa sepi juga drama. Meski ia pucat, tanpa make-up.

Di bawah langit ungu tua, saya menghirup bau nasi goreng yang bercampur dengan bau sampah, menikmati pendar petromaks yang sahaja namun optimis, membaca wajah-wajah yang berlalu lalang di sepanjang jalan …

Hari itu bukan Sabtu, bukan Minggu.


6 comments:

desty mengatakan...

Rectoverso juga menemani saya ke bandung waktu itu...hanya saya naik bus..

Baca rectoverso harus berkali-kali ya...biar bisa lihat wajah asli dibalik make-up nya...

Sundea mengatakan...

Kalau aku, sih, iya, Des ...

Sundea mengatakan...

Dear, kamu lupa menutup blogmu :)

eniwei, salam kenal, ya..

kapan2 mampir juga di blog saya:

http://dewikharismamichellia.blogspot.com

anak SSC-kah? :)

Sundea mengatakan...

Waduhwaduh ... makasih, ya, Dewi Kharisma ...

Dea bukan anak SSC.

Salam kenal juga, udah main ke blog kamu, lho, tadi ...

Btw, karena kamu ngetik pake account Dea juga, jadi berasa berkepribadian ganda gini saya ... hehehe ...

Kadek mengatakan...

Tuhan, tepat banget dea. rasanya setelah baca buku itu, ada sesuatu yang kosong tapi tak bisa saya jelaskan. semua tepat seperti yang dea gambarkan. jujur, saya lebih suka musiknya. hehehehe

Sundea mengatakan...

Wah ... seneng bisa ngewakilin suara hati orang juga lewat yg gue tulis, Dek ...=D

Soal musiknya, sejujurnya gue lebih suka lagu2 Dee di luar "Rectoverso". Gue suka "Satu Bintang di Langit Kelam", "Semua yg Terlambat", "Firasat", dan beberapa lagu dia yg lain; teks, nada, aransemen, pemenggalannya ... bener2 kayak satu cerita utuh.Ketepatan itu agak jarang gue temuin di lagu pop Indonesia pada umumnya.

Dee punya sense musik, bahasa, dan bercerita yg bagus banget. Cuma nggak tau kenapa di lagu2 "Rectoverso" ini kayak nggak utuh keluar, gitu ... ato mungkin gue aja yg ekspektasinya berlebihan. However, lagu2 "Rectoverso" sebenernya cukup ok, kok ...

Weleh ... panjang gini ... bisa jadi satu tulisan lagi, nih ..